Gaara Transforms Into Tree Stump - Naruto

Selasa, 08 Mei 2012

# KEEP MY EYES #

Di kala musim semi tiba, bunga bermekaran.
Indah... Seperti dirimu yang telah memiliki “mataku”.
Jangan pernah sia-siakan apa yang telah aku beri.
Karena aku sangat MENCINTAIMU...

Kecelakaan sore itu membuat jiwa Risa terganggu. Pasalnya selain kakinya yang patah, dia divonis buta seumur hidup bila tak ada pendonor mata. Pernah dia mencoba bunuh diri karena tak tahan dengan semua ini, namun berkat nasehat orangtuanya, Risa pun tak jadi bunuh diri.
Risa, adalah gadis berusia 18 tahun. Bersekolah di sebuah sekolah yang cukup terkenal di kotanya. Di kelasnya dia termasuk gadis yang berprestasi. Dia juga menyukai seorang cowok yang bernama Andro. Dan Andro sebenarnya juga menyukai Risa. Dia belum berani menyatakan cinta pada Risa karena dia tahu bahwa menjalin sebuah hubungan pacaran hanya dapat menganggu kegiatan belajar Risa. Dia tak mau beasiswa Risa dicabut karena nilainya jelek. Sungguh mulia sekali Andro, mengorbankan perasaannya demi cita-cita Risa yang ingin menjadi arsitek itu.
Pada suatu hari di sekolah, teman-temannya berniat akan menjenguk Risa sepulang sekolah. Tak lupa Andro juga akan menjenguk.

“Dro, kamu nanti ikut jenguk Risa, kan ?” tanya Dila.
“Pastinya ikut. Tapi kita beli buah-buahan dulu, ya.” kata Andro.
“Siap, Dro!! Semangat banget kamu, Dro. Hayooo… kamu suka sama Risa, ya?” goda Sasya.
“Yeee… kamu apaan, sih. Mmm… Ngomong-ngomong Risa sudah dapet pendonor belum, ya? Kasihan, kan, kalau belum.” tanya Andro.
“Wah, kalau itu aku belum tahu, Dro. Nanti kita tanya saja langsung.” kata Dila.
“Jangan! Itu hanya membuat Risa tambah sakit, kan, La.” jelas Andro.
“Kalau belum kamu mau apa, Dro? Mendonorkan matamu untuk Risa, ya?” tanya Sasya.

Terlintas perkataan Sasya barusan. Mendonorkan mata untuk Risa, apakah dia harus mendonorkan matanya demi Risa yang dia suka?, Pikirnya begitu. Namun, apakah orangtuanya setuju dengan tindakannya? Dan apakah Risa mau menerima donor dari matanya? Dan apakah Risa masih mau berteman, bahkan menjalin hubungan dengannya? Andro melamun.

“Dro?? Andro?” Sasya memanggil Andro yang melamun.
“Eh, maaf. Apa? Ada apa?” Tanya Andro.
“Bel sudah bunyi. Ayo masuk kelas.” Kata Dila.

Di kelaspun Andro masih memikirkan kata-kata Sasya. Tapi dia mencintai Risa. Dia tak mau cita-cita Risa kandas karena tak bisa melihat. Apalagi dengan kondisi ekonomi keluarga Risa yang berbeda jauh dengan Andro.
Pulang sekolah. Mereka pergi ke rumah Risa. Mereka membelikan buah apel kesukaan Risa.
Tiba di rumah Risa.

“Risa. Kamu baik-baik saja, kan ?” tanya Dila.
“Ya, beginilah, La. Doakan aku agar aku dapat pendonor mata, ya.” kata Risa.
“Tentunya, Ris. Kita akan mendoakanmu. Kita kesepian, Ris, ga ada kamu.” kata Sasya.
“Ya, apa boleh buat, Sya. Tuhan memberikan aku cobaan seperti ini.”
“Yang semangat, ya, Ris. Kami selalu ada untukmu.” Sasya memberi semangat.

Risa, Dila dan Sasya berbincang-bincang dan bercanda. Sedangkan Andro berbincang dengan orangtua Risa.

“Om, Tante. Apakah Risa sudah mendapatkan donor mata ?” tanya Andro.
“Belum, Ndro. Rumah sakit belum memberi kabar. Tapi kami ga berharap lebih pada rumah sakit. Kami akan mencarikan pendonor untuk Risa secepatnya.” jawab Ayah Risa.
“Mmm, mungkin tindakan saya akan ditolak dan pasti tak disetujui Om dan Tante, dan juga orangtua saya.” kata Andro.
“Memangnya tindakan apa yang hendak kau lakukan ?” tanya Ibu Risa.
“Sepintas, saya berfikir. Saya mau mendonorkan mata saya untuk Risa Om, Tante.” jawab Andro.
Mendengar itu, Ayah dan Ibu Risa tercengang. Dan mencoba mencegahnya.

“Om dengan senang hati, Ndro. Dan sangat berterimakasih padamu. Tapi kami tak mau menerimanya. Risa pasti juga tak akan mau menerima.” jelas Ayah Risa.
“Saya juga berfikir begitu. Tapi saya benar-benar ga' tega melihat Risa dalam kegelapan Om, Tante. Lebih baik saya yang merasakan kegelapan itu. Saya akan dapat melihat cahaya bila Risa dapat melihat.” jelas Andro.
“Tante ga' akan pernah mau menerimanya, Ndro. Jangan memaksa kami.” tolak Ibu Risa.
“Tapi saya akan tetap melakukannya. Permisi, Om, Tante.” Andro pamit pulang.

Dila dan Sasya juga pamit pulang 5 menit kemudian.

“Risa sayang.” kata Ibu.
“Ibu ?”
“Iya. Ada seseorang yang ingin mendonorkan matanya untuk kamu.” jelas Ibu.
“Yang benar, Bu ??” tanya Risa senang.
“Iya. Tapi kamu jangan senang dulu, ya. Dia masih ragu-ragu ibu pikir. Karena dia hanya memngirim pesan singkat.”
“Dasar tuch orang. Siapa, sih, Bu ?”
“Ibu juga ga tahu darimana dia tahu jika kamu butuh donor mata. Tapi ibu akan tetap mencarikan untukmu, sayang.” jelas ibu.
“Makasih, ya, Bu.”
“Ya, sudah. Kamu tidur dulu. Sudah malam.”
“Iya, Bu. Selamat malam.”

Di rumah Andro, Andro meminta ijin kepada orangtuanya.

“Ayah, Ibu. Andro punya satu permintaan. Tapi harus dikabulkan, lho.” kata Andro.
“Apa memangnya?” tanya Ayah.
“Tapi janji dulu, jangan marah. Jangan menolak, dan harus dituruti dan disetujui. Aku tidak akan minta-minta lagi jika permintaanku ini dikabulkan. Janji.” ancam Andro.
“Cepat, katakan saja, Ndro.” kata Ibu.
“Aku ingin mendonorkan mataku untuk Risa.” jawab Andro.
“Apa !!!!!!!!!” Ayah kaget.
“Ha !!!!!!!!” Ibupun juga.
“Jangan macam-macam kamu!” kata Ayah.
“Aku ga macam-macam, Yah. Ini permintaanku yang terakhir, dan aku ga akan meminta lagi. Janji.” kata Andro.
“Kamu mau mendonorkan matamu untuk Risa temanmu itu ?” tanya Ibu.
“Bukan teman, Bu. Tapi calon pacar.”
“Bagaimana, Yah. Ibu yakin dia akan terus memaksa. Ibu ga mau dia buta demi Risa, Yah.”
“Bu, aku ga buta jika Risa bisa melihat.” kata Andro.
“Apa kau yakin dengan tindakanmu ini ?” tanya Ayah
“Yakin, Yah. 100% yakin.”
“Apa kau juga yakin, jika kau buta, Risa akan berteman, atau bahkan mau menjadi pacarmu ?”
“Yakin. Dia orangnya baik, Yah. Aku mohon, Yah.” Andro sujud-sujud pada Ayah dan Ibu.
“Sekarang kita ke rumah Risa.” ajak Ayah.

Ayah, Ibu dan Andro pergi ke rumah Risa untuk membicarakan masalah yang sedang dihadapi.

“Begitulah, Pak, Bu. Andro terus memaksa.” jelas Ayah Andro.
“Kamu serius, Ndro ?” tanya Ayah Risa.
“Serius, Om. Saya sayang sama Risa.” kata Andro.
Tiba-tiba Risa keluar dari kamarnya karena mendengar perbincangan mereka.

“Ayah, Ibu. Siapa yang datang?” tanya Risa yang berjalan dengan tongkat.
“Aku, Ris. Andro.” jawab Andro.
“Andro ??” Risa kaget.
“Sini, Nak. “ kata ibu sambil menuntun Risa.
“Andro, ada apa kamu ke sini ?Tadi pulang sekolah, kan sudah, sama Dila, sama Sasya.” kata Risa.
“Memangnya aku ga' boleh main ke sini lagi, ya, Ris ?” tanya Andro.
“Boleh kok. Ibu, Ayah, sedang bebicara apa sama Andro?”
“Saya saja yang menjelaskan Om, Tante. Ris, aku punya kabar bagus.”
“Apa ?” tanya Risa.
“Ada pendonor mata buatmu. Ternyata dia sangat menyukaimu. Dia teman sekelasmu. Malah teman baikmu. Dia akan dengan senang jika kau mau menerima matanya.” jelas Andro, Ibu Risa dan Ibu Andro menangis.
“Yang benar, Ndro ?Siapa orang itu ?” tanya Risa.
“Aku ga' tahu, Ris. Tapi, kamu mau, kan menerima matanya ?” tanya Andro.
“Aku, sih, dengan sangat senang menerimanya, tapi siapa orang itu?” tanya Risa.
“Suatu saat kamu akan tahu jika kamu sudah bisa melihat. Kamu mau, kan menerimanya ?”
“Mmm, bagaimana, Yah, Bu ?” tanya Risa pada orangtuanya.
“Itu pilihan kamu, Ris.”
“Kamu harus menerimanya, Ris. Dia memaksaku agar kamu menerima.” kata Andro.
“Baiklah aku akan menerimanya. Dia minta balasan apa, Ndro?” pinta Risa.
“Dia ga' mau apa-apa, Ris, kecuali jika kamu mau dengan setia menemaninya.”
“Baiklah. Aku mau, Ndro.”
“Makasih, Ris.” kata Andro.

Lalu, esok harinya, Andro dan Risa siap operasi. Teman-teman yang lainpun dengan setia menunggu mereka di ruang tunggu. Ibu Andro yang masih belum percaya, anaknya begitu mencintai Risa bahkan dengan suka rela mendonorkan matanya untuk Risa.
Beberapa jam setelah operasi. Mereka berdua masih belum tersadarkan. Beberapa menit kemudian, Andro kebingungan. Dia tak melihat apa-apa, serasa pusing, dan gelap. Tapi dia bangga sudah bisa membuat Risa melihat indahnya dunia lagi.

“Ayah, Ibu. Gimana Risa ?” tanya Andro.
“Risa belum sadar, Ndro.” jawab Ibu.
“Semoga dia bisa melihat lagi dengan mataku.” kata Andro.

Beberapa menit setelahnya, perban di mata Risa dibuka. Risa membuka matanya perlahan-lahan.

“Buka matamu perlahan-lahan.” suruh dokter.
Dan ternyata, Risa bisa melihat lagi. Di sana ada Ayah, Ibu, Dila, dan Sasya. Dia mencari Andro. Tapi tak ada. Entah apa yang dipikirkannya, kenapa dia mencari Andro.

“Mataku.... Aku bisa melihat lagi !!” kata Risa, senang. Lalu memeluk ibu. “Tapi, bu, mana Andro??” kata Risa.
“Alhamdulillah, Ris. Kamu akhirnya bisa melihat lagi.” kata Dila.
“Andro...” jawab Ayahnya namun tak bisa menjawab.
“Andro kemana, Ayah ??” tanya Risa lagi.

Tiba-tiba, ada yang masuk ke ruangan Risa. Duduk di kursi roda, didorong oleh seorang ibu, diikuti seorang ayah, yang tak lain adalah Andro.

“Hai, Ris. Gimana, mata kamu?” tanya Andro dengan senyum.
“Andro ??” Risa menangis. Bahkan, semuanya pun menangis, kecuali Andro.
“Gimana, Ris ? Kamu sudah bisa melihat, kan ?” tanya Andro lagi.
Risa memeluk Andro. “Kamu... Jadi kamu, Ndro yang mendonorkan mata kamu buat aku?”
“Bukan, Ris. Tapi mataku ingin jadi matamu juga.”
Risa tak kuasa menahan airmatanya. “Jika aku tahu yang mendonorkan mata ini adalah kamu, aku akan menolaknya !! Dokter, aku mau buang mata ini !!!” Risa teriak-teriak sambil memegang matanya.
Ibu memeluk Risa, menenangkannya. “Risa, jangan lakukan itu. Jika kamu mau membuang mata itu, sama saja kamu ga' menghargai Andro.”
“Tapi...” kata Risa.
“Ris, tolong hargai aku. Aku senang jika kamu melihat lagi. Walaupun aku ga' bisa melihat, tapi aku ada kamu yang selalu menemaniku melihat indahnya dunia.” kata Andro.
Risa memeluk Andro lagi. “Aku janji, Ndro, aku akan selalu ada buat kamu. Aku janji.”

Dan akhirnya dengan peristiwa di rumah sakit itu, Risa sudah menjadi kekasih Andro. Bahkan demi menjaga Andro, Risa tinggal di rumah Andro.
Mereka pun menjalani semua dengan iklas.

Tidak ada komentar: