Gaara Transforms Into Tree Stump - Naruto
Tampilkan postingan dengan label cerita dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita dewasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

# LOVE YOU SO MUCH #

Braakk !!! Tak sengaja Syerin menabrak seorang cowok dari belakang dengan sepedanya. Cowok itu terjatuh hingga terluka, hanya lecet, sih, tapi dia marah-marah kepada Syerin.

Vino : “Woy !! Bisa naik sepeda tidak sih !!”
Syerin : “Maaf, astagfirullah, saya tidak sengaja. Maafkan atas kesalahan saya, mas.” ( kepalanya tertunduk, merasa bersalah )
Vino : “Maaf maaf. Memangnya dengan maaf lukaku bisa sembuh apa !!”
Syerin : “Lalu saya harus bagaimana mas ? Aduhh, tapi serius dah, saya tidak sengaja.”

Syerin menengadahkan mukanya, membuat Vino terpana. Wajahnya manis, matanya berbinar hampir nangis. Jantungnya berdegup kencang setelah melihat paras cantik ada dalam diri Syerin. Vino ingin tahu lebih dalam mengenai gadis itu, lalu Vino mempunyai ide.

Vino : “Kamu menginap di rumahku selama 3 bulan.”
Syerin : “Ha !! 3 bulan mas ??”
Vino : “Iya. Kenapa ! Kalau kamu tidak mau yaa urusanmu dengan polisi.”
Syerin : “Aduuh, jangan mas. Saya dari kampung, saya tidak punya keluarga di sini. Ini saja saya menginap di rumah Paman saya.”
Vino : “Bodo amat soal itu. Gimana ?”
Syerin : “Saya ijin dulu sama Paman saya, ya mas.”
Vino : “Kelamaan ! Sekarang cepat, boncengkan aku dengan sepedamu itu ke rumahku.”
Syerin : “Tapi Paman saya, mas. Saya harus menemui Paman saya agar dia tidak mencari saya.”
Vino : “Nanti biar itu aku yang urus.”

Vino terus memaksa. Akhirnya Syerin mau. Sebenarnya juga Syerin sedang mencari pekerjaan. Makanya dia datang ke kota, eh malah jadi begini. Tiba di rumah Vino. Rumahnya besar, tamannya juga besar. Maklum saja, Vino memang anak orang kaya, namun orangtuanya sudah lama meninggal. Kini dia pewaris tunggal dan kini memimpin perusahaan milik orangtuanya.

Syerin : “Wah, mas, rumahnya besar sekali.”
Vino : “Jangan panggil Mas. Panggil saja Vino.”
Syerin : “Oh, iya, maaf, Vino. Hahha... kaku mas.”
Vino : “Biasakan saja memanggilku itu !”
Syerin : “Iya iya. Jangan marah-marah, nanti cepat tua.”
Vino : “Hm. Sekarang, obati kakiku ini. Aku tidak mau infeksi.”
Syerin : “Oh, iya. Iya. Baiklah.”

Dengan setulus hati Syerin mengobati kaki Vino akibat kesalahannya itu. Sedangkan Vino malah dengan santainya menonton televisi. Tapi sesekali memandangi wajah Syerin yang polos dan cantik itu.

Vino : “Cukup. Oh iya, namamu siapa ?”
Syerin : “Oh iya, daritadi saya belum memperkenalkan diri. Kenalkan, nama saya Syerin.” ( mengajak salaman )
Vino : “Tanganmu kotor.”
Syerin : “Oh, maaf.”
Vino : “Bagus juga namamu, ya, Syerin.”
Syerin : “Terimakasih, Vin. Mmm, jadi saya di sini menginap ?”
Vino : “Yap. Tapi juga kamu jadi asisten rumah tanggaku. Kebetulan, pembantu sedang pulang kampung. Tenang saja, aku akan menggajimu.”
Syerin : “Mmm, ya kalau begitu aku mulai sekarang saja, ya Vin. Rumahmu benar-benar kotor.”
Vino : “Tunggu !”

Syerin hendak memulai membersihkan, namun ketika dia beranjak bangun dari duduknya, tangganya ditarik oleh Vino hingga hampir terjatuh, untung saja Syerin terjatuh di atas badan Vino. Wajah mereka berhadapan begitu dekat. Mereka terdiam saling mengagumi dalam hati.

Syerin : “Subhanallah.. Begitu indahnya mata mas Vino ini. Dari sikap kasarnya, ternyata ada sisi keindahan yang tersembunyi dalam mata mas Vino. Ganteng sekali, Ya Allah.”
Vino : “Gadis ini, kenapa jantungku berdegup kencang. Apa ini.”

                            Setelah lama saling memngagumi, Syerin tersadar, dan.............
Syerin : “Vino...”
Vino : “Eh, apa-apaan ini.”
Syerin : “Kamu duluan yang menarik tanganku. Jadinya aku terjatuh.” ( bangun )
Vino : “Ohh, maaf. Tadi aku mau meminta kamu untuk.... Mmm, menyiapkan handuk. Aku mau mandi.” ( Vino juga bangun dengan wajah malu ).
Syerin : “Oh, baiklah. Handuk ada di mana , ya ?”
Vino : “Ada di atas. Ambil saja yang warna biru.”
Syerin : “Baik, Tuan.”

Syerin mengambil handuk warna biru, dan memberikannya kepada Vino yang ada di dalam kamar mandi telanjang dada.

Syerin : “Kamu di dalam, Vin ??”
Vino : “Iya. Mana handuknya ?”
Syerin : “Ini.”
Vino : “Mana !! Masuk sajalah.”
Syerin : “Ha !! Masuk ?! Tidak, Vin. Jangan. Kita bukan muhrim.”
Vino : “Tidak apa-apa. Cepatlah ! Kalau tidak akan kutambah waktumu !”
Syerin : “Iya, baiklah.”

Perlahan namun pasti, Syerin memasuki kamar mandi yang tengah dipakai oleh Vino. Untung saja ada pembatas berupa plastik transparan, walaupun begitu Syerin tetap takut. Syerin memberikan handuk itu, namun karena rasa gugupnya, Syerin terpeleset dan akhirnya terjatuh.
Syerin : “Aduh,...”
Vino : “Kamu kenapa, Rin ?” ( dia keluar dari bak dan kali ini benar-benar telanjang )
Syerin : ( melihat Vino ) “Astagfirullah, Vin. Tutupi badan kamu. Cepat !!”
Vino : “Tidak apa-apa. Ayo bangun.” ( mengulurkan tangan ).
Syerin : ( bangun dan membalikkan badan ) “Kamu tidak malu apa, Vin ?”
Vino : “Tidak. Kan kelak aku juga akan memperlihatkannya kepada istriku.” ( memeluk Syerin )
Syerin : ( kaget ketika tubuhnya basah karena Vino memeluknya ) “Kamu....”
Vino : “Kamu cantik sekali, Rin. Entah kenapa, jantungku benar-benar bedegup kencang setelah melihatmu. Mungkin aku jatuh cinta padamu.”
Syerin : “Tapi... tapi kita baru berkenalan, Vin. Tidak mungkin secepat ini.”
Vino : “Aku merasa jauh mengenalmu setelah memelukmu.” ( mendorong hingga Syerin terpojok )
Syerin : “Vin, aku tidak bisa bergerak.”
Vino : “Maaf. Tapi aku ingin sekali memelukmu seperti ini. Aku ingin kasih sayang darimu, Rin. Selama 3 tahun yang lalu aku tidak pernah merasakan kasih sayang. Aku mohon, sayangi aku.”
Syerin : “Tapi tolong lepaskan aku, Vin. Aku tak bisa bergerak.
Vino : ( melepas pelukannya, tapi tangannya masih menahan tubuh Syerin ) “Cium aku.”
Syerin : “Ha !! Cium kamu ?”
Vino : “Aku mohon.”

Tubuh Syerin bergemetar, takut, dan gugup. Vino masih telanjang. Apa-apaan itu, sesuatu menyenggol perut Syerin. Wajah Vino maju sedikit demi sedikit siap-siap mencium bibir Syerin. Sedangkan mata Syerin merem karena baru pertama kalinya. Mereka hampir dekat, dan akhirnya mereka berciuman. Berciuman lama sekali, tangan Vino mulai turun, meraba tubuh Syerin. Dan membuka kancing baju Syerin. Karena Syerin tak bisa bergerak sedikitpun, maka dia pasrah saja. Asalkan Vino tidak mencuri strart. Vino memang cabul. Kini Vino lengah, dan siap-siap Syerin untuk melepaskan diri, dan akhirnya bisa. Segera Syerin menutupi badannya yang sudah terbuka itu.

Syerin : “Anak bodoh !! Syeriiiinnn !!! Kok bisa-bisanya sih bertemu dengan laki-laki macam Vino itu. Kenapa jadi seperti ini, aaahh !! Aku harus pergi dari sini. Kasihan Paman juga jika mencariku. Tapi aku pasti kena masalah, harus berurusan dengan polisi. Tapi aku kan tidak sengaja, lagipula luka Vino juga cuma lecet doang.”

Syerin pergi ke dapur. Menyiapkan makan untuk Vino. Mereka makan berdua.

Vino : “Rin, maaf ya tadi di kamar mandi.”
Syerin : “Oh. Iya, asal jangan diulangi lagi. Kalau mau seperti itu, menikahlah dulu. Nanti kamu dosa.”
Vino : “Menikah denganmu.”

Vino memulai lagi. Kedua tangannya menahan wajah Syerin.

Vino : “Kamu mau, kan menikah denganku ? Aku benar-benar jatuh cinta sekali padamu, Rin. Aku mohon. Aku janji dan akan kubuktikan, aku tidak akan melakukan ini pada gadis lain. Hanya kamu. Janjiku bukan janji manis. Aku benar-benar bisa tahu arti kasih sayang darimu ketika kamu mengobati kakiku tadi.”
Syerin : “Benar kamu sayang padaku, Vin ? Tidak bohong ? Aku tidak suka dibohongi, Vin.”
Vino : “Jika aku berbohong padamu sedikitpun, kamu boleh menganiayaku.”
Syerin : “Mmm, kalau begitu, kita harus kembali ke Paman, dan kepada orangtuaku di kampung.”
Vino : “Baiklah. Sekarang juga ayo kita kesana.”

Ternyata Vino memang benar-benar jatuh cinta pada Syerin. Bukan cinta sembarang cinta, cinta yang tulus datang dari dalam diri Vino yang cabul itu, tapi dia akan berubah.
Mereka pulang menemui orangtua Syerin. Setelah menjelaskan panjang lebar akhirnya orangtuanya merestui hubungan mereka.

Jumat, 22 Februari 2013

# LALLU, COWOK CANTIK part 2 #



Semenjak kejadian itu, teman-teman sekelas tidak ada yang mau berteman dengan Lallu. Hanya Ryo lah satu-satunya sandaran hati untuk Lallu. Tapi dia juga sudah merasa risih berhubungan dengan Ryo. Dia ingin merasakan jatuh cinta yang normal. Dia ingin bisa jatuh cinta dengan wanita. Dia ingin berhubungan dengan wanita, bukannya sesama jenis.

Lallu : “Mmm, apakah kamu ga' merasa risih melakukannya denganku, Ryo ? Kamu ga ingin melakukannya dengan perempuan ?”
Ryo : “Kamu sudah bertanya seperti itu ratusan kali, Lu. Kurang jelaskah aku menjawab ? Sudahlah, ini hanya akan membuat kita bertengkar.”
Lallu : “Tapi... aku ingin berhubungan dengan perempuan, Ryo. Setiap kali aku melakukannya, kadang aku merasa sakit. Sakit sekali.”
Ryo : “Tapi sesudah itu kamu tersenyum, kan ?”
Lallu : “Itu.. itu karena aku mulai menyayangimu. Tapi sekarang aku merasakan ada keganjilan yang terjadi di dalam hubungan kita. Bahkan teman-teman lebih menghinaku habis-habisan. Aku hanya ingin hidup normal.”
Ryo : “Jangan menyalahkanku sepenuhnya. Bukankah awal terjadinya karena kesalahan kakak-kakak perempuanmu yang mendandanimu seperti perempuan, bahkan kamu cantik walaupun tidak dandan. Tubuhmu juga mungil seperti perempuan.”
Lallu : “Tapi Ryo....”
Ryo : “Sudahlah. Benarkan, ini akan hanya membuat kita bertengkar. Kalau kamu bosan denganku, cari saja perempuan sana !!”

Mendengar Ryo yang kasar itu, Lallu menangis dan pergi meninggalkan Ryo yang sedang masak. Lallu pulang ke rumah. Namun di rumah hanya ada Yuka, kakak perempuannya.

Yuka : “Sudah pulang kamu, Lu ?”
Lallu : “Iya kak. Aku lelah. Aku mau istirahat dulu, ya kak.”
Yuka : “Tunggu.”
Lallu : “Ada apa, kak ?”
Yuka : “Kakak mau minta maaf kepadamu, Lu. Selama ini kakak salah. Kakak membuat kesalahan besar kepadamu. Seharusnya kakak ga seperti ini.”
Lallu : “Kakak ga' salah. Mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Aku ingin memulai dari nol, kak. Aku ingin memulai dari awal lagi.”
Yuka : “Baiklah. Akan kakak bantu kamu menjadi diri kamu sendiri.”
Lallu : “Tapi aku hanya ingin bisa jatuh cinta kepada perempuan, kak. Mungkin itu yang harus aku lakukan sekarang.”
Yuka : “Mmm, kalau begitu ayo kita jalan-jalan. Siapa tahu kamu bisa dapat cewek yang kamu sukai. Dan kamu bisa jatuh cinta kepada cewek.”

Ajakan Yuka tak mungkin bisa ditolak oleh Lallu. Selain karena Lallu sudah terlanjur suka jalan-jalan, dia juga hendak melakukan hal terpenting dalam hidupnya. Yaitu, jatuh cinta kepada wanita. Yuka mengajak Lallu jalan-jalan ke taman, mall, dan toko buku. Di sana Lallu menemukan banyak sekali perempuan cantik dan sexy. Tapi Lallu benar-benar belum bisa merasakan getar-getar cinta dan perasaan kepada cewek-cewek itu.

Yuka : “Gimana, Lu ?”
Lallu : “Belum bisa kurasakan, kak. Masih sulit. Walaupun mereka sexy-sexy tapi aku benar- benar tidak merasakan apa-apa.”
Yuka : “Tunggu sebentar, kakak tadi ketemu teman di sana. Tunggu, ya.”

Susah payah Yuka mencarikan perempuan untuk Lallu. Tapi ketika mereka berkenalan, teman Yuka tersebut malah mengira kalau Lallu cewek. Hati Lallu menciut lagi. Akhirnya mereka pulang ke rumah.
Sebulan kemudian. Hubungan Ryo dan Lallu kembali membaik, namun ketika Ryo mengajak berhubungan, Lallu dengan cepat menolaknya. Mencari alasan yang sekiranya pas. Namun suatu ketika Ryo menjebak Lallu. Ketika Lallu berkunjung ke rumah Ryo, minuman Lallu sudah diberi obat tidur. Dan tak berdayalah Lallu. Ryo mulai membuka pakaian Lallu. Yaaah, mereka melakukan lagi ketika Lallu tak sadarkan diri. Hingga Ryo merasa lelah, mereka berdua tertidur. Tak berapa lama Lallu terbangun. Terkejut, di sampingnya ada Ryo yang telanjang. Dan Ryo juga terbangun.

Ryo : “Kamu sudah bangun, Lu ?”
Lallu : “Kamu melakukan lagi, Ryo ??!”
Ryo : “Kenapa ? Kamu masih mungil, Lu. Aku jadi bersemangat.”
Lallu : “Kenapa kamu melakukannya lagi, Ryo ??! Padahal aku sudah mulai bisa jatuh cinta dengan cewek. Aku ingin berhubungan dengan cewek.”
Ryo : “Mana ada cewek yang mau sama kamu, Lu. Kamu mantan gay.”
Lallu : “Aku yakin pasti ada. Mulai sekarang lebih baik aku tidak berhubungan lagi denganmu, Ryo. Jangan hubungi aku lagi.”
Ryo : “Suatu saat, kamu pasti lelah mencari cewek yang mau denganmu. Dan kamu akan kembali kepadaku, Lu !!”

Lallu pergi meninggalkan Ryo yang benar-benar telanjang itu. Dilihatnya bagian itu, Lallu merasa ngeri. Hingga suatu ketika Lallu hampir bertabrakan dengan sesama pejalan kaki.

Lallu : “Eh, maaf, maaf. Maafkan kesalahan saya.”
Inka : “Oh, iya. Ga' apa-apa kok.”

“Pandangan pertama awal aku berjumpa.” Itulah yang Lallu rasakan ketika melihat mata Inka. Jantungnya berdegup sangat kenjang, darahnya mengucur deras, tulangnya leleh, tapi sesuatu yang ada di dalam tubuh Lallu tiba-tiba bergerak. Apa itu, perasaan apa itu, dia tak tahu.

Lallu : “Ada yang luka ga ?”
Inka : “Cuma di dengkul ini. Tapi ga' apa-apa kok, mbak.”
Lallu : “Mbak ?? Aku cowok.”
Inka : “Oh, maaf, maaf. Habisnya kamu kayak cewek. Rambutmu juga kayak cewek, apalagi tubuh kamu. Hehehe..”
Lallu : “Hmm, eh, itu lukanya mending diobati. Ayo ke rumahku. Cuma dekat sini, kok.”
Inka : “Ya bolehlah.”

Akhrinya Inka mau. Merasa bahwa Lallu adalah orang yang gokil, Inka tak masalah berteman dengan Lallu. Tiba di rumah Lallu. Rumahnya masih saja sepi. Keluarganya sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, apalagi orangtuanya. Dengan lembut Lallu mengobati Inka.

Inka : “Kamu sendirian saja ?”
Lallu : “Biasa, mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.”
Inka : “Kamu juga sibuk, kan ??”
Lallu : “Tidak juga.”
Inka : “Iya, ah. Kamu sibuk ngobatin kakiku.” ( tersenyum )
Lallu : “Hahah.. Bisa saja kamu. Eh, kita belum kenalan, kan ?”
Inka : “Oh, iya. Aku Inka. Kamu Lallu, kan ?”
Lallu : “Kok tahu ?”
Inka : “Itu ada foto keluarga kamu. Hehheh..” ( menunjukkan foto keluarga Lallu yang ada tulisan nama di masing-masing foto ). “Lucu, ya nama kamu.”
Lallu : “Tapi nama itu...................”

Lallu menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Yah, Lallu memang orang yang suka curhat dengan orang lain, orang asing sekalipun. Dia tak peduli curhatannya akan diumbar oranglain tersebut atau tidak.
Sebulan mereka berkenalan. Semakin hari mereka semakin dekat. Dan Inka benar-benar tak peduli dengan masa lalu Lallu. Masa lalu adalah masa-masa pahit yang pernah setiap orang alami. Bahwasanya Inka juga pernah melakukan hal yang sama-sama pahit. Yaitu makan pub kambing, karena dia mengira bahwa itu permen coklat.
Suatu hari, Lallu memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Inka. Dengan malu dan takut, juga canggung, Lallu mulai dengan kata-kata cintanya yang telah ia susun seminggu sebelumnya.

Lallu : “Inka.. terlepas dari masa laluku, sebenarnya aku mulai bisa jatuh cinta kepada wanita ketika aku melihat mata kamu. Indah, berbinar, dan serasa ingin kimemilikimu. Aku tak peduli, kamu mau menerima cintaku atau tidak, aku juga tidak sempurna. Jadi, aku cinta padamu. Maukah kamu menjadi kekasihku ? Aku berjanji aku tidak akan kembali ke masa laluku. Karena aku mencintaimu.”
Inka : “Aku tak peduli dengan masa lalumu. Kita jalani saja masa sekarang dan jangan merasa terbebani dengan apa yang telah kamu lakukan dulu. Anggap saja itu ujian sekolah tapi kamu gagal.” ( memegang pipi Lallu ). “Lu, aku... aku juga suka kepadamu. Aku mau jadi kekasihmu.”

Mendengar itu, Lallu merasa seperti terbang ke langit ke tujuh. Segar, sejuk, ringan, lepas dari beban, dan apapun itu Lallu senang. Namun, karena ingin sekali merasakan indahnya bercinta dengan cewek, tubuh Lallu mulai mendekat ke tubuh Inka. Inka tahu apa yang akan Lallu lakukan padanya. Inka memejamkan matanya. Dan Lallu pun mencium bibir Inka. Mencium lamaaaaa sekali. Lallu merasakan kenikmatan yang lebih dibandingkan bersama Ryo. Tangan Lallu mulai meraba tubuh Inka. Dan terjadilah adegan itu untuk pertama kalinya bagi mereka.

Sabtu, 05 Januari 2013

# LALU, LAKI-LAKI CANTIK #

Lalu, adalah seorang cowok imut dan berkulit putih ini ternyata memiliki sisi kehidupan yang berbeda dengan cowok-cowok biasanya. Dia benar-benar gemulai seperti layaknya cewek. Maklum saja, kebanyakan saudaranya cewek. Dia anak terakhir, dan kedua kakaknya pun cewek. Dia juga sangat beruntung karena keluarganya termasuk keluarga yang kaya.
Pada suatu hari di sekolahnya, seperti biasa teman-temannya selalu mengejeknya dengan sebutan cowok cantik, tapi ada saja yang sirik dengannya, menyebutnya banci sekolah. Tapi ada satu cowok yang bisa menerima kekurangan Lalu itu, dia bernama Ryo. Dan Ryo juga memiliki beberapa teman cewek, Mala dan Tya. Dan terjadilah cinta segiempat di antara mereka.

Ryo : “Sudahlah, Lu, nanti mereka jera sendiri, kok.”
Lalu : “Tapi setiap hari aku selalu dikata-katain sama mereka.” ( kemayu )
Tya : “Kamu harus bisa menghadapinya, Lu. Kamu itu cowok !”
Mala : “Jangan keluarkan airmatamu di hadapan mereka, Lu, kalau kamu tidak ingin dikata- katain mereka. Kamu harus kuat ! Tapi sebenarnya aku suka padamu ketika kamu masih SD dulu, yang selalu melindungiku, dan tidak kemayu seperti ini !!”
Lalu : “Itu dulu, Mal. Sekarang aku berubah seperti ini. Aku tidak bisa merubahnya.”
Ryo : “Kamu pasti bisa. Aku akan membantumu.”
Tya : “Aku juga akan membantumu, Lu.”

Mendengar itu mata Lalu memandangi mata Ryo. Mata Ryo memang indah dibandingkan dengan mata Tya dan Mala. Sejak saat itulah, Lalu menyukai Ryo, padahal mereka berdua adalah cowok. Sedangkan Tya juga dari dulu menyukai Ryo, dan Mala sejak SD sudah menyukai Lalu.

Di rumah Lalu, seperti biasa kakak-kakaknya mendandani Lalu bak model yang hendak melakukan pemotretan. Untung saja orangtuanya sedang keluar rumah. Jadi mereka bisa bebas mendandani Lalu.

Yuka : “Lalu, hari ini kamu pemotretan, sini biar kudandani.”
Lalu : “Pemotretan lagi, kak ?”
Yuka : “Iyalah. Alsa, sudah belum kameramu ?”
Alsa : “Sudah kok. Lalu sudah siap ?”
Yuka : “Sebentar lagi. Nah, sekarang kamu duduk di sana, Lu. Pose, ya.”
Lalu : “Ada yang ingin Lalu bicarakan ke kakak.”
Alsa : “Apa, Lu ? Jangan bilang kamu tidak suka seperti ini. Ini, kan salahmu sendiri, yang minta kami dandani seperti cewek agar kamu tidak kesepian pas kita kumpul karena kamu cowok sendiri.”
Lalu : “Tapi ini terbawa sampai ke sekolah, kak !”
Alsa : “Seharusnya kamu bisa menjaga tingkahmu yang kemayu itu !”
Lalu : “Aku ini budak kakak apa ! Yang setiap hari selalu di dandani seperti ini !!”
Alsa : “Sebagai anak terakhir kamu harus nurut sama kami !”
Lalu : “Aku tidak mau jadi budak kalian !” ( masuk ke kamar )
Alsa : “Dasar, anak bodoh !”
Yuka : “Al, mungkin kita terlalu keras mendidiknya seperti ini. Dia terlahir sebagai cowok. Hendaknya kita tidak berlebihan padanya.”
Alsa : “Tapi dari awal dia sendiri yang minta, kan, Yuka ?”
Yuka : “Ya, benar juga sih.”

Karena merasa menjadi budak kedua kakaknya, Lalu berniat kabur dari rumah, tapi lewat mana. Dan dia menemukan cara kabur, lewat jendela. Lalu pun kabur dengan membawa beberapa pakaiannya. Tempat pertama yang ia pikirkan tak lain adalah rumah Ryo. Sesampainya di rumah Ryo, orangtua Ryo menyambutnya dengan senang hati. Dan Ryo mempersilahkan Lalu untuk tidur berdua bersamanya.

Ryo : “Kok kamu kabur, sih ?”
Lalu : “Ceritanya panjang, Ryo.”
Ryo : “Dipendekin bisa tidak, hehhehe.”
Lalu : “Hahaha, kamu lucu.”
Ryo : “Biar kamu ketawa saja, Lu. Kulihat setiap hari kamu murung terus.”
Lalu : “Ya memang. Huft, kenapa juga aku jadi seperti ini. Sebenarnya ini salah siapa, sih !”
Ryo : “Sebenarnya aku tidak berhak untuk tahu urusan keluargamu, dan bukannya aku tidak mau tahu, aku hanya tidak enak hati jika aku ingin tahu.”
Lalu : “Tenang saja, Ryo, aku tidak akan menceritakan pada siapa-siapa. Termasuk kamu.”
Ryo : ( tersenyum manis ). “Ya sudah sekarang ayok tidur.”
Lalu : ( kaget ). “Berdua ?”
Ryo : “Iyalah, apa kamu mau tidur di bawah ?”
Lalu : ( menggelengkan kepala ).
Ryo : “Ya sudah ayok tidur, aku sudah mengantuk.”
Lalu : “Iya.”

Karena sudah mengantuk, Ryo langsung pulas tertidur sedangkan Lalu masih terbelalak matanya karena tidak bisa tidur. Ketika Ryo tanpa sadar memeluk Lalu, detak jantungnya berdegup kencang, dan darahnya seakan mengalir deras. Apa yang dirasakannya sungguh-sungguh berbeda. Tidak seperti biasa, didekati Mala ataupun Tya pun tidak separah ini. Mungkinkah dia jatuh cinta kepada Ryo yang sama-sama cowok ini ? Pikirnya begitu. Dan tanpa ragu juga Lalu memeluk Ryo.

Keesokan harinya, mereka terbangun. Karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 7, itu berarti mereka harus buru-buru, dan Ryo pun memutuskan untuk mandi bersama Lalu. Lalu kaget, apa-apaan ini. Kenapa Ryo menyuruhnya untuk mandi bersama.

Ryo : “Wah, kalau seperti ini kita bisa terlambat, Lu. Ayo, mandi bareng.”
Lalu : “Mandi bareng ? Ogah, ah. Aku malu.”
Ryo : “Ya ampun, Lu, aku tidak mengintipmu. Lagipula kita kan sama-sama cowok.”
Lalu : “Tapi aku malu, Ryo.”
Ryo : “Kamu mau kita terlambat ?”
Lalu : (menggelengkan kepala ). “Ya sudah, ayok.”

Takut terlambat, akhirnya Lalu mandi bersama Ryo. Mereka mandi bareng. Tak sengaja tubuh mereka bersenggolan. Ryo melihat tubuh Lalu yang mungil seperti perempuan itu. Sedangkan Lalu, baru pertama kalinya dia melihat tubuh anak SMA yang berotot seperti tubuh Ryo. Ryo tergoda dengan tubuh Lalu. Dan Ryopun mendekati Lalu yang benar-benar telanjang itu, bahkan mereka telanjang. Karena malu dan takut, Lalu menutupi bagian miliknya, tetapi Ryo malah semakin dekat. Dan Ryo menempelkan tubuhnya ke tubuh Lalu. Dan Ryo dengan berani mengajaknya berciuman.

Ryo : “Tubuhmu seperti cewek, Lu. Lucu.”
Lalu : “Mau apa kamu, Ryo ?”
Ryo : “Ayo, kita melewati pagi ini dengan kenikmatan.”
Lalu : “Apa maksudmu, Ryo ?”
Ryo : “Ikuti saja perkataanku maka kamu akan senang.”

Lalu diciuminya oleh Ryo dengan penuh nafsu, karena Ryo membayangkan Lalu adalah perempuan. Ya, memang Lalu memiliki tubuh yang mungil seperti perempuan. Ryo terus menerus menciumi Lalu. Bahkan dia mulai ke bagian badan Lalu. Dari atas hingga bawah telah ryo ciumi, tapi ketika Ryo mulai mencium bagian sensitif Lalu, Lalu pun mulai merasaknnya. Rasa yang tak biasa, rasa yang berbeda ketika dia mandi sendiri. Lalu mendesah kenikmatan.

Hampir satu jam mereka melakukan itu, dan terpaksa mereka berdua tidak berangkat sekolah. Orangtua Ryo tak tahu karena memang menurut mereka Ryo dan Lalu sudah berangkat sekolah. Rumah Ryo sepi karena kedua orangtuanya bekerja, dan kini mereka berduaan di rumah Ryo. Mereka sedang asyik menonton acar tv.

Lalu : “Sebenarnya tadi kita melakukan apa, Ryo ?”
Ryo : “Kamu tidak tahu ?”
Lalu : ( menggelengkan kepala )
Ryo : ( mengelus-elus kepala Lalu ) “Suatu saat kamu pasti tahu. Bagaimana perasaanmu ?”
Lalu : “Mmm, seperti itulah. Tapi …..” ( malu )
Ryo : “Tapi kenapa ? Bilang saja, tidak usah malu.”
Lalu : “Tapi aku menikmati juga, Ryo.”

Mendengar perkataan Lalu tadi, Ryo pun langsung mendekap Lalu. Dan mulai lagi melakukan apa yang mereka lakukan di kamar mandi tadi. Ryo menciumi telinga Lalu yang membuat Lalu merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ryo juga menciumi dada Lalu yang sedikit terlihat menonjol itu. Tiba-tiba saja, tanpa mengetuk pintu Tya dan Mala masuk ke rumah Ryo, dan kaget melihat apa yang dilakukan oleh kedua orang itu. Mereka berempat tercengang.

Mala : “Lalu, Ryo ??”
Tya : “Woy !! Apa-apaan kalian ini !”
Lalu : ( mengancingkan pakaiannya yang terbuka )
Ryo : ( gelagapan, tak bisa bicara )
Tya : “Kalian...........”
Lalu : “Ini tidak seperti yang kalian pikirkan.”
Mala : “Tapi kalian benar-benar seperti orang pacaran, bahkan lebih dari pacaran.”
Tya : “Apa sih yang ada di otak kalian ? Kenapa kalian seperti ini !! Woy !! Jawab, Lalu, Ryo !! Kalian ML ?? Sesama cowok ?”
Ryo : “Salahkah ?? Tidak, kan ?” ( jawabnya santai )
Mala : “Kalian tidak berangkat sekolah, dan malah melakukan ini ?”
Ryo : “Kutanya, salahkah ? Kalian juga bisa kok melakukannya seperti kita, sesama cewek.”
Tya : “Lebih baik kita pergi saja, Mala. Dan mulai sekarang kita tidak usah berteman dengan mereka. Mereka semua gila.”

Mala mengangguk mengiyakan Tya, tapi hatinya sakit. Cowok yang dicintainya sejak SD itu malah menjadi seorang gay. Tapi sebenarnya Ryolah yang gay. Dan sejak saat itulah Lalu benar-benar menjadi gay dan bercinta dengan Ryo, tak peduli apa kata orang, tapi dia benar-benar menikmati menjadi seorang gay.


Rabu, 21 November 2012

# ILUSI YANG MEMATIKAN #

Pagi itu, Riri yang sedang asyik main basket di taman melihat pengendara motor menabrak seorang pejalan kaki. Namun karena tidak mau bertanggungjawab, pengendara motor itupun melarikan diri. Karena posisi Riri yang paling dengan dengan tempat kejadian, tanpa ragu Riri menolong korban kecelakaan itu.

Riri : ( Panik, dan marah-marah ) “Wah, kurang ajar tuch orang ! Ga' tanggung jawab ! Woy, ke sini Lo !!!”
Reno : “Sudah, sudah, mbak. Saya ga' apa-apa kok.” ( Bangkit dari kuburnya, eh jatuhnya ).
Riri : “Lhoh, kak Reno ??” ( Reno, mantan Riri sewaktu SMA ).
Reno : “Oh, Riri. Lama ga' ketemu.”
Riri : “Wach, kalau tahu kamu yang jadi korban, sudah aku kejar tuch orang terus kupukuli hingga babak belur.” ( Dengan menunjukkan teknik beladiri ).
Reno : “Sudah, tenang saja. Cuma lecet gini. Ini mah biasa.”
Riri : “Ya tapi kudu diobati, Ren. Kalau ga' nanti bisa infeksi.”
Reno : “Iya, iya. Kamu masih perhatian seperti dulu, Ri.” ( Reno terlihat bergairah ).
Riri : “Mmm, lebih baik kakak pulang saja terus diobati.”
Reno : “Iya. Kalau begitu aku pulang dulu, ya.”
Riri : “Hati-hati, Ren.”

Beberapa menit sepeninggal Reno yang hendak mengobati lukanya, Riri melihat sesuatu jatuh tepat di tempat Reno jatuh tadi. Diambil, lalu dilihatnya. Sebuah foto perempuan cantik dengan pakaian yang indah dan terlihat sexy. Pikir Riri, mungkinkah dia pacar Reno ? Di belakang foto itu terdapat tulisan “Reno Love Dea, tunggu aku kembali.” Riri tercengang, apa-apaan ini, kenapa hatinya sakit seperti ini. Walaupun sudah putus, tapi Riri masih menyukai Reno. Padahal Riri sendiri sudah memiliki pacar, Dika namanya.

Keesokan harinya di tempat kerja, waktu jam makan siang Riri berbincang-bincang kepada temannya, Minny, menceritakan kejadian kemarin yang dialaminya.

Riri : “Gitu, Min.”
Minny : “Jadi orang jangan maruk, Ri. Kamu sudah memiliki pacar. Dia juga. Sudahlah. Jalan hidup kalian sudah berbeda.”
Riri : “Iya, aku tahu. Tapi aku bingung dengan hatiku. Setelah kejadian kemarin hatiku bimbang. Aku sayang sama Dika, dan juga aku masih sayang sama Reno.”
Minny : “Jangan bilang kamu pacaran sama Dika karena pelarian. Kasihan Dika, Ri.”
Riri : “Awalnya gitu. Tapi karena aku tahu Dika begitu sayang denganku, ya aku mulai menyayanginya. Bahkan sudah ga' memikirkan Reno lagi.”
Minny : “Menyukai oranglain yang telah memiliki kekasih boleh-boleh saja, kok, Ri. Asal jangan saling menyakiti.”
Riri : “Tapi aku bingung, Min. Nih nih, foto tuch cewek.” ( Sambil menunjukkan foto cewek yang bernama Dea itu kepada Minny ).
Minny : “Wach, kalau ini jelas Reno ga' salah pilih. Cewek ini cantik, sexy lagi. Haahha !!”
Riri : “Yeee !! Bukannya dikasih solusi malah ngeledek.”
Minny : “Habisnya aku bingung. Salah-salah nanti solusiku kamu juga yang marah sama aku. Aku kan ga' tahu apa-apa dengan hatimu. Cinta itu bukan seperti matematika atau IPA yang sudah pasti jawabannya. Tapi cinta itu seperti Bahasa Indonesia, yang harus dideskripsikan, diubah dari puisi ke prosa.”
Riri : “Gagal jadi guru, ya ?”
Minny : “Yee, sudahlah, kita makan dulu saja.”

Merasa kesal dengan Minny, Riri kembali ke meja kasir. Di sana dia masih memikirkan Reno, cinta pertamanya. Tiba-tiba handphone Riri berdering. Dari Dika ternyata.

Dika : “Hai, Sayangku.”
Riri : “Hai juga, Sayang.”
Dika : “Gimana, sudah makan belum ?” ( Setiap hari selalu mengingatkannya makan ).
Riri : “Sudah, kok. Tapi ga' habis. Menunya ga' enak. Kalau kamu ?”
Dika : “Aku juga sudah, kok. Ya sudah, kamu sehat-sehat ya di sana. Jangan nakal.”
Riri : “Kamu juga.”
Dika : “Pastinya. Ya sudah, seminggu lagi aku pulang, jadi kamu ga' kesepian lagi.”
Riri : “Iya, Sayang. Ya sudah, aku kerja dulu lagi, ya.”
Dika : “Iya. Selamat bekerja, Sayang. Daaa..”
Riri “ Daa...”

Dika memang sedang pergi keluar kota mengikuti orangtuanya yang sedang bisnis. Riri bisa bebas selama ditinggal pergi Dika. Tapi sebenarnya dia juga tak ingin menduakan Dika. Seminggu lagi Dika pulang, maka dari itu sebisa mungkin Riri berusaha dekat dengan Reno selagi bisa.

Jam pulang kerja akhirnya tiba. Dengan buru-buru Riri pulang. Tapi malah ban motornya kempes. Kebingungan Riri hingga mengacak-acak rambutnya. Tiba-tiba seseorang merapikan kembali rambut panjang Riri. Dengan belaian yang nikmat hingga membuat jantung Riri seakan berhenti. Reno memang orangnya agak bernafsu.

Reno : “Hai, Riri.”
Riri : ( Terrperangah ). Hah, Reno ?”
Reno : “Iya. Kenapa kaget gitu, sih ? Rambut sendiri kok diacak-acak.”
Riri : “Ban motor kempes.” ( Dengan imutnya sambil menunjukkan kepada Reno ).
Reno : “Kalau begitu ditambal saja.”
Riri : “Tambal ban dari sini jauh, Ren.”
Reno : “Kutemani hingga ketemu tambal ban, sekalian jalan-jalan.”
Riri : ( Langsung ceria ). “Yang benar ??” Eh, mmm... maksudku, ga' apa-apa ?”
Reno : “Lhoh, kenapa memangnya ?”
Riri : “Pacarmu.”
Reno : “Dia sedang ke Australia. Ada urusan yang harus dikerjakannya.”
Riri : “Oh, ya kalau begitu, ayok.”
Reno : “Oke.”

Dengan senang Riri berjalan mengikuti Reno yang menuntun motor Riri. Serasa kembali seperti beberapa tahun yang lalu ketika masih SMA. Betapa senangnya ia hari itu. Kebetulan sekali Dika sedang pergi, dan Dea juga keluar negeri malahan. Jadi dia bisa bebas bersama dengan Reno kapan saja. Walaupun dia juga harus berhati-hati dengan sikap Reno yang bernafsu tinggi itu. Riri memang tak cantik, tapi bibir dan matanya sangat menggoda. Riri memutuskan hubungan dengan Reno juga karena Reno menduakannya.

Ban selesai ditambal. Tapi Reno malah mengajak Riri jalan-jalan ke sebuah taman. Kapan lagi bisa bersama Reno jika tidak sekarang, walapun Riri tahu itu sangat menyakiti Dika.

Reno : “Rambutmu masih seperti dulu, Ri. Lembut.”
Riri : “Maklumlah. Perawatan.”
Reno : “Oh, wangi juga soalnya. Boleh aku mencium lagi rambutmu ?”
Riri : ( Terkejut, apa ini, jantungnya berdegup kencang ). “Mmm.” ( Mengangguk, mengiyakan ).

Karena diijinkan oleh Riri, tanpa ragu Reno menciumi rambut lembut Riri. Mulailah Reno dengan aksinya, bahkan ia hampir mencium bibir mungil Riri. Tapi Riri membuyarkan ilusi Reno.

Riri : “Mmm, Reno ?”
Reno : “Eh, mmm, maaf, Ri. Rambutmu benar-benar membuatku nyaman saat menciumnya.”
Riri : “Lebih baik aku pulang saja, Ren.” ( Beranjak dari duduknya ).
Reno : “Perlu diantar ?”
Riri : “Ga' usah. Aku kan bawa motor. Permisi.” ( Riri langsung pergi karena ketakutan ).
Reno : “Dasar. Riri, lihat saja, aku akan mendapatkan bibirmu. Dulu aku belum bisa mendapatkannya. Tapi besok, aku akan mengubah semuanya. Kutahu, kamu belum sekalipun berciuman.”

Keesokan harinya di tempat kerja Riri. Ketika itu Riri sedang melamun karena pengunjung hari itu benar-benar sepi. Sedangkan Minny sibuk dengan buku-buku yang hendak ia kemas ke dalam kardus karena sudah tak laku dijual. Tiba-tiba saja lamunan Riri buyar ketika seorang cowok mengagetkannya. Reno ternyata.

Reno : “Hey, ngelamun saja.”
Riri : ( Ketakutan ). “Oh, Reno. Ngagetin saja.”
Reno : “Habisnya kamu mengelamun terus.”
Riri : “Pengunjungnya sepi, nih. Ga' ada kerjaan.”
Reno : “Kalau gitu mau ga' antarkan aku nyari buku tentang musik ? Mau, ya.”
Riri : “Mmm, ya, baiklah.”

Riri tak tahu jika Reno hendak berniat jahat kepadanya. Reno memang maniak, jika belum mendapatkannya, maka ia akan terus mengejar hingga mendapatkannya.

Riri : “Kamu masih ngeband ?”
Reno : “Iyalah. Terus berusaha, siapa tahu jadi terkenal.”
Riri : “Yaa kalau sudah terkenal jangan lupain aku.”

Tangan Reno merangkul penuh nafsu kepada Riri. Riri memang tak secantik Dea, tapi bibir dan matanya begitu menggoda. Pas saja, tempatnya yang di pojok membuat Reno leluasa.

Reno : “Aku ga' akan pernah melupakanmu, Ri.”

Reno berkata demikian sambil mendekatkan bibirnya dengan bibir Riri, tapi belum berciuman. Reno mendorong Riri, dan membalikkannya sehingga mereka saling berhadapan. Reno menahan tubuh Riri dengan kedua tangannya yang berada di pundak Riri agar Riri tak bisa melepaskan diri,

Riri : “Kakak, apa-apaan, sih !!? ( Ia ketakutan ).
Reno : “Tenang saja, Ririku yang manis.”
Riri : “Lepaskan aku, Reno !”
Reno : “Jangan berteriak, Sayangku. Aku akan membuatmu merasa nyaman di dekatku lagi. Aku masih mencintaimu, Ri.”
Riri : “Maaf, Ren. Aku sudah memiliki pacar, kamu juga, kan ?”
Reno : “Kita bisa selingkuh. Backstreet seperti dulu.”
Riri : “Ga !! Aku ga' bisa. Lepaskan aku, Reno. Aku ga' bisa bergerak.”
Reno : “Tenanglah sedikit, Sayangku. Aku akan melepaskanmu setengah jam lagi. Riri, apakah kamu masih menyukaiku ??”
Riri : “Mmm, sebenarnya...........”

Belum sempat selesai Riri menjawab pertanyaan, langsung saja Reno mencium bibir Riri dengan penuh nafsu. Ingin berteriak, namun tak bisa. Dia benar-benar lemas hingga tak bisa berkutik. Mata yang tadi terbelalak, kini mulai terpejam merasakan nikmatnya berciuman, dengan Reno, mantan pacarnya. Riri masih kaku karena itu adalah ciuman pertamanya. Padahal Riri ingin memberikannya kepada Dika.

Reno terus menciumi bibir Riri. Bahkan kini tangannya mulai membuka kancing baju seragam Riri. Kancing pertama terbuka. Begitupun yang kedua. Tapi Riri tersadar, dan dengan sekuat tenaga mendorong Reno. Ia akhirnya lepas dari cengkaraman Reno.

Riri : “Apa yang mau kamu lakukan !!?” ( Sambil mengancingkan kembali baju seragamnya ).
Reno : ( Dengan mata tajamnya, memandang Riri penuh nafsu, mengelus-elus bibirnya sendiri )
Riri : “Apa yang mau kamu lakukan kepadaku, Reno !! ( Kali ini dia mengusap bibirnya, menangis ).
Reno : “Aku sayang kepadamu, Ri. Aku masih mencintaimu. Aku ingin kau jadi milikku lagi.”
Riri : “Dengan cara seperti ini !!?”
Reno : “Maafkan aku, Ri. Tapi bibirmu begitu menggodaku. Aku ga' bisa menahannya.”
Riri : “Mulai saat ini jangan ganggu aku lagi. Aku benci kamu, Reno !!” ( Menampar pipi Reno dan pergi meninggalkannya ).
Reno : “Gadis kecil yang kaku. Kini bibirmu telah kudapatkan. Manis juga ternyata rasanya. Jadi ingin menciumnya lagi.

Karena kejadian itu, Riri mengalami trauma. Kemanapun Riri pergi harus ada yang menemani. Dan kini Dika telah kembali. Sempat merasa kecewa kepada Riri, tapi karena cintanya yang besar kepada Riri, Dika memaafkannya. Dan bahkan dalam waktu dekat ini Dika akan melamar Riri.


**Gomenne... Gomenne.... Kalau ceritanya sedikit sara. Tapi aku bosan nulis cerita tentang cinta-cinta yang monoton, kalau cerita tentang horor takut malah kejadian. Dan cerita seperti ini paling banyak responnya. Sekali lagi GOMENNE.... Ini hanya cerita, jika ada kesamaan nama, tempat dan alur mohon dimaafkan.**