Gaara Transforms Into Tree Stump - Naruto
Tampilkan postingan dengan label cerita horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita horor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2012

# ORANG YANG DI TENGAH #


Pada suatu hari, ada 4 cowok yang sedang berlibur. Mereka adalah Sora, cowok berkacamata yang tidak bisa bererang, Yuko, cowok cool dan kalem, Iru, cowok penakut yang kerap dijahili, dan Yoshiki, cowok yang hobi sekali nonton film horor. Mereka berlibur di sebuah sungai yang memiliki arus besar karena mereka hendak rafting, karena memang keempatnya suka olahraga tersebut, walauopun begitu ternyata Sora tidak bisa berenang.

Pada suatu malam ketika mereka mendirikan tenda untuk beristirahat, Sora yang tadinya hanya ingin menggoda Iru dengan bercerita......

Sora : “Apakah kalian pernah mendengar, jika pada suatu malam ada seseorang yang sedang berkemah seperti kita mendengar suara langkah kaki. Tek... Tek... Tek... Setelah seseorang itu membuka tendanya, di depannya ada seorang wanita dengan mengenakan pakaian putih dan berambut sangat panjang.”
Yoshiki : “Hantu wanita ??”
Sora : “Ya, hantu wanita ada tepat di depannya.”
Iru : ( Tadinya ketakutan ) “Ah, mana mungkin. Itu hanya mitos.”
Sora : “Tidak. Itu benar-benar kejadian. Wajahnya sangat putih pucat. Dan hantu itu berkata pada seseorang itu, jika dia akan menghantui siapa saja yang tidur di pinggir. Hey Iru, dia akan mengantuimu. Kamu, kan tidur di pinggir.”
Iru : “Ha ?? Kau jangan menakutiku, Sora. Kamu selalu begitu padaku. Mentang-mentang aku penakut kalian suka mengerjaiku.”
Yoshiki : “Ngomong-ngomong kalian pernah melihat hantu sebelumnya ??”
Iru : “Belum. Dan yang pasti aku ga' mau.”
Yoshiki : “Aku juga belum. Sini aku tunjukkan bisikan hantu seperti apa.” ( Yoshiki mengerjai Iru dengan membisikkan suara-suara hantu ke telinga Iru ).
Iru : “Waaaa !!! Kau ini apa-apaan, Yoshiki !!” ( Semua tertawa karena Iru ketakutan ).
Yuko : “Hey hey, apakah kalian yakin adanya hantu ?”
Yoshiki : “Kamu ini bicara apa, Yuko ? Hantu itu mitos. Lihat, kasihan Iru sudah ketakutan begini. Hahhaha !!!”
Semua : ( Tertawa karena Iru benar-benar ketakutan ).
Yuko : “Hey, jika aku mati aku akan mengantui kalian yang tidur di tengah. Hahhaha !!!”
Sora : “Aku berdoa semoga kau mati, Yuko. Hahha... Damaiii.”

Sora, Yuko dan Yoshiki tertawa, sedangkan Iru masih ketakutan. Malam pun berganti menjadi pagi hari sekitar jam 9.Mereka siap-siap untuk rafting. Mereka sudah siap semua dan let's him, mereka berangkat. Mulai dengan yang tanpa arus. Mereka masih saja berbincang-bincang, karena memang mereka sahabat sejak SMA. Dan terpisah ketika kuliah. Sora pergi ke Hokaido, Yoshiki pergi ke Mia, Iru meneruskan kuliah yang masih di kotanya sekarang, dan Yuko tidak kuliah, dia lebih senang membantu mencari nafkah untuk keluarganya.

Iru : “Sekarang kita menghadap ke utara, ya ?”
Sora : “Lihat peta, jangan lihat kompas.” ( Sambil pelan-pelan mendayung ).
Yoshiki : ( Berdiri di perahu karet ) “AKULAH RAJA DUNIA !!”
Sora : “Kau ini benar-benar gila, ya. Jangan berteriak di tempat seperti ini, Yoshiki !”
Yoshiki : “Kenapa memangnya ?”
Sora : “Nanti ada hantu yang mengejarmu. Hahahha !!” ( Masih ingin mengerjai Iru ).
Iru : “Jangan mulai lagi. Walaupun siang-siang seperti ini aku juga takut.”
Yuko : “Kau kan memang penakut, Iru. Hahhaha !!”
Sora : “Penakut penakuuutt. Hahahaha !!!”
Iru : “Terserahlah. Hey, Yoshiki, duduklah, nanti kita jatuh.”
Yoshiki : “Takut jatuh, ya ? Hahhahahah !!!”
Sora : ( Melihat arus yang kencang ). “Lihat, arusnya !”
Yoshiki : “Ayo kita mulai !!!”

Arus yang curam sudah ada di depan mata. Dengan penuh aksi mereka berempat hendak mengalahkan arus tersebut. Belokan demi belokan yang tajam bisa mereka lewati. Yuko yang duduk paling belakang juga ikut berteriak-teriak, padahal dia begitu kalem dan cool-nya. Tapi karena kecerobohan Yoshiki yang duduk paling depan dia berdiri lagi sambil berteriak-teriak. Iru dan Yuko mengingatkan agar Yoshiki duduk, tapi tetap saja Yoshiki tidak mau duduk. Akhirnya mereka terjatuh dan tenggelam, namun karena Iru, Yoshiki dan Yuko bisa berenang mereka selamat, tapi kemana Sora ? Pikir mereka. Iru melihat pelampung Sora, tapi kemana orangnya.

Iru : “Sora !! Sora !! Kemana kau !!”
Yoshiki : “Sora !!
Yuko : “Sora kemana ?”

Mereka bertiga terus memanggil-manggil Sora. Tapi Sora tak nampak juga. Dengan keberanian diri, Yuko terjun lagi untuk menyelamatkan Sora. Beberapa menit kemudian Sora terselamatkan, sedangkan Yuko entah kemana. Kali ini mereka memanggil-manggil Yuko, tapi tak muncul juga. Sudah seharian mereka mencari Yuko, dan malam pun tiba. Mereka kembali ke tenda, duduk di depan api unggun, Sora meratapi kepergian Yuko ditemani Iru, sedangkan Yoshiki sudah tidur pulas di tenda.

Sora : “Aku merasa bersalah, Iru.”
Iru : “Sudahlah, ini sudah terjadi. Yuko telah pergi.”
Sora : “Tapi gara-gara menyelamatkanku dia yang malah tenggelam.”
Iru : “Lalu, apa dengan bersedih seperti ini Yuko akan kembali ?”
Sora : “Entahlah. Tapi aku berharap Yuko akan kembali dengan selamat.”
Iru : “Kau lihat tadi arusnya sangat deras, mana mungkin dia bisa selamat, apalagi sekarang sudah gelap. Tenda kita juga terpencil letaknya. Sudahlah, ayo kita tidur.”

Tanpa pikir panjang Sora mengikuti Iru masuk ke tenda. Di tenda Sora belum tidur juga karena teringat perkataan Yuko malam kemarin, jika dia mati, maka dia akan mengantui yang tidur di tengah. Karena memang tempatnya sudah penuh. Yoshiki tidur di pinggir di mana malam kemarin Yuko yang menempatinya, sedangkan Iru sudah pada posisi semula, di pinggir sebelah kiri.

Iru : “Kau kenapa belum tidur, Sora ?”
Sora : “Kalian ingat malam kemarin yang dibilang Yuko ? Jika dia mati, maka dia akan menghatui yang di tengah.”
Yoshiki : ( Terbangun ). “Kau percaya dengan perkataan Yuko kemarin ?”
Sora : “Iya jelas. Lebih baik kita tidur seperti semula. Yoshiki, kau di tengah kan ?”
Yoshiki : “Hey, ini tempat semula. Sudahlah tidur saja. Yuko tidak akan kembali.”
Iru : “Dia akan kembali menghantui Sora, karena gara-gara Sora dia mati.”
Sora : “Jangan balas dendam mengerjaiku, Iru !”
Yoshiki : “Kalian hanya terbawa situasi.”
Sora : “Kenapa kau tidak tidur di tengah, Yoshiki ? Apakah kau takut ?”

Malam semakin kelam. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk tidur membentuk segitiga. Namun mereka tidak bisa tidur juga. Kepala Iru yang berhadapan langsung dengan kaki Yoshiki memukul kakinya karena bau yang tidak enak.

Iru : “Bau kakimu benar-benar membuatku mabuk.”
Yoshiki : “Bau, ya ? Maaf, deh.”
Sora : ( Mendengar suara langkah kaki ). “Hey, dengar, ada yang datang.”
Semua : ( Terbangun ).
Yoshiki : “Suara apa ? Ga' ada suara, kok.”
Sora : “Dengarkan baik-baik.” ( Berteriak ) “Siapa itu ?? Yuko ? Kaukah itu ?”

Tiba-tiba ada yang membuka tenda mereka, dilihatnya ternyata Yuko. Dia keliahatan pucat dan tubuhnya sangat putih dan dingin. Mereka bertiga senang Yuko kembali.

Sora : “Yuko !!” ( Memeluk ). “Akhirnya kau kembali juga.”
Yoshiki : “Bagaimana kalu bisa kembali ? Di luar sangat dingin dan gelap.”
Iru : “Hangatkan dulu badanmu Yuko. Sepertinya kau kedinginan.”
Yuko : “Iya. Aku kedinginan.” ( Bicaranya dingin dan hanya menunduk ).
Yoshiki : “Hebatnya kau tidak terluka sedikitpun. Masuk dulu dan ganti pakaianmu, Yuko.”

Melihat keanehan yang terjadi pada Yuko, Iru dan Sora merasa aneh pula. Kenapa Yuko diam saja dan seperti hantu. Pikir mereka. Malam kian larut, mereka tidur di posisi awal. Yuko paling kanan, dilanjutkan Sora, Yoshiki dan Iru. Sora takut dan sedikit bergeser ke kiri. Sora membangunkan Yoshiki dan mereka berbincang-bincang di luar tenda.

Sora : “Apakah kau tidak merasa aneh dengan Yuko ?”
Yoshiki : “Aneh kenapa ? Sudah syukur dia kembali dengan selamat, kan ?”
Sora : “Tapi dia keliahatan pucat. Seperti orang yang sudah mati.”
Yoshiki : “Kau mendoakan Yuko mati ?”
Sora : “Tidak. Tapi dia aneh, kan ?”

Sedangkan di dalam tenda, Iru bermimpi tubuh Yuko goyang-goyang dan mengeluarkan darah, di telentangkan tubuh Yuko dan wajahnya hancur. Iru terbangun dan menyusul Sora dan Yoshiki ke luar.

Sora : “Kau terbangun, Iru ?”
Iru : “Ada yang aneh dengan Yuko. Aku bermimpi buruk tentangnya.”
Yoshiki : “Kalian itu yang aneh. Sudahlah, Yuko sudah kembali, tak ada yang aneh.”
Iru : “Dia kembali tapi jika dia ingin balas dendam pada kita karena kita meninggalkannya, bagaimana ?”
Yoshiki : “Jadi yang ada di dalam itu setannya Yuko yang hendak menhantui kita ?”
Sora : “Stop. Sudah sudah. Aku mau pipis. Ada yang mau pipis juga ?”

Tiba-tiba Yuko bangun dan juga ingin pipis.

Yuko : “Aku juga ingin pipis.” ( Bicaranya masih dingin )
Yoshiki : “Sora, tuch Yuko juga mau pipis.”
Iru : “Sana di dekat sungai, kalau di sini nanti pesing.”

Dengan rasa takut Sora berjalan bersama Yuko menuju sungai untuk pipis. Tiba-tiba tubuh Yuko berkeringat sangat banyak. Akhirnya mereka sampai di pinggir sungai dan pipis.

Sora : “Tubuhmu mengeluarkan banyak air, Yuko. Apa kau ga' kedinginan ?”
Yuko : ( Tetap diam tak menjawab ).

Tiba-tiba Sora melihat tubuh seseorang mengambang di sungai. Karena dia mengira Yuko telah mati, dan yang kini bersamanya adalah setan Yuko dengan sekuat tenaga Sora berlari menuju tenda. Di dalam sudah ada Yoshiki dan Iru yang hendak tidur.

Sora : “Aku lihat !! Aku lihat !! Tubuh Yuko mengambang !! Yuko sudah mati !!”
Yoshiki : “Yang benar kau ini ??”
Iru : “Jangan mengada-ada, Sora !!”
Sora : “Aku serius !!”

Tiba-tiba ada yang hendak membuka tenda lagi, dan Yuko lagi. Hantu Yuko kini menghantui mereka bertiga.

Sora : “Yuko, jangan ganggu kami. Hidupmu sudah berbeda dengan kami !!”
Iru : “Yukooo,,, pergilaaahh !!” ( Ketakutan ).
Yoshiki : “Kalian ini ada-ada saja. Yuko kedinginan di luar. Sini biar kubukakan.” ( Dia membuka tenda, dilihatnya wajah Yuko, menakutkan !! Dan Yoshiki menutup lagi tendanya ) “HUWAAAA !!!”
Semua : ( Berteriak ) “HUWAAAAAA !!!!”
Iru : “Benar, kan. Dia kembali !!”

Yoshiki membuka jendela tendanya dan di sana wajah Yuko sudah nampang. Tenda mereka terbalik dan hancur. Mereka bertiga berlari, Yoshiki dan Iru berpisah dengan Sora. Kacamata Sora terjatuh, dan seseorang mengambilkannya, setelah memasang kacamata dilihatnya di depannya ada Yuko, Sora kembali berlari dan akhirnya menemukan Yoshiki dan Iru di tepi sungai.

Sora : “Aku melihat lagi. Dia benar-benar mengantui kita.”
Yoshiki : “Lebih baik kita pergi dari tempat ini. Ayo kita naik perahu karet.”
Sora : “Tunggu ! Yuko !! Yuko !!”
Iru : “Ya ampun Sora, kenapa kau malah memanggil Yuko lagi ??”

Tiba-tiba Yuko menampakkan dirinya berseberangan dengan Sora, Yoshiki dan Iru.

Yuko : “Kau memanggilku, Sora ?”
Sora : “Yuko, hidup kita berbeda denganmu. Sana pergi tinggalkan kami. Lihat ini tubuhmu !!” ( Sora menunjukkan tubuh kaku Yuko mengambang di sungai, tapi Iru melihat tubuh itu bukan tubuh Yuko, melainkan tubuh Sora sendiri. Semua terkejut ).
Iru : “Sora, itu tubuhmu.” ( Bicaranya gagap )
Sora : “Ha !!” ( Terkejut ) “Ha, kenapa... Kenapa bisa ?” ( Dia melihat 2 tubuh lainnya juga mengambang ). “Itu !!!??”
Yoshiki : “Itu tubuhku, dan tubuhmu, Iru !!?”
Sora : “Berarti kita semua......?”
Yuko : “Aku sudah berusaha memberitahu kalian, tapi kalian masih saja berlari dariku. Kenapa kalian berlari ? Apakah kalian takut !!!”
Sora : “Jadiii... jadi kita semua sudah mati ?”
Yuko : “Ya, benar. Jadi apakah kita masih bersahabat ??”

Mereka bertiga tak sadar jika selama ini mereka telah mati. Dengan perasaan masih takut, shock, dan ngeri, Sora, Iru dan Yoshiki mengangguk menyetujui persahabatan hantu mereka. TAMAT !!

Sabtu, 19 Mei 2012

# IN THE WATER #

Kala itu aku menyanyi bahagia
Bernyanyi penuh suka cita
Dan aku bergembira
Mencari sahabat yang akan menemaniku sepanjang masa

Di suatu kota yang sangat ramai penduduknya, ada satu rumah yang tak berpenghuni. Rumah itu kosong sejak beberapa bulan yang lalu karena penghuninya menjual rumah tersebut karena alasan tersembunyi. Di sana sepi, dan gelap. Tapi bersih karena memang ada penjaganya.
Pada suatu hari, ada sebuah keluarga yang hendak mencari tempat tinggal. Dan mereka menemukan rumah tersebut. Keluarga tersebut beranggotakan Ayah dan Ibu yang masih cukup muda. Dan seorang anak perempuan bernama Olive yang usianya 8 tahun. Begitu masih kecil.
Sang Ayah bertanya pada pak penjaga.

Ayah : “Permisi, Bapak. Rumah ini dijual ?”
Pak penjaga : “Oh, iya. Rumah ini dijual. Bapak sekeluarga mau menempati rumah ini ?”
Ayah : “Sebenarnya kami mau mencari kontrakan, Pak. Tapi kami ga' menemukan.”
Pak penjaga : “Tempati saja dulu rumah ini. Masalah pembayaran itu belakangan. Anak Bapak kelihatannya sudah lelah.” ( sambil tersenyum kepada anak yang tampak cape itu ).
Olive : “Iya, aku cape, Yah.”
Ibu : “Tempati saja dulu, Yah. Kasihan Olive.”
Ayah : “Ya sudah, kami mau menempati rumah ini Pak. Lalu pembayarannya ?”
Pak penjaga : “Masalah itu belakangan saja, Pak. Sehari ini Anda boleh menempatinya dulu. Besok pagi saya ke sini. Mari saya antar.”

Akhirnya keluarga itu menempati rumah kosong tersebut. Di dalam benar-benar seperti istana. Maklum saja, rumah itu besar, bertingkat, dan bersih. Tapi ada satu ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Jika ada yang masuk, maka ia akan celaka. Bahkan Pak penjaga juga dilarang memasukinya.

Ayah : “Jadi kami juga dilarang memasuki ruangan itu, Pak ?”
Pak penjaga : “Saya saja ga' boleh apalagi Bapak. Jangan coba-coba, Pak.”
Ayah : “Baik, Pak.”
Pak penjaga : “Jaga anak Bapak baik-baik. Saya pulang dulu. Jika ada apa-apa cari saya. Rumah saya ada di belakang rumah ini.”
Ayah : “Baik. Terimakasih.” ( menjabat tangan pak penjaga dan kemudian pergi ).
Olive : “Ayah, aku mau main.”
Ibu : “Olive, tadi kamu katanya cape. Kok mau main ?”
Olive : “Aku dapet temen baru, Yah, Bu. Aku mau main sama dia.”

Ayah dan Ibu kaget. Apa yang dibicarakan anak satu-satunya itu. Teman baru. Benar saja. Olive mendapatkan teman baru yang bernama Leni. Anak perempuan yang usianya sama dengan Olive. Tapi orangtua Olive tidak tahu siapa Leni itu. Karena memang hanya Olive yang bisa melihat Leni.
Leni, adalah anak pemilik rumah itu. Suatu hari terjadi hal yang tidak diinginkan oleh keluarga Leni. Ketika mereka bertamasya ke sebuah tempat wisata di dekat danau, ketika Leni sedang bernyanyi, tiba-tiba saja Leni terjatuh dan tenggelam. Dia belum bisa berenang karena masih kecil. Beberapa menit setelah Leni tenggelam, Papa Leni mencoba menyelamatkan anaknya. Dia menceburkan diri di danau, tapi dia tidak menemukan Leni. Padahal danau itu tidak ada buaya atau hewan buas lainnya. Dan Leni pun dinyatakan tewas. Keluarga Leni memilih untuk menjual rumah itu karena banyak kenangan terjadi di rumah itu. Semenjak sepeninggal Leni, sang Mama menangis setiap hari. Kini Leni kembali ke rumah itu untuk mencari orangtuanya. Tapi tak pernah ia temukan. Dan kini Leni menemukan teman baru, yaitu Olive. Tapi karena Olive adalah manusia, Leni mencoba membunuh Olive agar menjadi seperti Leni agar bisa bermain terus.
Satu bulan berlalu. Ketika Ayah Olive bekerja, Olive bermain sendiri, karena sang Ibu sedang sibuk memasak. Olive bermain bola pantul. Ketika Olive memainkan bola pantul, bola itu memantul dan masuk ke ruangan terlarang itu. Entah kenapa pintu itu terbuka. Karena Olive belum tahu apa-apa, Olive pun masuk. Dan seketika itu pintu terkunci. Ibu yang telah selesai memasak pun mencari Olive. Tapi Olive tak juga ketemu. Tiba-tiba terdengar suara orang menggedor-gedor pintu. Ibu mencari suara tersebut, dan menemukannya. Dari dalam ruangan terlarang itu. Suara Olive memanggil ibunya.

Olive : “Ibu !! Ibu !!! Tolong !!!”
Ibu : “Olive !!!”

Begitu hingga pak penjaga datang karena ia mendengar suara ribut Olive dan Ibunya.

Pak penjaga : “Permisi, Bu. Ada apa ini ?” ( pak penjaga panik ).
Ibu : “Anak saya masuk ke sini, Pak.” ( ibu juga panik ).
Pak penjaga : “Tunggu, saya dobrak.”

Pak penjaga yang sudah tua itu hendak mendobrak pintu itu. Beberapa kali ia coba, dan akhirnya berhasil. Olive memeluk ibunya dengan sangat erat karena takut. Entah apa yang terjadi pada Olive. Tangannya berdarah.
Beberapa jam kemudian, pak penjaga membenahi pintu itu. Dan luka Olive sudah dibalut.

Pak penjaga : “Kenapa kamu bisa masuk ke dalam, Nak.”
Olive : “Aku ga' tahu paman. Tadi aku mau mengambil bola yang masuk di dalam.”
Ibu : “Bola ?”
Olive : “Iya, Bu. Bola pantulku.”
Pak penjaga : “Kok bisa masuk, ya, Bu. Padahal pintu ini sudah terkunci.”
Ibu : “Saya juga ga' tahu, Pak.”
Pak penjaga : “Nak Olive, jangan main dekat pintu itu, ya. Kalau mau main ajak ibu.”
Olive : “Iya, paman.”

Olive yang masih dipangkuan ibunya hanya melihat ke arah pintu itu. Dia melihat Leni dengan rambut panjang terurainya sedih. Lalu menghilang.

Olive : “Bu, tadi dia di sana.” ( menunjuk ke arah pintu ).
Ibu : “Dia siapa, Olive ?”
Olive : “Leni. Teman baru Olive.”
Ibu : “Di mana Olive ?” ( ibu penasaran ).
Olive : “Di sana. Aku takut, Bu.”
Pak penjaga : “Anak itu.”
Ibu : “Anak siapa, pak ?”
Pak penjaga : “Akan saya ceritakan, tapi tidurkan dulu Olive, Bu.”
Ibu : “Olive, sini. Ibu peluk kamu. Tapi kamu tidur, ya.”
Olive : “Baik, bu.”

Tak beberapa lama kemudia Olive tertidur, dan pak penjaga mulain menceritakan semua kronologi kejadiannya.

Pak penjaga : “Ada sekeluarga yang tinggal di sini, memliki satu anak perempuan, yang cantik, dan manis. Sama seperti Olive, dan umurnya juga sama. Namun sayang, ketika keluarga itu bertamasya, anak itu tenggelam di danau dekat mereka tamasya. Saya juga pernah dihantui anak itu, dia mencari keluarganya. Tapi dia ga' mau menemuinya, karena anak itu mengira orangtuanya ga' sempat menolongnya. Dan anak itu mulai menghantui siapa saja. Maafkan saya, bu, karena ga' bilang sebelumnya.”
Ibu : “Ga' apa-apa, Pak. Mungkin saya bisa membantu anak itu.”
Pak penjaga : “Saya sarankan jangan mengusik anak itu, Bu. Biarkan dia.”
Ibu : “Tapi Olive bisa terluka, Pak.”
Pak penjaga : “Lebih baik kita hubungi dulu orangtuanya.”

Keesokan harinya, ketika Olive hendak jalan-jalan sendiri, tiba-tiba Leni muncul. Dia ingin bermain dengan Olive. Tapi Olive merasa ketakutan, dan akhirnya masuk ke dalam rumah dan memeluk ibunya.

Olive : “Ibu.” ( menangis )
Ibu : “Ada apa sayang ??”
Olive : “Ada temanku itu lagi. Tapi aku takut, Bu.”
Ibu : “Di mana ?”
Olive : “Di dekat semak-semak.”
Ibu : “Hmmm, tenang sayang. Ada ibu di sini Sekarang kamu mandi dulu.”
Olive : “Ya, ibu.”

Lalu Olive pun mandi. Ketika dia menyalakan kran, tiba-tiba ada bayangan Leni di sampingnya. Ketika dia menoleh, tak ada Leni. Dan ketika dia mengarah ke air, tiba-tiba kepalanya ditarik menuju dalam bak yang telah terisi air hingga penuh itu. Tapi dia tak bisa berteriak minta tolong. Dan air semakin banyak, hingga keluar. Sang ibu yang mengetahui ada air lalu menuju arah air tersebut. Didapatinya, dan membuka pintu. Ada Olive yang telah terbujur kaku. Olive meninggal. Ibu histeris. Pak penjaga dan Ayah Olive yang baru pulang kerja pun langsung menuju ke kamar mandi.

Ayah : “Ibu, ada apa ??!! Olive kenapa !!?” ( panik ).
Ibu : “Ayah... Olive, Yah. Olive !!!!”
Pak penjaga : “Innalilahi wainnaillaihi rojiun.”
Ayah : “Anak saya kenapa, Pak !!?”
Pak penjaga : “Dia meninggal, Pak.”
Ibu : “Pak, sebaiknya kita harus mencari orangtua anak itu!!”
Pak penjaga : “Baiklah. Mari ikut saya.”

Mereka menuju rumah orangtua Leni yang jaraknya cukup jauh. Jalanan yang tak mendukung, serta banyak pepohonan yang menghalang. Maklum saja, orangtua Leni dari pedesaan.
Sekitar 2 jam perjalanan, tiba juga di kediaman orangtua Leni.

Pak penjaga : “Permisi, Pak.” ( mengetuk pintu ).
Ayah Leni : ( membuka pintu ) “Eh, Bapak. Ada apa, Pak?”
Pak penjaga : “Perkenalkan dulu, ini orangtua Olive.”
Ayah Leni : “Olive ?? Siapa itu, Pak ?”

Pak penjaga menceritakan semua kejadia yang dialami Olive sekeluarga. Orangtua Olive menyarankan agar mereka mendatangi danau yang membuat Leni meninggal untuk meminta maaf kepada Leni. Orangtua Leni sempat menolak, karena mereka berniat ingin menghapus masa lalu yang tak mengenakkan itu, tapi demi kemanusiaan, akhirnya mereka mau. Apalagi, ini sudah menyangkut nyawa. Mereka menuju danau keesokan harinya.
Tiba di danau.

Ayah Leni : “Leni sayang... Maafkan Ayah dan Ibu, ya, Nak. Ayah ga' sempat menyelamatkan kamu. Maafkan Ayah.”
Ibu : “Maafkan Ibu juga, Leni. Ibu yang mengajak kamu untuk bernyanyi di tepi danau.”

Tiba-tiba arwah Leni dan Olive muncul dari dalam danau. Leni dan Olive bergandengan tangan. Dan Leni mulai marah.

Leni : “Kenepa kalian ga' langsung menyelamatkan aku !!? Kenapa kalian hanya berteriak minta tolong !! Aku tenggelam !! Aku ga' bisa berenang !!”
Ibu Leni : “Maafkan kami, sayang.”
Leni : “Itu ga' penting, Yah, Bu. Maaf kalian terlambat. Kenapa kalian ga' meminta maaf dulu. Kenapa baru sekarang, itupun karena suruhan orangtua Olive !!”
Ayah Leni : “Kami ga' tahu kalau kamu mencari ayah dan ibu, Leni.”
Leni : “Terlambat. Aku sudah punya teman. Aku sudah bahagia !!”

Leni dan Olive pun menghilang. Ibu Olive dan Ibu Leni menangis. Mereka menyesal, tak menjaga anaknya dengan baik-baik. Olive dan Leni pun akhirnya bahagia di alam yang berbeda. Bermain penuh suka cita.

Senin, 30 April 2012

# GHOST AND WOMEN #

Termenung dalam sepi, meratapi hidup
Tapi kini telah mati,
Menambah penderitaan.
Mencari seseorang, yang akan menemaniku.

Pagi buta Christy harus sudah bangun untuk membantu ibunya pergi ke pasar membeli berbagai bahan-bahan dapur. Karena ibunya berjualan nasi di rumahnya. Christy adalah seorang siswa SMA kelas II di sekolah yang lumayan terkenal di kotanya. Dia termasuk anak yang pintar.
Tapi ia mengalami suatu kejadian yang tak terduga. Ketika malam, ia terbangun karena seseorang tak di kenalnya mengajak kenalan melalui sms. Karena terus mengirim pesan, Christy pun membalas dengan mata masih mengantuk.

Christy : “Maaf, ini siapa, ya, malam-malam sms.” ( matanya kriyip-kriyip ).
Dion : “Boleh kenalan ?”
Christy : “Kenapa ga' besok pagi atau siang saja. Ini sudah malam. Aku mengantuk.”
Dion : “Aku besok pagi hingga siang ada acara. Jika malam waktuku sangat senggang.”
Christy : “Tapi jika malam aku mengantuk. Besok pagi-pagi sekali aku harus membantu ibuku.”
Dion : “Tapi aku ingin berkenalan denganmu.”
Christy : “Besok saja. Aku mau tidur.”

Christy akhirnya mematikan hp agar tidak di sms orang itu lagi.
Pagi sekitar jam 4. Ia sudah dibangunkan oleh ibunya.

Ibu : “Chris, kenapa matamu bengkak? Habis nangis??”
Christy : “Nangis ? Ga' bu. Tadi malam ada orang asing yang mengajak kenalan. Gara-gara tuch orang asing, bu, mataku jadi gede-gede gini.”
Ibu : “Penggemarmu, tuh.”
Christy : “Ah, ibu. Apaan, sich.”
Ibu : “Ya, sudah. Ayo bantu ibu.”

Christy bergegas membantu ibunya. Tiba di pasar, sekitar pukul 4 pagi, orang asing itu mengirim pesan kepada Christy yang sedang duduk di parkiran sendirian.

Dion : “Sendirian saja?”
Christy : “Hey, kamu itu siapa sich?” ( Christy menggondok ).
Dion : “Makanya ayo kenalan. Namamu siapa ?”
Christy : “Yang mau kenalan, kan, kamu. Kamu dulu yang memperkenalkan diri.”
Dion : “Baiklah, namaku Dion. Kamu siapa?”
Christy : “Christy. Sekolahmu mana?”
Dion : “Nama yang cantik. Secantik orangnya. Aku sudah tidak bersekolah.”
Christy : “Jangan bergurau. Tau darimana jika aku cantik. Apa kamu kuliah?”
Dion : “Aku tidak sedang bergurau. Aku tau kamu itu cantik. Tidak. Aku tidak kuliah.”
Christy : “Jangan mengerjaiku, ya, hey Dion. Lalu apa kamu bekerja ?”
Dion : “Aku tidak mengerjaimu. Aku ini ga' punya teman. Kamu mau berteman denganku?”
Christy : “Boleh saja. Tapi kalau mau berteman, ya harus ketemuan.”
Dion : “Tak masalah jika kamu berani.”
Christy : “Maksudnya?”
Dion : “Bukan apa-apa. Lupakan saja. Mau bertemu dimana?”
Christy : “Enaknya dimana ?”
Dion : “Kalau bisa jangan di tempat yang ramai, ya. Aku malu.”
Christy : “Malu kenapa?”
Dion : “Mukaku jelek, hitam, dan seperti orang yang sudah meninggal.”
Christy : “Yang bisa menilai orang, kan, oranglain. Jadi mau dimana?”

Sebelum Dion membalas sms dari Christy, Ibunya sudah mengajaknya pulang. Dan semenjak itulah Dion tidak sms Christy. Ia mencoba sms, tapi tidak dibalas oleh Dion. Yaaa, maklum saja, ketika itu siang hari.
Christy sedang duduk-duduk di kelas berbincang-bincang dengan Linzy, teman sebangkunya.

Christy : “Zy, aku dapat temen baru. Tapi dia aneh.”
Linzy : “Tau aneh kamu temenin.”
Christy : “Iya ga gitu juga, Zy. Aku mengira orang itu cuma ngerjain aku.”
Linzy : “Coba sms lagi aja, disuruh ngaku.Siapa dia sebenarnya.”
Christy : “Ga aktif. Padahal tadi pagi masih smsan.”
Linzy : “Jangan-jangaaan......” ( mata Linzy melotot ).
Christy : “Jangan-jangan apa?!”
Linzy : “Aku pernah nonton film yang begitu. Sms misterius, setelah ditelusuri ternyata setan, Chris. Dan sekarang kamu dihantui. Hiiiiiiii...”
Christy : “Ah, mana mungkin, Zy. Nanti malam aku mau ketemuan, mau ikut ga?”
Linzy : “Males dech, takut aku, Chris.”
Christy : “Ah, kebanyakan nonton film kamu pasti.”
Linzy : “Kusarankan jangan deh, batalin aja, Chris.”
Christy : “Tapi aku sudah janji, Zy.”
Linzy : “Masalah buat guweee.”
Christy : “Yeee... ikut, ya, Zy. Nanti aku belikan es krim.”
Linzy : “Nah, kalau itu aku mau.”
Christy : “Gitu, dong. Jam 7 aku jemput, ya.”
Linzy : “Siap. Aku juga ikut penasaran sama orang itu. Orang atau setan. Ahahha..”
Sore menjelang malam, ketika pukul 06.00 sore. Dion, mengirim pesan ke pada Christy.

Dion : “Hay, ini aku. Kamu sedang apa?”
Christy : “Sedang siap-siap ingin bertemu denganmu. Kamu?”
Dion : “Sedang tiduran saja. Tapi di sini sesak. Aku jadi ga' enak tidurannya.”
Christy : “Sesak kenapa? Kamu sakit asma ?”
Dion : “Bukan. Aku ga' punya penyakit apa-apa. Tapi kamarmu sangat penuh.”
Christy : ( Deg-deg an membaca sms itu ). “Keluarkan saja barang-barang yang sudah ga terpakai. Buku-buku lama, lemari, atau apapun.”
Dion : “Ga ada barang-barang. Cuma ada tempat tidur saja.”
Christy : ( Tambah deg-degan ). “Yah, terserahlah. Kamu belum siap-siap?”
Dion : “Belum. Ga formal, kan?”
Christy : “Kalau mau ya silahkan.”
Dion : “Kamu jangan mengajak teman atau siapapun, ya.”
Christy : “Kenapa ?”
Dion : “Aku malu.”
Christy : “Kamu niat ketemu sama aku ga' sih?”
Dion : “Jangan marah begitu. Aku mau, kok.”
Christy : “Ya sudah, turuti saja. Jadi di mana nich ?”
Dion : “Di depan rumah tua di perempatan jalan bagaimana?”
Christy : “Rumah tua ? Di sana, kan gelap.”
Dion : “Aku mohon, ketemu di sana saja, ya.”
Christy : ( Dia menelfon Linzy ) “Halo... Zy, jangan-jangan katamu tadi siang bener?”
Linzy : “Halo, Chris. What !!! Jadi beneran setan?”
Christy : “Aku belum tau, Zy. Cuma dia ngajak ketemuan di depan rumah tua di perempatan.”
Linzy : “Tunggu, rumah tua milik almarhum Pak Jodhy itu?”
Christy : “Ya mana lagi kalau bukan sana coba.” ( Tiba-tiba ada sms dari Dion ). “Eh, ada sms, Zy.”
Dion : “Bagaimana ?”
Christy : ( Mengeja kata ) “Bagaimana. Gimana, Zy ?”
Linzy : “Kubilang juga apa. Kalau begini caranya, kan jadi gawat. Temuin saja, Chris. Kali-kali dia naksir kamu.”
Christy : “Enak aja. Aku masih punya nyawa, Zy. Jadi, nich ?”
Linzy : “Ya apa boleh buat, jujur saja aku penasaran, tapi takut juga.”
Christy : “Ya sama. Ya sudah, aku sudah siap. Aku jemput kamu sekarang.”
Linzy : “Ok.” ( Mematikan telfon ).
Christy : ( Membalas sms Dion ). “Jadi, kok.”
Dion : “Ok, kutunggu kamu di sana.”

Christy pergi ke rumah Linzy, menjemputnya. Sekitar seperempat jam mengendarai motor, akhirnya tiba juga di depan rumah Pak Jodhy yang sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Di sana Christy dan Linzy celingak-celingukan, tidak ada orang kecuali penjual nasi goreng yang setiap harinya mangkal di situ. Dan hanya sedikit pembelinya.

Christy : “Zy, kok sepi?”
Linzy : “Mana aku tahu. Coba tanya sama pak penjual nasgor itu, tuch.”
Christy : ( Mereka berdua bertanya sama pak penjual nasi goreng ). “Permisi, Pak.”
Penjual : “Ya, neng ? Ada yang bisa bapak bantu ? Mau pesan berapa porsi ?”
Christy : “Bapak liat cowok yang ada di depan rumah itu ga, ya?”
Penjual : “Daritadi ga' ada orang neng.”
Linzy : “Tuch, kan, Chris. Yok, pulang aja.” ( Takut juga ).

Tiba-tiba handphone Christy berbunyi. Ada sms dari Dion.

Dion : “Hai, apakah kamu sudah sampai ?”
Christy : “Sudah, kamu di mana ?”
Dion : “Aku sudah daritadi juga. Gara-gara menunggumu aku jadi masuk ke dalam rumah tua ini. Aku ada di dalam.”
Christy : ( Berkata pada Linzy ) “Zy, ada di dalam rumah itu.”
Linzy : “Wach, parah. Aku ga mau masuk, Chris. Di sini saja aku takut, apalagi masuk.”
Christy : “Kamu keluar saja. Kita makan nasi goreng.” ( Meng-sms Dion ).
Linzy : “Sms apa kamu ?”
Christy : “Menyuruhnya keluar.”
Linzy : “Mampus. Aku pulang saja, ya.”
Christy : “Janganlah, Zy. Eh, dia bales. Baiklah, aku keluar.” ( Memandangi Linzy ).

Mereka berdua memandang ke arah rumah tua itu. Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, lalu gerbangnya. Tapi tak ada siapa-siapa di sana. Dion sms Christy lagi.

Dion : “Aku sudah keluar. Aku melihatmu. Kamu yang mana ?”
Christy : ( Menunjukkan isi sms Dion kepada Linzy ). “Zy....”
Linzy : “Bales aja.”
Christy : “Aku yang pakai baju kuning. Kamu dimana? Aku ga bisa melihatmu.”
Dion : “Lihat baik-baik. Aku di sini. Tepat di depan gerbang. Aku memakai baju hitam.”

Christy dan Linzy menatap dalam ke arah rumah tua itu. Setelah ditatapnya dalam-dalam, mereka melihat seseorang berdiri. Dengan cepat Christy dan Linzy berlari menuju motornya dan pulang. Di jalan, terjadi sesuatu. Ban motor Christy tiba-tiba bocor. Apalagi di situ tak ada bengkel yang buka.

Linzy : “Mampus kita, Chris. Kamu, sih, berhubungan dengan setan.”
Chirsty : “Aku terus yang disalahkan. Uwwwhw....”
Linzy : “Ya memang kamu. Hayooo, harus apa kita. Ketemu setan, ban bocor, mana ga' ada bengkel buka. Kalau ada apa-apa, kamu yang harus menanggungnya.”
Christy : “Ya tapi jangan salahkan aku terus. Gimana caranya agar kita bisa pulang.”
Linzy : “Inget, aku ga mau dorong. Enak aja.”
Christy : “Ayolah, Zy.”
Linzy : “Ga mau !! Minta bantuan saja sama penggemarmu itu.”

Setelah bicara begitu, tiba-tiba hp Christy berdering lagi.

Dion : “Apa kamu butuh bantuan ?”
Christy : ( Menunjukkan isi sms Dion kepada Linzy ). “Zy, lihat.”
Linzy : “Wach, kebetulan. Sana, bales iya. Aku juga pengen marah-marah sama dia.”
Christy : “Tapi, Zy.”
Linzy : ( Teriak-teriak ). “Heh !!!! Setan jelek !!! Jangan ganggu kami. Kalau mau berteman baik-baik saja. Tapi jangan hantui kami !!”

Tiba-tiba di ujung jalan yang gelap seseorang datang. Dia Dion. Tapi dia berjalan bungkuk dan menundukkan kepala.”

Dion : “Hai, Christy.”
Christy : ( Takut ). Siapa kamu !!”
Dion : “Aku Dion, aku hanya ingin berteman denganmu.”
Christy : “Hidupmu berbeda dengan hidupku.”
Dion : “Apa salah jika kita berteman?”
Christy : “Mmmm... Aku ga' tahu salah apa ga'. Tapi yang jelas aku takut.”
Dion : “Aku anak baik. Tapi yang bisa menilai orang adalah orang lain.”
Linzy : “Siapa sebenarnya kamu !!”
Dion : “Aku Dion, apakah kita bisa berteman?”
Christy : ( Berbisik pada Linzy ). “Zy?”
Linzy : “Hey, Dion. Maukah kamu berbagi cerita kenapa kamu meninggal ?”
Dion : “Tapi apakah kalian mau berteman denganku ?”
Linzy : “Asal kehadiranmu baik kami mau. Jika ga' akan kami usir kamu.”
Dion : “Baiklah. Aku berjanji akan menjadi teman yang baik untuk kalian.” ( Menengadahkan wajahnya dan tegap. Lumayan ganteng, hingga Christy terpana ). “Ketika hendak pergi ke rumah sakit, aku kecelakaan.”
Linzy : “Ceritakan secara detail.”
Dion : “Baiklah. Aku adalah anak Pak Jodhy, rumahku adalah tempat dimana kita bertemu tadi. Makanya aku ingin kita bertemu di sana. Ketika aku mau menjenguk Mamaku, Mamaku di rawat di rumah sakit Bunda Cahaya. Tapi, mobil yang dikendarai Papaku ditabrak truk. Papaku koma hingga sekarang, Papa juga dirawat di sana, dan akulah yang meninggal. Ketika itu juga Mamaku juga meninggal. Aku kesepian. Aku ga' punya teman.”
Christy : ( Hendak menyentuh Dion, tapi tak bisa ). “Yang sabar, ya.”
Linzy : “Kenapa kamu tidak berteman dengan sesamamu?”
Dion : “Entahlah, tapi aku merasa masih hidup. Karena aku belum bisa menyampaikan sesuatu kepada Papaku.”
Christy : “Sesuatu apa ?”
Dion : “Dulu, sebelum meninggal, Mama sempat berpesan padaku, suatu saat, jika Mama meninggal, Papa boleh menikah lagi dengan oranglain. Tapi, Papa koma.”
Christy : “Mungkin Tuhan ga' ngijinin Papamu menikah lagi, makanya Tuhan berencana lain.”
Dion : “Tapi, kenapa aku yang menderita?! Aku kesepian.”
Christy : “Sekarang, kan kamu ga' kesepian. Ada kami di sini.”
Dion : “Terimakasih kalian mau menjadi temanku.”
Linzy : “Sama-sama.” ( Melihat jam ). “Chris, sudah jam 10. Kamu mau pulang ga'?”
Christy : “Ya jelas mau pulanglah. Tapi, kan bannya??”
Dion : “Dituntun saja. Akan aku temani, jadi jika ada apa-apa aku bisa menolong kalian.”
Christy : “Tapi aku ga' bisa menyentuhmu tadi.”
Dion : “Dengan rasa cinta, kamu bisa menyentuhku. Ayo, jalan.”

Hampir 1 jam akhirnya tiba di rumah Christy. Dan Linzy pun memutuskan untuk menginap. Dion juga sudah kembali ke tempatnya. Christy mengajak ngobrol Linzy.

Christy : “Ternyata Dion ganteng, Zy. Nyadar, ga' kamu ?”
Linzy : “Yaaa, lumayan, sih. Sayang, dia sudah meninggal.”
Christy : “Seandainya masih hidup, dan aku tahu ada cowok seganteng Dion tinggal di kompleks sini, sudah kupacarin dia.”
Linzy : “Ya, sana, pacarin Dion. Dia juga masih tinggal di situ, kan. Hahahha !!!”
Christy : “Ye... Dia sudah meninggal kali, Zy. Entah kenapa dia bilang jika ingin menyentuhnya harus denga rasa cinta. Ketika mendengar itu hatiku deg-degan, Zy.”
Linzy : ( Memandang Christy ). “Kamu sakit? Atau jangan-jangan kamu cinta sama Dion, ya?”
Christy : “Ga! Enak aja, masa' cinta sama setan.”
Linzy : “Yang penting ganteng, Chris. Hahhah !!!!” ( Tidur ).
Christy : “Dion, kenapa aku terbayang-bayang dia terus, ya.”

Hari berikutnya. Christy sms Dion, tapi tak ada balasan. Padahal waktu itu malam hari.

Christy : “Kenapa Dion ga' balas smsku ya.”
Ibu : ( Keluar dari dapur ). “Dion siapa, Chris? Bukannya pacarmu Egi ?”
Christy : “Bukan pacar, kok, Bu. Temen kenalan.”
Ibu : “Kenalanmu di malam-malam itu, ya?”
Christy : “Iya, Bu. Ternyata dia anak Pak Jodhy, Bu.”
Ibu : ( Tercengang ). “Pak Jodhy yang meninggal ditabrak truk itu?”
Christy : “Iya, Bu. Ibu tahu juga?”
Ibu : “Bukannya anaknya juga meninggal ?”
Christy : “Iya memang, Bu. Aku berteman dengan Dion, anak Pak Jodhy.”
Ibu : “Jadi kamu berteman dengan setan, Chris ??”
Christy : “Jangan salah sangka dulu, Bu. Dion anak baik. Kemarin dia menemaniku menuntun motor bareng Linzy.”
Ibu : “Christy !!! Kamu ini kok ya bisa-bisanya berteman dengan setan.”
Christy : “Ibu kenapa, sih. Tahu ach!! ( Masuk kamar ).

Tiba-tiba ada sms dari Dion.

Dion : “Hendaknya kamu jangan marah sama ibumu.”
Christy : “Dion, muncullah kamu.”
Dion : “Maaf, hari ini aku ga bisa muncul.”
Christy : “Kenapa ?? Aku ingin ngobrol denganmu lebih banyak.”
Dion : “Papaku kritis. Jadi aku harus menemaninya.”
Christy : ( Menelfon Linzy ). “Zy, ikut aku yok.”
Linzy : “Aduh, Chris... Kemana lagi ??”
Christy : “Ke rumah sakit.”
Linzy : “Siapa yang sakit?”
Christy : “Papanya Dion. Kritis. Aku jemput sekarang.” ( Mematikan telfonnya ). “Bu, pamit pergi sebentar, ke rumah sakit.”
Dengan terburu-buru Christy mengendarai motornya menuju rumah Linzy. Dan Linzy juga sudah siap. Mereka bergegas menuju rumah sakit Bunda Cahaya.
Sesampainya di sana, Christy melihat Dion ada di bawah pohon, duduk.

Linzy : “Eh, itu Dion, kan?”
Christy : “Yok. Ke sana.” ( Menuju ke Dion ). “Dion.”
Dion : “Christy, Linzy? Kenapa kalian kemari ?”
Linzy : “Christy yang minta.”
Christy : “Aku khawatir padamu.”
Dion : “Aku ga apa-apa. Aku hanya sedih.”
Christy : “Christy suka padamu, Di.”
Dion : ( Tercengang ).
Christy : “Apa-apaan kamu, Zy!!
Dion : “Chris, apa benar yang dikatakan Linzy ?”
Christy : ( Tak bisa menjawab ).
Linzy : “Jawab saja. Tadi malam kamu bilang begitu. Ga' secara langsung sih, tapi aku tahu.”
Dion : “Sayang sekali, Chris. Jika aku tahu perasaanmu sebelum aku menyerah pada takdir, aku pasti akan berjuang untuk hidup.”
Christy : “Ya, aku tahu. Maafkan aku telah suka padamu Dion.” ( Menyentuh Dion, kali ini dia bisa menyentuhnya, bahkan memeluknya ).
Dion : “Christy...”
Christy : “Dion...”

Linzy melihat Egi, pacar Christy datang. Entah darimana Egi bisa datang.

Egi : “Sayang !!”
Christy : “Egi ? Darimana dia bisa tahu kita ada di sini, Zy ?”
Linzy : “Mana aku tahu, Chris.”
Christy : “Pasti ibu.”
Egi : “Ayo pulang. Ibu mencari kamu.”
Christy : “Ga' mau !!”
Linzy : “Jangan paksa dia, dong, Gi!!”
Egi : “Apa urusanmu !! Christy sayang, ayo pulang.”
Dion : “Pulanglah, Cristy.”
Christy : “Dion.” ( Menangis ).
Egi : “Dion siapa !!”
Dion : “Pulanglah. Aku janji aku akan selalu bersamamu.”
Christy : “Janji, ya.”
Dion : “Janji.” ( Tersenyum ).
Egi : “Sayang ayo.” ( Menarik tangan Christy ).
Christy : “Aku bisa sendiri !! Ayo, Zy.”
Linzy : “Dion, pulang dulu, ya.”
Dion : “Iya. Jaga diri ya kalian.”
Di rumah sakit, Papa Dion kritis, hingga tak kuat menahan sakit, dan Papanya menghembuskan nafas terakhir. Dion kini bisa menyampaikan pesan dari Mamanya, walaupun sudah tak berlaku karena Papanya sudah meninggal.
Di rumah Christy, dia masih memikirkan Dion.

Christy : “Bagaimana Dion, ya. Semoga Papanya baik-baik saja. Aku benar-benar khawatir padanya. Entah kenapa aku ga' bisa berhenti memikirkannya.”

Tiba-tiba hp Christy berdering. Ada sms dari Dion.

Dion : “Papaku menyusulku, Chris. Dan keluargaku berkumpul lagi. Terimakasih.”
Christy : “Terimakasih untuk apa?”
Dion : “Setelah aku mengenalmu, aku bisa berkumpul lagi dengan keluargaku.”
Christy : “Jadi aku ga' akan pernah bisa bertemu denganmu lagi ?”
Dion : “Masih bisa jika kamu ingin kita bertemu. Aku, kan sudah janji, aku selalu bersamamu. Aku akan menjagamu. Aku selalu ada buat kamu. Aku janji.”
Christy : “Ga' bisakah kamu hidup lagi, Dion ??” ( Menangis ).
Dion : “Walaupun aku ga bisa hidup lagi, aku pasti akan selalu ada buatmu. Selamat tinggal, Chris. Jika kamu butuh aku, sms aku saja.”

Christy menangis. Dia begitu menyukai Dion.
3 bulan telah berlalu, Christy putus dengan Egi karena dia sudah tak ada rasa pada Egi.
Ketika pelajaran sedang berlangsung, Kepala Sekolah masuk kelas Christy, mengumumkan bahwa ada anak baru.

Kepsek : “Anak-anak, berbahagialah kalian, karena kalian memiliki siswa baru. Masuklah.”
Dion : ( Masuk kelas ).
Christy : ( Tercengang melihat Dion ). “Zy, Dion ??”
Linzy : “Mirip Dion.”
Kepsek : “Perkenalkan namamu.”
Dion : “Aku Dion Saputra. Senang berkenalan dengan kalian.” ( Tersenyum pada Christy ).

Seiring waktu berjalan, Christy dan Dion pacaran. Dan mereka hidup berbahagia.

Kamis, 26 April 2012

# CAMERA, ROLL, ACTION !!! #

Sakura : “Kenapa kau datang lagi !! Maafkan aku !! Aku mohon, tinggalkan aky sendiri. Maafkan aku, aku mohon maafkan aku. Berhenti menghantuiku.” ( menangis ).
Sutradara : “Cut !!”
Kazuki : “Sakura, aktingmu sekarang tidak benar. Ini adalah sekuel, sehingga penonton berharap lebih aktingmu bagus.” ( marah-marah ).
Sakura : “Lebih dari apa yang hanya kulakukan ?”
Kazuki : “Ya. Kumohon lebih.”

Tiba-tiba Kazuki mendapat panggilan melalui walki talki. Dia adalah crew sebuah film horor.

Sutradara : “Kazuki, gimana, sih kamu memberikan penjelasan padanya? Ceapt! Atau kita tidak akan menyelesaikan syuting kali ini.” ( marah-marah ).
Kazuki : “Siap!” ( kembali ke belakang panggung, tiba-tiba ada Byou yang sedang merekam suasana panggung dengan handycame ). “Byou, bisakah kamu merekam di tempat lain? Kamu berada di jalan. ( memanggil Manabu bahwa sound siap ) “Manabu, sound siap!”
Manabu : “Rui, beri Sakura mike. Ok, semua diam!”
Rui : “Siap !!” ( menggoda Sakura dengan mike besar tersebut ).
Sakura : “Hey, bukankah ini terlalu dekat? Pindahkan !” ( mendorong mike itu ).
Rui : “Hehehe.... peace, Sakura.”
Sakura : ( mencibir ). “Ok, siap!”
Kazuki : “Ok, kamera, roll, action ! Ini adalah adegan emosional. Harap tenang ! Kamera! Roll! Action !!”
Sakura : ( akting lebay dengan melebarkan tangannya dan berputar-putar ). “Aku mohon maafkan aku !!
Crew : ( kaget ).
Sakura : ( masih lebay ) “Kenapa kamu kembali !! ( menangis ) “Aku minta maaf. Aku mohon tinggalkan aku. Aku tidak ingin hidup seperti ini. Oh No!!!”
Sutradara : “Cut !” ( menggelengkan kepala ) “Hebat ! Performa yang memenangkan penghargaan !! ( menyindir ).

Waktunya istirahat, Sakura lelah dan hendak ke ruang istirahat. Dia mengantuk, karena memang syuting kali ini malam hari. Dia baru sadar, jika di sampingnya ada Yuki yang memerankan setan dengan muka rusak. Dia kaget, tapi tak menampakkan kekagetannya.

Sakura : “Hmm, apa jenis film ini?” ( ia bertanya pada Yuki ).
Byou : “Hai, Sakura.” ( masih dengan handycame-nya ).
Sakura : “Ya..?” ( menguap ).
Byou : “Bagaimana perasaanmu kembali membintangi film ini ?”
Sakura : “Oh...” ( tersenyum bohong ) “Film ini ? Aku merasa senang. Itu adalah karakterku. Karena, ketika aku membaca naskah, aku merasa terkesan.Peran ini sangat menantang bagiku.Juga pada akhirnya penonton akan sangat terkejut, karena gerakan memutar yang benar-benar luar biasa. Ya, begitu.”
Byou : “Ok, terimakasih atas waktumu.”
Sakura : “Ok. Sama-sama.”
Byou : ( kini giliran Yuki ) “Hai, Yuki. Bagaimana perasaanmu tentang peran ini ?”
Yuki : ( tersenyum, tapi tetap menakutkan ) “Aku sangat senang. Uhukkk uhukkk” ( batuk-batuk ). “Sangat-sangat senang. ( batuk-batuk lagi ).
Byou : ( kasihan pada Yuki ) “Yuki, apakah kamu baik-baik saja ?”
Yuki : ( batuknya semakin parah, hingga ketika ia harus melakukan syuting ).

Syuting di mulai lagi. Namun Yuki masih saja batuk-batuk.

Kazuki : “Yuki, ketika aku bilang 'Action', kamu merangkak keluar dari sini, ya.”
Sutradara : “Kazuki, tutupi wajah hantu dengan rambutnya.”
Kazuki : ( menutup wajah Yuki dengan rambut Yuki ) “Maaf, ya.”
Yuki : “Tak masalah Uhuuuk.. uhuuuk. ( batuk-batuk terus ).
Kazuki : ( berbisik pada Yuki ) “Jika harus ditutupi, kenapa harus dimakeup juga. Hmm.”
Yuki : “Ya memang setan seperti ini, kan ?? Uhuuuuk.”
Sutradara : “Ok, cukup, Kazuki !”
Kazuki : “Ok, ini adegannya, dan kita akan lakukan. Cepat, semua bersiap.”

Manabu, dan Byou merasa kasihan pada Yuki karena dia batuk-batuk terus.

Manabu : “Kazuki.”
Kazuki : “Apa?”
Manabu : “Aku fikir Yuki lebih baik istirahat. Kelihatannya dia sakit. Lihat, wajahnya pucat.”
Kazuki : “Jelas saja wajahnya pucat, dia kan hantu. Ingat !”
Byou : “Kudengar dia batuk terus sebelumnya.”
Kazuki : “Lalu, apa yang harus kulakukan? Kita tak punya waktu.”
Manabu : “Tapi dia tidak terlihat baik untuk melanjutkan.”
Yuki : “Teman-teman, aku baik-baik saja.Uhuuukkk... Serius.”
Kazuki : “Nah, lihat. Bagus, Yuki. Bagus. Syuting harus berlanjut. Siap ?!! Padamkan lampu!”

Lampu padam. Dan semua kembali ke tempat masing-masing. Kazuki adalah pembantu sutradara, Manabu bertugas mengatur suara, Rui mengarahkan mike, dan Byou tugasnya tidak begitu penting. Dia hanya merekam beberapa adegan atau hanya sekedar koleksi video.
Manabu dan Byou benar-benar kasihan pada Yuki. Yuki juga memaksakan diri karena ini adalah syuting pertamanya.

Kazuki : “Action!”

Beberapa waktu setelah Kazuki bilang 'Action', Yuki tidak juga merangkak keluar dari kegelapan. Semua bingung. Rui celingak-celingukan, karena dia termasuk orang yang penakut. Apalagi dia berada di dekat kegelapan tersebut. Byou dan Kazuki juga bingung. Ada apa yang terjadi sebenarnya.

Sutradara : “Cut! Kazuki, sudah kamu beri tahu, kan ?”
Kazuki : “Sudah, kok.”
Sutradara : “Wah, ini terlalu lama, kenapa dia tidak keluar?”
Kazuki : “Hey, nyalakan lampu !” ( lalu, lampu menyala ).
Manabu : “Oh, sial. Apa yang terjadi dengannya?”

Semua crew berlari ke arah Yuki yang ternyata pingsan. Dia tergeletak tak berdaya.

Byou : “Yuki.. Yuki.. Dia pingsan.”
Kazuki : “Byou, bawa dia ke rumah sakit sekarang.”

Byou membawa ke rumah sakit. Tiba di sana, dokter dan suster ketakutan karena makeup Yuki belum dihapus.

Yuki : “Uhuuuk uhuuuk. Aku baik-baik saja, Byou. Aku mohon, kembalikan aku ke panggung.”
Byou : “Yuki, kamu tidak dapat melanjutkan syuting. Sekarang lebih baik periksakan kesehatanmu di sini.”
Yuki : “Tapi aku baik-baik saja. Aku merasa baik.”

Tiba di ruang UGD, Byou dilarang masuk oleh dokter.

Dokter : “Maaf, mohon tunggu di luar.”

Byou menelpon Manabu, memberi kabar tentang Yuki.

Manabu : “Yang benar? Ya sudah, jika sudah selesai secepatnya kembali ke sini.” ( tuuut ) “Sial, kata Byou, keadaan Yuki sangat parah. Tidak mungkin dia dapat melanjutkan film ini.”
Rui : “Lalu, bagaimana ini ? Haruskah kita melanjutkan syuting?”
Kazuki : ( berkata pada sutradara ) “Pak, apakah kita harus merubah endingnya ?”
Sutradara : “Merubah. Apa maksutmu merubah? Apakah kalian membaca naskahku? Ini ending baru, tahu ! Terutama kalimat terakhir pada peran Sakura. Itu cemerlang !! Tidak ! Itu tidak bisa dirubah, dan aku tak mau merubahnya. Enak saja.”
Manabu : “Tapi Yuki tidak bisa melanjutkan syuting, Pak.”
Sutradara : “Ahhh, baiklah. Lalu apa yang akan kalian lakukan.” ( menyerah juga ). “Bantu aku bertukar pikiran dulu dan pastikan itu akan bisa berubah sebaik mungkin.”
Rui : ( berunding pada Manabu dan Kazuki ) “Bagaimana sebuah film horor berakhir?”
Manabu : “Kupikir kita harus memiliki sentuhan yang baik.”
Kazuki : “Apa maksudnya sentuhan ? Setiap sentuhan di dalam buku sudah digunakan.”
Manabu : ( berfikir ) “Hei bagaimana jika di akhirnya semua orang adalah hantu tapi tidak ada yang menyadari itu.”
Kazuki : ( memukul kepala Manabu ) “Itu biasa! Seperti kamu belum pernah melihat sebelumnya.”
Rui : “Aku berfikir sesuatu. Mari kita bangkitan bahwa hantu adalah benar-benar tidak mati.”
Manabu : “Atau pada endingnya, kita melakukan kilas balik seperti sebuah film hollywood. Wajahnya seperti itu karena dia memiliki jerawat. Dan mendapat perawatan yang salah.”
Kazuki : ( memegang-megang pipinya ).
Manabu : “Jadi itu sebabnya kulitnya yang membusuk dan jatuh berkeping-keping. Bagaimana menurutmu ?” ( bertanya, dan tersenyum karena idenya cemerlang ).
Sutradara : “Aku suka itu. Kita bisa memamerkan efek makeup kita.” ( menyetujui )
Kazuki : “Terlalu lama.Aku berpikir kita tidak harus menambahkan apapunt untuk film ini sama sekali. Hanya merubah endingnya agar lebih dramatik. Membuat nyata dan tersentuh.”
Sutradara : “Baik, cukup cukup. Kita terlalu jauh betukar pikiran.Ok, kita tidak memiliki beberapa sentuhan. Hanya merubah ending agar lebih dramatik, dan juga lebih nyata. Ok ?”
Kazuki : “Ok, itu bagus. Bersiap, syuting !”

Semua sibuk untuk melanjutkan syuting. Rui merapikan beberapa helai rambut Sakura. Tapi karena jail, dia hendak menyentuh dada Sakura.

Rui : “Sakura, mungkin aku akan menyisipkan mike kecil padamu.” ( tangannya jail, menyentuh dada )
Sakura : “Ok, baiklah. Hey, Rui, tanganmu terlalu dalam.”
Rui : “Oh.. Hehhe... Maaf.” ( memberikan kode 'ok' pada Manabu ).
Manabu : “Cek mike-nya.”
Sakura : “HELLO !!” ( sangat nyempreng ).
Manabu : “Hmmm... ( menjauhkan headsetnya dari telinga ).
Kazuki : “Ok, bersihkan frame. Siap. Action !!”

Sakura mulai dengan aktingnya lagi. Dia sekarang berada di panggung dengan sisi-sisi kaca.

Sakura : “Akhirnya ini berakhir. Sekarang aku melihat diriku di cermin Aku tidak ingin melihat bayanganmu hingga kapanpun. ( tertawa riang, dan berbalik badan ).

Tak disangka di sana ada Yuki, dengan makeup setannya sehingga mengagetkan Sakura, dan juga crew yang lain. Semua tercengang. Rui ketakutan. Tapi syuting masih berjalan.

Sakura : “Owww wwaaa, sial!! Kau merasa baik sekarang ? Oh, kau membuatku takut. Tapi aku senang kau baik- baik saja. Jadi kita dapat kembali meneruskan film ini.”
Sutradara : “Hey, Yuki kembali. Ini keren. Kita tak perlu merubah endingnya. Hei, Kazuki. Tetap pada ending sebelumnya.” ( tampak senang )

Istirahat tiba. Yuki dibantu crew untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kazuki bertanya pada Manabu tentang Yuki.

Kazuki : “Katamu Yuki sakit. Bagaimana dia bisa kembali.”
Manabu : “Byou bilang padaku begitu.”
Kazuki : “Bodoh kau.”
Sutradara : ( memanggil Kazuki dengan walki talkinya ) Kazuki, siapkah kau untuk adegan berikutnya?”
Kazuki : “Siap, Pak.” ( pergi menemui sutradara ).
Rui : “Manabu, bagaimana menurutmu dia bisa kembali ?” ( ketakutan ). “Dan, dimana Byou?”

Dengan perasaan takut, Manabu dan Rui mendekati Yuki yang sedang duduk-duduk.

Manabu : “Yuki, mmm... Dokter membiarkanmu kembali ?”
Yuki : ( diam dan hanya menangguk, dan masih batuk-batuk ).
Rui : “Bagaimana dengan Byou ?”
Yuki : ( menatap tajam Manabu dan Rui ) “Ummm.. dapatkah kalian membawaku ke ruang istirahat?”
Manabu : ( ketakutan ) “Rui, bawa dia ke ruang istirahat.”
Rui : “Kenapa bukan kau saja.” ( ketakutan )
Manabu : ( pergi, dengan alasan sedang menerima pesan dari walky talky padahal walky talky dibawa Rui).
Rui : “Manabu! Walky-mu ada di sini... ( ketakutan bukan main ).

Sedangkan di rumah sakit, Byou menunggu hingga terkantuk-kantuk. Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan.

Byou : “Dok, bagaimana keadaan pasien?”
Dokter : “Apakah Anda anggota keluarganya?”
Byou : “Saya temannya.”
Dokter : “Maaf, pasien telah meninggal.” ( pergi ).

Byou kaget mendengar itu. Tapi dia pasrah saja. Lalu dia kembali ke tempat syuting.
Sedangkan Rui mengantarkan Yuki ke ruang istirahat. Dilihatnya, Yuki memang benar-benar sakit. Tiba-tiba Byou menelpon Rui. Padahal Byou sedang mengendarai mobil.

Byou : “Halo.”
Rui : “Halo. Ada apa Byou?”
Byou : “Yuki sudah meninggal.”
Rui : “Apaa.... apa yang kau katakan, Byou?!”
Byou : “Yuki sudah meninggal.” ( tiba-tiba hpnya terjatuh ).
Rui : “Byou.. Byou !!”

Mendengar itu Rui tambah takut. Lalu dipandangnya Yuki, terlihat menyeramkan. Dia masih batuk-batuk, dan semakin parah hingga darah akibat batuknya muncrat ke tubuh Rui. Dia ketakutan lagi. Tiba-tiba datang Sakura. Rui meminta Sakura mengantar Yuki.

Rui : “Sakura, Sakura, bisakah kau mengantarkan Yuki ke ruang istirahat? Bisa, ya? Bisa, kan ??” ( lalu pergi menemui crew ).
Sakura : “Hmmm, apa masakahnya. Ayo, yuki, aku akan membawamu.”

Di ruang crew, Rui mengatakan apa yang terjadi, bahwa Yuki telah meninggal.

Kazuki : “Hey, apa yang terjadi?”
Rui : “Yuki sudah meninggal.”
Crew : ( tercengang ).
Kazuki : “Lalu dia siapa ?”
Rui : “Aku tak tahu. Byou bilang begitu padaku.”
Manabu : “Lalu dimana dia sekarang ?”
Rui : “Ada di ruang istirahat bersama Sakura.”

Crew juga ketakutan, mereka semua pergi, kecuali Manabu, Kazuki, dan Rui. Dia hendak menolong Sakura. Tapi mereka sendiri juga takut.

Manabu : “Lebih baik selamatkan Sakura dulu. Dia artis utamanya.”
Kazuki : “Oh iya, lalu bagaimana dengan Byou ?”
Rui : “Aku tidak tahu. Tiba-tiba terputus.”
Kazuki : “Ayo, kita ke ruang istirahat dulu. Byou nanti kita urus.”

Tiba di ruang istirahat. Di sana ada Sakura, tapi Yuki sedang tertidur.

Rui : “Sakura !! Sakura !!”
Sakura : “Ah, kau. Ada apa?”
Manabu : “Cepat pergi dari sana.”
Sakura : “Kenapa ??”
Yuki : ( tiba-tiba bangun ). “Hey...”
Kazuki : “Lari !!!!!!!!!!”

Mendegar Kazuki berkata lari, semua lari kecuali Sakura dan Yuki yang hanya tinggal mereka berdua. Pikir mereka, Kazuki cs sudah gila, atau hendak mengikuti film.
Manabu mengambil mobil dan mengajak Rui dan juga Kazuki masuk. Manabu ada di depan bersama Rui, dan Kazuki ada di belakang. Tiba-tiba mereka melihat Byou berjalan kaki. Dia jadi sedikit aneh. Apa yang terjadi ?

Rui : “Eh, itu Byou?”
Manabu : “Iya. Byou !! Cepat naik !!”
Byou : “Ada apa ?” ( tampak pucat ).
Kazuki : “Manabu, cepat jalankan mobilnya !!”
Manabu : “Iya, sabar!!” ( mobilpun telah berjalan ).
Kazuki : “Kita hampir matiii...” ( ketakutan juga ).
Manabu : “Byou, darimana saja kamu? Kenapa baru sampai sekarang ?”
Byou : “Mobilku tabrakan.”
Kazuki : ( dia kaget, karena dia duduk berada dekat dengan Byou ).
Rui : “Apakah kau baik-baik saja ?”
Byou : “Aku baik-baik saja.”
Kazuki : “Hey, Byou, kamubilang Yuki sudah meninggal ? Hantunya kembali ke panggung.”
Byou : “Apa??”
Kazuki : “Dia tidak menyadari jika dia sudah mati. Dia menakut-nakuti kita.”
Byou : ( tiba-tiba ada darah mengalir dari kepalanya, tapi ia tak sadar ).
Kazuki : “Hey, ada apa dengan kepalamu. Kau berdarah.”

Manabu dan Rui menyadari seseuatu terjadi pada Byou. Manabu melihat mobil Byou terperosok dan remuk bagian depannya. Itu berarti Byou juga telah meninggal. Manabu membanting setir. Semua menjerit, kecuali Byou yang tetap cool itu. Byou memang cool, dan ganteng.

Kazuki : “Hey, kau itu kenapa!! Lihat, Byou kasihan. Darahnya mengalir terus.”
Manabu : ( berbisik pada Rui ) “Rui, lihat itu.” ( menunjuk ke mobil Byou ).
Rui : ( menoleh ) “Ha??!! Manabu, ayo kita keluar.”

Manabu dan Rui keluar dari mobil karena ketakutan. Tapi Kazuki masih di dalam bersama Byou. Ada apa dengan Manabu dan Rui, pikir Kazuki. Tapi Byou tetap cool.

Manabu : “Kazuki, keluarlah. Cepat !!”
Kazuki : “Apa !! Kalian bicara apa !!”
Byou : ( celingukan ) “Ada apa mereka?”
Kazuki : “Entahlah.”
Rui : “Kazuki, lihat itu !!” ( menunjuk mobil Byou ).
Kazuki : ( melihat ke arah mobil ) “Ha...!!” ( memandang Byou ).
Byou : ( darahnya semakin banyak mengalir, tapi tetap cool ).
Kazuki : ( ketakutan ). “Byouuu, jangan ganggu aku. Aku mohon.”
Byou : ( mengunci pintu agar Kazuki tidak lari juga ) “Apa sih yang kau takutkan? Aku tidak di mobil ketika tertabrak.”
Kazuki : “Oh ??”

Byou menceritakan kejadian yang di alaminya. Ketika dia menelpon rui, hp-nya terjatuh dan dia tak tahu jika di depannya ada truk, jadi dia banting setir. Sehingga dia terperosok. Dia keluar dari mobil, berjalan tertaih ke tengah jalan. Tapi ada truk lagi di depannya. Sopir truk itu kaget, dan banting setir juga ke arah mobil Byou, sehingga mobilnya hancur.

Kazuki : “Oh.. Begitu rupanya.” ( merasa lega ). “Huft, kamu membuatku takut! Sial! Manabu, Rui, kembali ke mobil.”
Rui : “Apa ??”
Kazuki : “Ha. Hantu Yuki di belakangmu !!”
Byou : “Hey, cepat masuk!! Cepat !!”
Manabu : ( menoleh ke belakang. Ruipun juga. Mereka lari dan masuk mobil ).
Kazuki : “Cepat, nyalakan mobilnya !!”
Manabu : “Oh, sial. Habis bensinnya.”
Rui : “Oh... tidak. Eh, di mana hantu Yuki ?”
Mereka : ( celingukan, tiba-tiba mereka dikagetkan Yuki yang muncul tiba-tiba di dekat Kazuki )
Yuki : “Teman-teman.”
Mereka : “Huwaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!”
Yuki : “Hey, teman-teman, bawa aku ke rumah sakit.”
Manabu : “Sudah terlambat. Kau hanya butuh kuburan.”
Yuki : “Aku belum mati. Hey!! Aku kabur dari rumah sakit.”
Semua : ( celingukan ) “Huh??”

Yuki menceritakan bagaimana dia bisa kabur. Ketika suster sedang tidak memeriksa, dia berencana kabur. Tapi ada Byou yang sedang menunggu hasil pemeriksaan Yuki.

Rui : “Byou, apa yang terjadi ?”
Byou : “Dokter bilang padaku jika dia sudah mati.”
Yuki : “Serius, tapi aku belum mati.”

Tiba-tiba hp Byou berbunyi, tapi bunyinya suara gadis menjerit. Dia kena marah lagi.

Semua : “Huwaaaaaaaaa!!”
Rui : “Hp siapa ini !!!”
Byou : “Punyaku.” ( jawabnya dengan wajah imut-imut ).
Kazuki : “Cepat ganti yang lain!! Dasar!!”
Byou : “Halo?”
Suster : “Halo. Kami dari rumah sakit. Apakah pasien Yuki sudah dikembalikan ke keluarganya?”
Byou : “Apa maksudnya?”
Suster : “Pasien menghilang.”
Byou : “Tapi dokter bilang jika Yuki sudah meninggal.”
Suster : “Meninggal ? Siapa yang bilang begitu?”
Byou : “Dokter chubby, dan berkacamata.”
Suster : “Oh, maaf, dokter itu kembar. Jadi Anda salah tangkap.
Byou : ( tttuuuuuuuuuttt )
Manabu : “Jadi Yuki belum meninggal?”
Kazuki : “huft, ayo lebih baik kita bawa Yuki kembali ke rumah sakit.”
Rui : “Tapi bagaimana kita bisa pergi. Kita kehabisan bensin.”

Tiba-tiba Sakura datang dari arah berlawanan. Dia menagntuk sambil mengendarai mobilnya. Dia tidak melihat di depannya ada Byou, Manabu, Kazuki, Rui, dan Yuki.
Tapi karena jeritan mereka, Sakura memberhentikan mobilnya. Dan membawa Yuki ke rumah sakit.
Beberapa bulan kemudian, film yang digarap itupun laku keras dengan tema diganti seperti apa yang terjadi pada mereka.