Gaara Transforms Into Tree Stump - Naruto
Tampilkan postingan dengan label cerita cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Maret 2013

# GIA KE GIO #

Sebut saja namanya Gia, perempuan ini sedang mengalami kesulitan ekonomi di keluarganya. Karena itu, Gia merubah penampilannya menjadi laki-laki. Walaupun dari luar dia tampak laki-laki, namun perasaan cintanya sama seperti perempuan, karena dia memang perempuan. Tubuhnya yang mungil dan kecil seringkali membuat orang lain heran, apakah dia perempuan atau laki-laki. Dia memotong rambutnya pendek sekali menyerupai laki-laki pada umumnya. Memakai pakaian yang ala kadarnya dan terkadang bersikap benar-benar seperti laki-laki.

Pada suatu hari ketika dia sedang mencari pekerjaan. Tiba-tiba saja dari kejauhan ada suara klakson mobil keras sekali mengagetkan Gia. Dia hampir saja tertabrak. Keluarlah Sang Pangeran dari dalam mobilnya.

Deka : “Mas, kalau mau menyebrang lihat-lihat, dong. Kalau tidak bisa menyeberang, minta bantuan orang lain !”
Gia : “Oh, maaf. Maaf.”
Deka : “Tapi tidak ada yang luka, kan ?”
Gia : “Tidak, kok. Tenang saja. Hanya kaget saja.”
Deka : “Untung Anda laki-laki, kalau perempuan pasti kuantarkan ke rumah sakit.”
Gia : “Saya perempuan mas.”
Deka : “Hey, saya tidak buta. Anda itu laki-laki.”
Gia : ( tersadar jika dirinya berpenampilan laki-laki ) “Hehhe.. Maksudnya biar mas nya tidak marah dan kita bisa jadi akrab begitu.”
Deka : “Oh.. Oh iya, kita belum berkenalan. Anda siapa ?”
Gia : “Saya Gi.....” . “Gio.”
Deka : “Saya Deka. Kamu sedang apa, Gio, kok sepertinya kamu sedang mencari pekerjaan ?”
Gia : “Iya. Aku sedang mencari pekerjaan, nih. Susah. Sudah 2 hari ini belum dapat pekerjaan.”
Deka : “Kebetulan, tokoku sedang membutuhkan karyawan laki-laki. Jika kamu mau, ayo ikut aku.”
Gia : “Pekerjaan apapun akan aku lakukan yang penting halal.”
Deka : “Oke. Ayo ikut aku.”

Tanpa ragu Gia ikut dengan Deka. Selain karena sedang mencari pekerjaan, diam-diam Gia suka dengan Deka karena Deka tampan, dan yang pasti kaya.
Sesampainya di toko milik Deka, Gia terperangah. Toko alat-alat bengkel. Apa-apaan ini, apakah dia bisa bekerja di sini. Dia bukan anak laki-laki yang mengerti alat-alat bengkel.

Gia : “Deka, ini tokomu ?”
Deka : “Iya. Memangnya kenapa ? Kamu tidak mau bekerja di sini, ya ?”
Gia : “Apa aku bisa bekerja di sini, Ka ? Aku tidak mengerti apa-apa tentang ini semua.”
Deka : “Apa maksudmu ? Sebagai lelaki, masa' kamu tidak tahu.”
Gia : “Iya juga sih. Tapi....”
Deka : “Jika kamu tidak tahu, tanyakan padaku. Aku selalu di sini, kok.”
Gia : “Iya sudah, jadi hari ini aku langsung bekerja ?”
Deka : “Yap.”

Saking senangnya mendapatkan pekerjaan, tak sadar Gia memeluk Deka. Beberapa menit kemudian, Gia sadar dan malu telah memeluk Deka.

Jam 12 siang waktunya makan siang. Gia lupa bawa bekal makannya, dan akhirnya Deka mengajaknya makan di restoran. Karena kelaparan, Gia makan dengan cepat dan banyak sekali hingga mulutnya penuh makanan.

Deka : “Kamu kelaparan, Gio ?”
Gia : “Hehhe, habisnya belum pernah aku makan enak seperti ini. Ini enak sekali, Deka. Sering-sering saja seperti ini, ya. Hehehhe.”
Deka : “Hehhe.. Tenang saja. Jika kamu rajin bekerja pasti akan aku traktir kamu.”
Gia : “Yes. Makan dulu yok. Lapar nih.”

Esok harinya Gia lupa arah toko Deka, sedangkan kali ini dia mengendarai sepeda motor butut milik ayahnya. Tiba-tiba dia melihat mobil Deka, di sana ada perempuan yang sedang bediri di dekat mobil Deka.

Gia : “Itu kan mobilnya Deka. Jangan-jangan Deka sudah punya pacar ? Wach, kalau begini caranya pupus sudah harapanku. Aku berdandan laki-laki seperti ini hanya semata-mata ingin mendapatkan pekerjaan, tapi jika sudah lihat yang bening-bening seperti Deka ya aku tidak bisa nolak. Tapi siapa ya wanita itu.”

Tiba-tiba Deka datang dan mencium pipi wanita itu. Pikir Gia mungkin memang dia pacar Deka. Dia mengikuti dari belakang, dan sampailah ke toko Deka.

Deka : “Hey, Gio. Kamu hafal jalan, ya ?”
Gia : “Lupa-lupa sedikit, hehheheh.”
Deka : “Hahha. Oh iya, kenalkan ini Masya, dia baru saja pulang dari Belanda.”
Masya : “Masya. Kamu ini laki-laki atau perempuan ? Kok tubuhmu mungil sekali.”
Gia : “Aku laki-laki. Mana mungkin aku bekerja di sini jika aku perempuan.”
Deka : “Iya, Sya. Dulu aku juga pernah berfikir jika dia ini perempyan, tapi ternyata memang laki-laki. Lihat, dandanannya saja laki-laki sekali.”
Gia : “Apa yang dikatakan Deka benar. Mungkin karena aku kurang gizi jadi mungil.”
Deka : “Gio ini memang suka melucu. Ayo masuk.”

Mereka masuk dan mulai bekerja. Ketika Gia ke belakang untuk membuang sampah, tak diduga Masya mengikuti, dia merasa curiga dengan Gia. Wajahnya perempuan sekali, kulitnya mulus, tapi pakaian dan cara berjalannya laki-laki sekali.

Gia : “Jangan-jangan Masya curiga denganku. Aduh, jika seperti ini aku harus jaga jarak dengan Masya. Kalau tidak bisa-bisa aku ketahuan. Lalu, apakah Masya itu kekasihnya Deka?”

Masya : “Oh, jadi kamu ini memang perempuan ?”
Gia : “Hah ? Masya ?”
Masya : “Kenapa ? Kok kaget seperti itu ? Takut ya jika kulaporkan pada Deka ? Kamu akan dipecat, dan harus mencari pekerjaan lagi. Iya kan ?”
Gia : “Masya, aku mohon. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jangan bilang pada Deka.”
Masya : “So ?”

Masya meninggalkan Gia yang takut dan was-was jika Deka memecatnya. Selain itu juga pasti Deka sangat membenci Gia. Akhirnya Gia menyusul ke ruang Deka. Di sana Masya sudah menceritakan semuanya. Wajah Deka wajah marah.

Masya : “Tak punya malu.”
Gia : “Deka, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku benar-benar menyesal. Aku mohon jangan pecat aku. Aku berpenampilan laki-laki juga agar mudah mendapatkan pekerjaan. Aku sangat butuh pekerjaan ini. Aku buka Gio, tapi Gia. Aku dulu juga sudah bilang, kan, jika aku perempuan, tapi kamu tidak percaya.”
Deka : “Sudah selesai pidatonya ? Sekarang kemasi barangmu, dan jangan pernah menginjakkan kaki di tokoku ini.”
Gia : “Deka ??” ( airmatanya mulai keluar )
Masya : “Rasakan itu !!”
Deka : “Ayo cepat !!!” ( menggebrak meja )

Dengan sedih, Gia meninggalkan toko itu. Dia benar-benar dipecat. Sedangkan Masya malah genit menggoda Deka.

Masya : “Kamu memang tegas sekali, Deka. Berani memecat karyawanmu. Siapa dia hingga dia bisa bekerja di sini. Kamu juga jangan sembarangan menerima karyawan.”
Deka : “Kamu ini crewet sekali, Sya. Diam !!”

Ternyata Deka juga sedih memecat Gia. Baru kali ini dia bertemu dengan Gia yang berjuang demi hidupnya. Tapi Deka malah memecat Gia yang memang membutuhkan pekerjaan itu. Hari demi hari Deka tidak bisa melupakan kelucuan, kekonyolan, kekuatan, dan keceriaan Gia. Dia rindu kepada Gia. Akhirnya Deka memutuskan untuk mencari Gia dan menyatakan cinta pada Gia. Tapi dicarinya kesana kesini tak ketemu juga. Deka putus asa. Tiba-tiba ada yang usil melempari Deka dengan kerikil kecil. Ternyata Gia. Kali ini Gia berpenampilan perempuan. Rambutnya sedikit mulai panjang.

Deka : “Gia !!!”
Gia : “Hehhe.. kenapa sendirian di situ ?”
Deka : “Aku mencarimu.”
Gia : “Mencariku ?”
Deka : “Iya. Aku rindu padamu.”
Gia : “Aku ini laki-laki. Masa' jeruk makan jeruk.”
Deka : “Tidak, kamu ini perempuan yang manis dan cantik. Gia, kamu mau tidak menjadi kekasihku ? Aku tidka bisa tidur jika tak melihat senyummu.”
Gia : “Hyperbola, kamu.”
Deka : “Apa kamu tidak suka denganku, Gia ?”
Gia : “Deka Deka, mana ada sih perempuan yang mau menolakmu.”
Deka : “Jadi kamu menerima cintaku ?”

Gia mengangguk. Deka memeluk Gia karena saking senangnya. Jadi kali ini mereka benar-benar pacaran. Gia mendapatkan pekerjaan yang semestinya untuk perempuan, dan Deka membuka cabang baru. Sedangkan Masya kembali ke Belanda.

Senin, 18 Maret 2013

# PACAR BOHONGAN #


Billa, adalah salah satu perempuan yang mengagumi anak baru di sekolahnya yang bernama Uta. Maklum saja, Uta ini adalah anak blasteran Indo-Jepang yang baru datang ke Indonesia untuk sekolah. Uta termasuk anak yang keren, cakep, dan pintar. Walaupun lama tinggal di Jepang, dia mahir sekali berbahasa Indonesia. Jadi dia tak kesulitan untuk bergaul dengan teman-teman barunya.
Jam istirahat tiba, Billa dan teman culunnya, Joko, makan di kantin. Tiba-tiba gadis-gadis menyuarakan nama Uta, begitu kaget Billa hingga ikut-ikutan celingukan mencari Uta. Tiba-tiba Uta malah duduk di samping Jono. Gadis-gadis masih menggerombol mengikuti Uta.

Billa : “Woy !! Jangan ganggu Uta !! Dia kan mau makan !!”
Alia : “Sirik aja, Lo !! Lagian kan bagusnya Uta makan bekal, bukan jajan.”
Jono : “Lebih baik kalian pergi deh. Kalau tidak nanti aku kasih kalian upil. Hueeee !!” ( mengorek- orek hidung mencari upil )

Karena merasa jijik dengan sikap Jono, gadis-gadis itu pergi, dan kini tinggal Billa, Uta, dan Jono. Mereka berbincang-bincang. Billa benar-benar mati gaya, ketika Uta berbicara padanya, tubuhnya kaku. Dia melihat bibir sexy Uta, dan mata yang gotik harajuku itu. Dia meleleh.

Uta : “Terimakasih, atas bantuan kalian, ya.”
Billa : “Sama.. sama.. Uta.” ( gagap dan gugup )
Jono : “Kalau ada mereka lagi, bertingkahlah jorok, pasti mereka kabur.”
Uta : “Jorok ?? Bisa jadi alternatif . Tapi ada yang lebih sehat lagi ?”
Billa : “Kamu harus punya pacar, Uta.” ( tersenyum. Idenya tiba-tiba muncul )
Jono : “Pacar !!” ( kaget, karena selama ini Jono menyukai Billa )
Uta : “Pacar, ya ?”
Billa : “Iya. Kalau kamu punya pacar pasti mereka tidak akan mengganggumu. Mereka akan illfeel denganmu. Tapi tenang saja, citramu tidak akan pudar.”
Uta : “Boleh juga. Tapi siapa ya. Mencari pacar kan tidak mudah.”
Billa : “Pacar bohong-bohongan kan bisa, Uta.”
Uta : “Waaah, kamu benar-benar cerdik. Tapi siapa yang mau ya ? Masa' sih aku harus memohon kepada para gadis itu.”
Billa : “Aduh, jangan jauh-jauh mencari, Uta.” ( matanya genit )
Jono : “Billa, apa-apaan sih kamu.”
Billa : “Apa sih. Ishhh.”
Uta : “Kamu ?? Kamu benar-benar mau jadi pacar bohonganku ? Tidak takut dengan resiko ?”
Billa : “Perempuan mana yang tidak mau punya pacar sepertimu, Uta. Walaupun bohong-bohongan. Resiko mah, gampang, Uta. Tak perlu kamu pikirkan.”
Jono : ( berdiri menggebrak meja ) “Tidak !! Bil, kamu ini !!”
Billa : “Aku kenapa, Jon !!”
Jono : ( pergi meninggalkan Uta dan Billa )
Uta : “Kenapa temanmu itu ?”
Billa : “Entahlah. Sudah, diamkan saja dia. Jadi bagaimana, Uta ?”
Uta : “Yaaa, jadi kamu mau tidak jadi pacar bohonganku ? Aku janji deh, apapun yang kamu mau aku akan turutin.”
Billa : “Hahahha.. Aku menolongmu iklas kok. Tenang saja.” ( berbisik sendiri ) “Kalau bisa balasannya jadi pacar sesungguhnya.”
Uta : “Apa, Bil ? Kamu ngomong apa barusan ?”
Billa : “Ahahah.. tidak. Bukan apa-apa.”

Seminggu berlalu, Uta dan Billa menjalani kisah asmara yang tidak serius. Tapi Billa dan Uta masing-masing malah merasakan ingin benar-benar menjalin cinta yang sesungguhnya. Tapi Uta berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta dengan warga Indonesia. Kali ini dia benar-benar harus menjaga janjinya itu.
Hari berganti hari, Uta duduk sendirian di taman sekolah. Maklum saja, semenjak pura-pura berpacaran dengan Billa, gadis-gadis illfeel untuk mendekati Uta. Selain itu Billa terkenal preman dan suka menggertak teman-temannya yang jahat pada yang lemah. Billa termasuk anak yang periang, tomboy dan selalu ceria, walaupun hatinya benar-benar terpuruk karena orangtuanya selalu bertengkar, bahkan pernah dia mendengar kata cerai. Keluarganya sudah hampir hancur.

Uta : “Huft, kenapa hatiku seperti ini, ya. Baru kali ini aku menemui gadis seperti Billa. Di Jepang sana, banyak yang sexy dan cantik-cantik. Tapi Billa benar-benar berbeda. Ada apa dengan Billa, kenapa dia mengusik pikiranku, hatiku selalu gemetar memikirkannya. Jika memang aku jatuh cinta padanya, berarti aku sudah melanggar janjiku.”

Lain halnya dengan Billa, dia malah senyam-senyum membayangkan hari-harinya bersama Uta, walaupun hanya pura-pura, dia sangat senang dan melayang,

Billa : “Aduh, Uta. Kenapa ada makluk yang indah sepertimu di dunia ini. Bibirmu yang sexy, bahkan lebih sexy bibirmu daripada bibirku. Semoga siang-siang begini ada bintang jatuh, dan aku akan berdoa suapa Uta benar-benar jadi pacarku. Hahahha”

Tiba-tiba ada yang menimpuknya dengan botol minuman bekas. Ternyata Alia.

Billa : “Woy !! Macam-macam, Lo, ya !!”
Alia : “Heh, Lo apakan Uta ! Kenapa dia jadi tergila-gila sama Lo !”
Billa : “Heh !! Jangan sembarangan kalau bicara, ya ! Gue mah asli, non embel-embel. Dari hati.”
Alia : “Bohong !! Lo pasti main dukun !!”
Bila : “Astagfirullah, heh, pikiran Lo cetek sekali ternyata ya.”

Tiba-tiba Jono datang melerai mereka.

Jono : “Hey hey hey !!! Stop !! Kalian ini seperti ibu-ibu di pasar berebut daging ayam saja.”
Alia : “Iya. Memang, kok. Daging ayamnya , ya Uta.”
Jono : “Uta lagi, Uta lagi. Heh, kalian apa tidak pernah berfikir semenjak Uta ada di sini, sekolah kita selalu saja bermasalah. Apalagi kalian ini.”
Billa : “Heh, Jon, ini tidak ada urusannya dengan Uta. Dia mah sekolah ya sekolah saja, dia di sini mau sekolah. Kamu sih, tidak tahu kehidupan Uta.”
Jono : “Iya, aku memang tidak tahu kehidupan Uta. Tapi aku tahu karakternya. Dia hanya ingin tebar pesona dan membohongi para gadis dengan kekerenannya. Kali ini dia membohongimu, Bil. Sadarlah. Kamu telah ditipu daya olehnya.”
Billa : “Astagfirullah. Pikiran kalian ini benar-benar cetek sekali. Sudahlah, bodo amat.” ( pergi )
Alia : “Lo kenapa begitu, Jon ? Apa benar Uta seperti itu ?”
Jono : “Tidak. Tapi aku merasa tersingkir setelah kehadiran Uta di hati Billa. Padahal dari dulu, aku menyukai Billa, Al.”
Alia : “Cinta memang kadang tidak adil, Jon. Tapi kuatlah, di luar sana pasti kamu menemukan yang lebih baik dari Billa, jika dandananmu juga diubah.” ( pergi )

Terlintas, Jono tersadar. Selama ini dia tidak pernah pacaran karena dia sangat culun. Jadi dia berencana untuk mengubah penampilannya agar semua gadis tertarik padanya, termasuk Billa.
Keesokan harinya, seperti biasa, Uta memboncengkan Billa dengan naik mobil. Mereka melihat kerumunan gadis-gadis, dan dengan penasarannya mereka juga melihat. Astaga, Jono berubah penampilan. Dia terlihat lebih keren dari Uta.

Billa : “Jono !!?”
Jono : “Hay, Billa. Bagaimana penampilanku ?”
Billa : “Ini... ini mah, keren sekali !!!”
Jono : “Ya dong.”
Billa : “Gila, kamu. Hebat. Belajar dari mana, Jon, kamu berubah seperti ini ?”

Jono : “Ada pokoknya. Seseorang. Hehehhe.”
Billa : “Hebat.”

Begitu terkagum-kagumnya Billa pada Jono hingga melupakan Uta yang dari tadi melihat perubahan sikap Billa. Pikirnya, Billa termasuk anak yang plinplan. Begitu melihat yang lebih keren, lalu meninggalkan yang lama. Dengan rasa sedih, Uta pergi. Hingga beberapa lama, Billa mencari Uta. Akhirnya mereka bertemu, di pintu gerbang belakang sekolah.

Billa : “Uta !!”
Uta : “Billa ?”
Billa : “Dari mana saja, kamu ? Aku mencarimu.”
Uta : “Dari tadi aku di sini. Kamu lupa, ya denganku gara-gara melihat Jono berubah seperti itu ?”
Billa : “Aduh, maafkan aku, ya, Uta. Aku tidak bermaksud seperti itu.”
Uta : “Tidak apa-apa, kok, Bil.” ( bersedih )
Billa : “Kenapa kamu bersedih, Uta ?”
Uta : “Ah, ketahuan juga kalau aku bersedih, ya ? Sebenarnya, aku berfikir suatu hari nanti akan menyatakan cinta padamu. Tapi sepertinya kamu hanya bermain-main denganku.”
Billa : “Maksudnya bagaimana, sih, Uta ?”
Uta : ( menggeram pundak Billa ) “Aku suka padamu !!”
Billa : ( kaget ) “Uta ??”
Uta : “Tapi aku melihat perubahan sikapmu, kamu begitu tergoda dengan Jono yang berubah menjadi keren itu. Aku sedih, Bil. Aku tahu, kamu juga suka kan padaku ? Pandanganmu waktu itu kepadaku itu sudah membuktikannya.”
Billa : “Perlu kamu tahu, Uta, aku tidak berubah setelah melihat Jono, Uta. Aku hanya takjub. Kamu tahu, kan bagaimana Jono itu. Culun sekali. Bahkan lebih culun dari yang culun-culun. Aku suka padamu, Ta. Aku sangat suka dan ingin sekali menjadi pacar sesungguhnya. Tapi aku tidaklah sempurna sepertimu. Aku tidak cantik, dadaku tidak besar, pahaku tidak mulus, nafasku bau, dan aku seperti laki-laki.”
Uta : “Jika kamu suka padaku, pukullah aku yang sudah berburuk sangka padamu. Bahkan aku telah melanggar janjiku, aku tidak akan jatuh cinta pada perempuan Indonesia, tapi kenyatannya aku benar-benar menyukaimu. Sungguh-sungguh menyukaimu.”
Billa : “Uta ...”

Billa memeluk, dan menangis di pelukan Uta. Uta malah mencium bibir Billa dengan mesra. Jono yang melihat kejadian itu merasa tak berguna, dia sudah susah payah merubah dirinya, tapi Billa tidak mengganggapnya. Kini Billa dan Uta resmi pacaran, sedangkan Jono kembali culun seperti biasa, namun Billa dan Jono masih bersahabat.



Senin, 11 Maret 2013

# MAKO, THE GHOST CLOWN #



          Terdapatlah seorang cewek berusia 19 tahun sedang melamun merenungi nasibnya. Pasalnya, sejak kematian sang ibu 5 tahun yang lalu, kehidupannya berubah drastis. Ayahnya menikah dengan seorang wanita yang sudah mempunyai satu anak laki-laki. Usia kedua anak itu hampir sama. Ibu tirinya kejam kepadanya, hingga suatu ketika, anak itu dikunci di gudang yang gelap dan berdebu.
Malam tiba, Anya, nama anak itu, mendengar suara-suara mengerikan di gudang. Dia ketakutan dan mencoba membuka pintu gudang namun tak bisa. Hingga seseorang tak dikenalnya datang, menghampiri Anya.

Mako : “Hayy, cewek manis. Mau coklat ??” ( memberikan coklat )
Anya : “Kamu siapa ??” ( menerima coklat )
Mako : “Panggil aku Mako.”
Anya : “Mako ?? Tapi dari mana kamu datang ??”
Mako : “Aku selalu datang dimana-mana ketika ada anak yang sedih. Sekarang aku datang padamu. Jangan sedih lagi ya, anak manis.”
Anya : “Tapiii...”
Mako : “Kamu mau bermain ? Kamu sudah lama dikurung di sini, kan ?”
Anya : “Tapi aku tak bisa keluar dari sini. Aku dikunci di sini selama seminggu.”
Mako : “Kalau ada Mako, semua pasti bisa.”

           Tak diduga, pintu gudang terbuka. Mako yang melakukannya. Dan Anya pun bisa keluar gudan. Kebetulan Ayah, ibu tiri dan Randy sedang pergi kondangan. Sebenarnya Randy anak yang baik. Sejak pertama berjumpa, Randy sudah jatuh hati pada Anya. Jika sudah besar, Randy akan menjaga Anya. Tapi semua terlambat. Orangtua mereka menikah, dan pupus sudah harapan Randy.
           Dengan bebas, Anya jalan-jalan ditemani Mako. Anya tak tahu siapa itu Mako. Mako adalah seorang badut yang telah mati beberapa tahun yang lalu sebelum dibangunnya rumah Anya. Bahwasanya Mako meninggal di tempat di mana rumah Anya berdiri. Dia bangkit kembali. Hanya Anya yang bisa melihat Mako. Mako dulu adalah badut yang lincah, dan energic. Juga lucu dan bertingkah bodoh, tapi cerdik. Jadi hantu pun dia juga bertingkah konyol.

Anya : “Mako, aku boleh bertanya ?”
Mako : “ Tanyakan apa yang akan kamu tanyakan padaku.”
Anya : “Darimana kamu datang ?”
Mako : “Dari hatimu yang pilu.”
Anya : “Hatiku ?”
Mako : “Yap yaaap. Hatimu memerlukan seseorang yang bisa menghiburmu. Kurasa kamu butuh aku. Jadi aku datang.”
Anya : “Aku memang butuh seseorang yang selalu menghiburku. Aku selalu disiksa oleh ibu tiriku. Bahkan dihadapan ayah kandungku.”
Mako : “Yaaap, aku tahu semua kesedihanmu itu. Sekarang ada aku yang akan selalu menghiburmu. Jadi jangan bersedih lagi, ya, anak manis.”

           Badut Mako mengelus rambut Anya dan mencium bibir Anya. Sebenarnya, Mako belum benar-benar tua. Bahkan dia belum sempat menikah. Dia terlanjur mati karena menolong pacarnya yang hendak tertabrak mobil itu, dan malah Mako yang mati. Jika dia tak bermake up badut, dia termasuk cowok yang tampan dan keren.
           Baru pertama kalinya Anya dicium oleh seorang badut. Dari kecil sebenarnya Anya sudah suka dengan badut-badut, tapi baru kali ini dia benar-benar dekat dengan seorang “hantu” badut.

Anya : “Mmm... Mako.”
Mako : “Mm, maaf maaf. Soalnya ketika kamu bersedih, bibirmu mungil sekali.”

          Mereka terdiam beberapa saat.
          Mako bertingkah, dia mengajak Anya berdansa. Tiba-tiba saja sekitar mereka berubah menjadi suatu tempat yang romantis. Ada bunga-bunga yang sedang bermekaran, kolam ikan yang indah, dan musik romantis. Baju Anya juga berubah menjadi gaun pengantin yang sexy.

Anya : “Ahh, Mako... Ini...” ( takjub dan tersenyum )
Mako : “Ini apa, Anya ?* ( suaranya lirih dan sexy, berbisik di telinga Anya )
Anya : “Ini indah sekaliii... !!”
Mako : “Kamu senang ?”
Anya : “Iya. Seumur-umur baru kali ini aku merasakan semua keindahan ini.”
Mako : “Ini akan lebih indah jika kita bersama, Anya. Jalani hidup ini bersama-sama.”

          Mendengar itu, ilusi Anya buyar. Semua keindahan itu hilang seketika.
Gubraaakk !! Seekor tikus menjatuhkan beberapa benda di dalam gudang, membuat Anya terbangun. Dia kaget, kenapa dia kembali di gudang lagi. Padahal dia sudah dibebaskan oleh Mako. Anya sedih kembali. Tiba-tiba ada yang membuka pintu gudang, Anya pikir itu Mako, ternyata Randy.

Anya : “Mako !!”
Randy : ( kaget ) “Siapa Mako itu Anya ?”
Anya : “Mmm, bukan siapa-siapa. Mm, ada apa, Randy ?”
Randy : “Disuruh makan. Ayah sudah pulang. Maafkan ibuku ya, Anya.”
Anya : “Tak apa-apa. Sudah biasa kok.”
Randy : “Ya sudah, ayo makan.”

          Anya sedih lagi. Karena dia benar-benar kehilangan Mako. Dia masih memandangi gudang, walaupun dia terus berjalan menuju ruang makan. Tiba-tiba ada tangan yang melambai. Melihat itu Anya tersenyum.
Seminggu kemudian, Anya tak berjumpa lagi dengan Mako. Bahkan Anya berniat tidur di gudang. Tapi dia tak berjumpa dengan Mako.
          Malam tiba, Anya duduk-duduk di ayunan depan rumah. Ayunan masa kecilnya yang masih bagus hingga sekarang. Rumah sepi, hanya ada Anya sendirian. Tiba-tiba ada seseorang yang mengejutkan Anya dari belakang. Membawa lollypop love. Kali ini, itu bukan mimpi. Dia benar-benar bertemu dengan hantu badut Mako.

Mako : “Hay, manis.”
Anya : “Haaa.. Mako ??”
Mako : “Iya. Permen mau ?” ( memberi permen )
Anya : “Mau. Mako.. aku rindu padamu.” ( memeluk Mako erat )
Mako : “Maafkan, aku tak menemuimu. Aku juga rindu kamu. Tapi....” ( bersedih )
Anya : “Lhoh, kamu kok bersedih ? Bukankah badut tidak pernah bersedih ?”
Mako : “Heheh.. bukan apa-apa, kok. Kamu mau bermain, Anya ??”
Anya : “Iya. Ayo main ayunan.”
Mako : “Oke, aku dorong, ya.”
Anya : “Yang kencang ya, Mako.”

           Anya dan Mako bermain. Banyak tetangga yang melihat keanehan Anya. Bermain sendirian tapi begitu senang. Dorongan Mako begitu kuat sehingga membuat Anya pusing.

Anya : “Hahha.. cukup Mako. Ini membuatku pusing. Aku mau istirahat.”
Mako : “Hahha.. okelah. Maaf, ya.”

           Karena pusing, jalan Anya sempoyongan, dan terjatuh. Untung saja Mako siap siaga menjaga Anya. Anya tak jadi jatuh karena Mako menahan tubuh Anya agar tak kena tanah. Wajah mereka berhadapan begitu dekat. Mata mereka berbinar-binar. Seketika itu sekitar mereka berubah menjadi indah, sama seperti ketika waktu itu, tapi sekarang Mako tak bermake up badut. Keren, tampan, dan lucu. Jantung Anya berdegup kencang.

Anya : “Mako.. kamu....”
Mako : “Apa Anya ?” ( suaranya lirih dan sexy, berbisik di telinga Anya )
Anya : “Ini kedua kalinya. Ini bukan mimpi, kan ? Aku harap ini bukan mimpi.” ( matanya masih menatap mata Mako yang indah )
Mako : “Ini bukan mimpi, Anya. Ini benar-benar terjadi. Kamu senang, kan ?”
Anya : “Iya. Aku senang sekali, Mako. Terimakasih, ya.”
Mako : “Sama-sama, Anya. Aku senang jika kamu senang. Kamu ini mirip sekali dengan seseorang yang dulu pernah aku sayangi. Tapi aku ingin menyayangimu. Tapi apa aku bisa ??”
Anya : “Maksudnya ? Kamu menyayangiku, Mako ?”
Mako : “Yah. Tapi... kehidupan kita telah berbeda, Anya.”
Anya : “Jangan tinggalkan aku, Mako. Aku sayang padamu.”
Mako : “Aku pun juga, Anya. Aku sayang padamu.”
Anya : “Mako, aku ingin bersamamu. Aku tak peduli jika aku harus mati. Ajak aku bersamamu. Aku sudah tak sanggup menjalani kehidupan ini. Aku ingin selalu bersamamu. Saat sedih, bahagia, ataupun mati.”
Mako : “Kamu yakin ? Kamu tak takut ?”
Anya : “Aku hanya takut kehilanganmu. Di sini juga aku tak bisa bahagia.”
Mako : “Baiklah kalau kamu memaksa. Tapi, aku akan tetap menjaga dan akan selalu menghiburmu. Sekarang, mendekatlah kepadaku. Pejamkan matamu.”
Anya : “Tidak. Aku ingin melihat matamu.”
Mako : “Baiklah. Sekarang mendekatlah kepadaku lebih dekat lagi. Lagi.”

           Glek... Mako mencium bibir Anya. Terus menciumi, dan terus, terus. Hingga mereka terbang ke langit, mereka terus berciuman. Dan mereka pun hidup bahagia.

Minggu, 13 Januari 2013

# BERTEMU GOLDEN BOMBER #

Dikisahkan pada suatu hari, sebut saja Naku, cewek yang sama seklai tidak ada cantik-cantiknya ini sedang membayangkan yang asik-asik, tak sengaja dia ketiduran. Dia bermimpi. Di mimpinya dia bertemu dengan sang idola, GOLDEN BOMBER, salah satu band yang sangat dia sukai. Bahkan dikamarnya banyak sekali tempelan foto dan gambar yang berbau Golden Bomber. Dia agak aneh memang, tak punya teman, makanya dia bertingkah overlike kepada Golden Bomber itu.
Di mimpinya, ketika dia sedang berada di rumah sakit bersalin menemani ibu menjenguk temannya yang melahirkan, matanya tercengang melihat ada kerumunan orang banyak. Tapi dia acuh saja, mungkin itu orang yang baru saja melahirkan bayi kembar 10, pikirnya begitu. Ketika Naku masuk ke ruangan teman ibunya itu, tiba-tiba matanya kembali tercengang melihat ada 4 cowok dengan pakaian warna-warni, merah, ungu, orange dan hijau, dengan make-up era 80-an. Siapa mereka, pikir Naku, kenapa di rumah sakit bersalin ada macam mereka.
Merasa mengenal mereka, Naku pun lari menyusul mereka yang jaraknya sudah cukup jauh. Jatuh bangun tapi dia terus mengejarnya. Dilihatnya mereka sudah sampai ke sebuah labirin tembok yang sempit dan remang-remang.
Tiba-tiba saja, keempat orang itu berhasil ditemukan, dia takjub, tak bisa bicara apa-apa, darahnya seakan berhenti, tulangnya seakan remuk dan meleleh, dia melihat GOLDEN BOMBER secara langsung !!! Dia sangat terkejut. Dia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa, hanya berdiri bagai patung. Dengan kekuatan penuh, dia memanggil,

Naku : “GOLDEN BOMBEEEEEEEEEERRRRRRRRRRRRRR !!!”

Tiba-tiba salah seorang yang berpakaian ungu menoleh ke belakang ke arah suara Naku. Dan tak diduga-duga, orang itu malah memeluk Naku lama sekali, dan malah Naku diciumnya. Cium bibir. WOW !!! It's very good !!! Naku like it !!! Ketiga orang yang lain malah tersenyum.
Setalah lama mereka berpelukan dan berciuman, Naku diajak ke sebuah ruangan rahasia milik Golden Bomber yang ternyata ada di salah satu rumah sakit bersalin di kotanya. Di dalam ruangan tersebut Naku dimanjakan oleh keempat orang itu, bahkan yang memakai pakaian ungu selalu melindunginya dari yang berpakaian merah. Sebut saja yang berpakain ungu adalah Kiryuuin sang vocalis, orange Kyan sang gitaris, hijau Jun sang bassis, dan yang berpakaian merah, yang paling gila dan yang paling tua, Kenji sang drummer.
Di ruangan itu Naku dan Kiryuun berdua berbincang-bincang.

Naku : “Ini sangat WOW !!”
Kiryuuin : “Apanya yang WOW ?”
Naku : “Ketemu kalian, terutama ketemu kamu. Di antara kalian aku sangat mengagumimu. Kamu konyol, lucu, imut, dan multitalen.”
Kiryuuin : “Darimana kamu tahu ?”
Naku : “Yaaa, dari sumber terpercaya, kak. Hehehhe.
Kiryuuin : “Kamu begitu mengagumiku, ya ?”
Naku : “Iya.” ( dengan sangat polosnya )
Kiryuuin : “Apa lagu kesukaanmu ?”
Naku : “Semua lagu Golden Bomber kusukai. Bahkan kalian. Tapi kenapa kalian tidak benar-benar memainkan musik ?”
Kyan : ( tiba-tiba bergabung, diikuti Kenji ) “Itulah keunikan kami, Naku-chan.”
Kenji : “Yap. Itu keunikan dan kegilaan kami. Kamu sudah tahu tentang kami begitu banyak ?”
Naku : “Iya. Sangat. Sudah hampir setahun lebih aku mengagumi Golden Bomber.”
Kiryuuin : “Kamu memang The Little Bomber, Naku-chan.”

Tiba-tiba saja, ada salah seorang yang masuk ke dalam mimpi Naku. Dia adalah Hoshizawa, cewek ini ternyata juga pengagum berat Golden Bomber, terutama kepada Jun. Hoshizawa masuk ke dalam mimpi Naku dan mendekati Jun. Mereka berdua juga berbincang-bincang sama seperti Naku dengan Kiryuuin. Mereka berenam menggila di ruangan itu dan bermain-main.
Mimpi itu sangat menyenangkan Naku, sampai-sampai Naku terlena dengan semuanya, termasuk juga Hoshizawa. Tiba-tiba saja ketika Naku dan Hoshizawa terbangun ( masih di mimpi ), mereka terkejut karena keduanya tidur dengan salah satu yang mereka kagumi. Naku tidur dengan Kiryuuin, Hoshizawa tidur dengan Jun. Mereka telah …....................... .
Karena merasa takut, Naku terbangun dari mimpinya. Dia tercengang, ternyata hanya mimpi, padahal dia sangat berharap itu akan menjadi nyata. Berniat ingin melanjutkan mimpinya, dia malah tidak bisa tidur. Lalu dia punya ide, yaitu melihat beberapa video Golden Bomber yang ada di hp. Tiba-tiba saja dia mengantuk, dan kembali lagi di mimpi itu, tapi di sana masih ada Hoshizawa yang bertahan untuk Jun.

Hoshizawa : “Woaccch, Jun, kenapa jaid seperti ini kita ?”
Jun : “Tidak apa-apa, aku akan bertanggungjawab.”
Naku : ( berbisik kepada Hoshizawa ) “Ini hanya mimpi. Tidak perlu takut.”
Hoshizawa : “Yang benar ? Yaaah, kenapa hanya mimpi. Padahal aku benarbenar berharap bisa bertemu dengan Golden Bomber secara nyata.”
Naku : “Ya aku juga. Tapi mimpi pun aku sudah senang. Lalu, bagaimana, sebentar lagi sudah pagi. Dan kita sudah tidak bisa lagi bersama-sama mereka.”
Hoshizawa : “Kita puas-puaskan ini. Lalu kita terbangun dan ceritakan kepada buku harian lalu kita kasihkan kepada anak cucu kita.”
Naku : “Beeehhh. Ya sudah, ayo kita segera menghampiri Kiryuuinku sayang...”
Hoshizawa : “Aku kan Jun. Sayang, aku datang !!!”

Hari hampir pagi, dan mereka segera memuaskan untuk bermimpi dengan band idolanya tersebut. Mereka benar-benar overlike kepada band yang tidak benar-benar memainkan musik ini. Hanya sesekali Kyan memainkan gitar ketika mereka live.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima, bayangan Kiryuuin, Kyan, Jun dan Kenji seakan memudar. Tambah pudar, dan hampir hilang. Semakin lama kian hilang, dan sekarang hilang.
Naku dan Hoshizawa pun bersedih. Kapan lagi mereka bisa bertemu dengan Golden Bomber walau pun hanya dalam mimpi.
Naku terbangun dari tidurnya. Tubuhnya berkeringat dingin. Tiba-tiba saja tangannya menyentuh sesuatu. WOW, sebuah stick drum milik Kenji, pick milik Kyan, gantungan berbentuk Gachapin, kalung boneka milik Jun, dan sebuah baju berlogo tamiya milik Kiryuuin serta sepasang sandal karet milik Kiryuun juga. WOW, SUPER DUPER WOW !!!! Dengan wajah penuh tawa, Naku mengambil dan menyimpannya untuk kenang-kenangan. Ini benar-benar WOW dan ajaib !!!



LIFE IS SHOW TIME !!! Magic ka!? maji de!? maji da!!!! Show Time !!!
MOU BANDMAN NI KOI NANTE SHINAI !! Zutto isshou da yo" to itte kureta kimi wo omoidasu 


Rabu, 19 Desember 2012

# KISAH CINTA SISI #

Sisi, cewek yang satu ini gampang banget jatuh cinta. Dia termasuk cewek yang pemalu, tapi juga kadang narsisnya ga' ketulungan. Walaupun begitu sekalipun dia belum pernah pacaran.
Pada suatu hari, ketika di kelasnya kedatangan siswa baru bernama Dio, cowok cakep, tajir, dan ternyata sangat pintar ini membius hati Sisi. Padahal sebelmunya dia menyukai Yasa.

Ibu guru : “Anak-anak, hari ini kalian memiliki teman baru. Silahkan perkenalkan diri.”
Dio : “Hai, nama saya Dio Satyawardana. Panggil saja Dio. Salam kenal.”
Siswa : “Salam kenal !!!”
Sisi : “Hai Dio. Sini duduk dekat aku.”
Siswa : “Huuuu !!!” ( menyoraki Sisi )
Ibu guru : “Dio, kamu duduk di depan yang bicara tadi ya. Namanya Sisi.”
Dio : “Terimakasih, bu.”

Perlahan namun pasti Dio berjalan menuju kursi yang ditunjukkan ibu guru tadi. Dan ketika itu pula Sisi membayangkan Dio bak Pangeran yang hendak menjemput Putri. Dan ketika Dio memanggil Sisi, Sisipun tersadar akan lamunannya.

Dio : “Hai, Sisi.”
Sisi : “Ehh, Dio. Hay juga.” ( Tersenyum manis )

Ting tong ting tong... Tong ting ting tooong... Bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Sengaja Sisi menunggu Dio, karena beberapa jam sebelumnya Sisi mengajak pulang bareng, dan Dio mengiyakannya karena memang mereka sejalur. Tapi beberapa lama ditunggunya Dio tak muncul juga. Tiba-tiba ada ada Yasa menghampiri Sisi.

Yasa : “Si, nunggu siapa kok belum pulang ?”
Sisi : ( Gelagapan, karena salting ) “Eh, Yasa. Ga' kok, lagi nunggu Devi.”
Yasa : “Devi bukannya sudah pulang daritadi ?”
Sisi : “Benarkah ?? Wah, dasar dia.”
Yasa : “Kalau begitu pulang bareng aku saja?”
Sisi : ( Karena masih ada perasaan suka, tanpa ragu Sisi mau ) “Ya, boleh. Kebetulan.”
Yasa : “Ya sudah. Ayok.”

Tak berapa lama setelah itu, Dio muncul. Tapi dicarinya Sisi tak ketemu juga, apalagi mereka belum bertukar nomor telpon.
Tiba di rumah, ada Hani temannya datang hendak belajar bersama. Sisi menceritakan semua apa yang dirasakannya.

Sisi : “Jadi begitu, Han. Kenapa sih, aku tercipta seperti ini.”
Hani : “Sebaiknya kamu harus menahan dirimu. Menahan hatimu.”
Sisi : “Susah, Han. Kamu tahu sendiri aku gimana kan ? Kita sudah sama-sama terus sejak SMP, harusnya kamu tahu aku.” ( Sambil nulis ga' jelas ).
Hani : “Iya. Aku tahu kamu. Dulu kamu pernah suka sama Didi anak klimis itu, kan ? Sekarang dia keren lho. Mau tahu dia SMA di mana ga ?”
Sisi : “Ah, aku sudah ga' peduli dengan Didi. Selain itu dia kan memang sombong kan ?”
Hani : “Ya ya, benar apa katamu. Jadi sekarang kamu gimana ?”
Sisi : “Aku bingung. Sukaku ke Yasa sebenarnnya lebih besar daripada ke Dio. Sepertinya juga Yasa lebih perhatian kepadaku ketimbang Dio.”
Hani : “Jelas saja. Kamu dan Dio kan baru kenal. Dio juga belum tahu siapa kamu kan ?”
Sisi : “Ya benar juga sih. Tapiiii.... Bingung, Han.”
Hani : “Apa perlu bantuanku ? Sekarang, yang paliiiiiiiing paling kamu suka siapa ?”
Sisi : “Yasa, Dio, Yasa, Dio... Aaahhh !!”
Hani : “Kusarankan Yasa. Kamu baru kenal dengan Dio. Belum tahu siapa Dio itu kan ?”
Sisi : “Kupikirkan dulu, ya, Han.”

Keesokan harinya di sekolah. Ternyata Dio sudah ada di kelas ketika Sisi baru saja sampai di sekolah. Sisi meyapa Dio yang sedang membaca komik itu.

Sisi : “Hay, Dio. Pagi sekali kamu datang.”
Dio : “Iya. Aku kan mau menyambutmu, Si.”
Sisi : ( Melayang ) “Ah, kamu bisa saja. Eh, baca komik ya ?”
Dio : “Iya. Kamu suka komik juga ?”
Sisi : “Aku lebih suka majalah sih sebenarnya.”
Dio : “Ya maklum saja. Kamu kan cewek. Hehhe.”
Sisi : “Kemarin kamu lama banget. Kemana saja sih.”
Dio : “Oh, maaf ya. Kemarin aku ke toilet. Kebelet pipis.”
Sisi : “Kalau begitu, aku minta omor hp-mu saja biar kalau ada apa-apa aku bisa menghubungimu.”
Dio : “Ya, boleh saja. Catet, ya.”

Tiba-tiba Yasa datang. Untung saja Sisi sudah mencatat dengan cepat nomor hp Dio.

Yasa : “Hay, Si. Hay, Dio.”
Sisi : “Hay juga, Yas.”
Yasa : “Wach, berduaan saja. Maaf ya mengganggu.”
Sisi : ( Cemberut, tapi memang Yasa belum tahu perasaan Sisi ) “Ga' apa-apa kok, Yas.”
Yasa : “Kamu sudah makan belum, Si ? Kalau belum ayok makan bareng aku.”
Sisi : “Tapi kan aku lagi sama Dio.”
Dio : “Ga' apa-apa kok, Si. Tadi aku juga sudah makan. Sana, makan dulu, nanti pingsang lho pas pelajaran.”
Sisi : “Mmm... Ya sudah, aku tinggal ya, Dio.”
Yasa : “Pergi dulu, ya, Dio.” ( Pergi ke kantin bersama Sisi )
Dio : “Iya. Ternyata Yasa yang lebih penting, ya ?”

Tiba di kantin, Yasa memesankan makanan untuk Sisi. Yasa memang perhatian, tapi apakah Yasa juga menyukai Sisi. Makanan sudah siap. Sisi pun ingin bertanya.

Sisi : “Yas ?”
Yasa : “Ya, apa, Si ?”
Sisi : “Kamu perhatian sekali ya denganku ?”
Yasa : “Kita kan teman, Si. Harus saling membantu.”
Sisi : “Tapi perhatianmu ke aku lebay, Yas!”
Yasa : ( Tercengang, kemudian tertawa ). “Hahahha... Kamu ini ada-ada saja. Makan dulu, Si. Nanti keburu masuk.”

Merasa kesal dengan sikap Yasa, Sisi pergi meninggalkan Yasa yang sedang asyik makan itu. Yasa bergumam sendiri.

Yasa : “Ada apa dengannya ya ? Kenapa dia begitu ? Sebenarnya aku merasa aneh dengan sikap dia. Dulu dia juga lebay perhatiannya kepadaku. Tiap hari dia suka sms aku, suka ngucapin pagi, malem ke aku. Apakah dia suka ya denganku ?”

Bel masuk berbunyi. Anak-anak mulai dengan pelajaran Fisika. Ya, pelajaran yang paling disukai oleh Sisi. Ibu Ratna adalah guru Fisikanya dan yang jelas sudah hafal sekali dengan Sisi. Karena Sisi pernah menang juara kedua lomba Fisika tingakat provinsi.

Ibu Ratna : “Sisi, silahkan maju ke depan.”
Sisi : ( Tampak lesu ) “Iya, Bu.”
Ibu Ratna : “Kamu kenapa, Si ? Kok lemes begitu ? Kalau sakit ke UKS saja.”
Sisi : “Iya, bu. Sepertinya saya sakit. Saya ijin ke UKS ya, Bu.”
Yasa : “Saya antar Sisi ya, Bu ?”
Ibu Ratna : “Iya. Sana.”

Yasa mengantarkan Sisi ke UKS. Di sana Yasa ingin bertanya pada Sisi kenapa sikapnya aneh seperti tadi.

Yasa : “Si.”
Sisi : “Apa, Yas ?”
Yasa : “Kenapa kamu tadi pergi meninggalkanku di kantin ?”
Sisi : “Tiba-tiba saja aku kenyang.”
Yasa : “Aku mau bicara sama kamu, Si.”
Sisi : “Apa ?”
Yasa : “Bagaimana perasaanmu ke aku ?”
Sisi : “Apa maksudmu bicara begitu ?”
Yasa : “Jawab saja. Aku sudah tahu, tapi aku hanya memastikan saja.”
Sisi : “Huft... Sejujurnya, aku suka denganmu, Yas. Cuma, itu dulu. Tapi terkadang aku memikirkanmu, terkadang aku merindukanmu. Seharusnya aku ga' begini. Hatiku mudah untuk jatuh cinta. Selama ini aku merahasiakannya padamu. Aku tahu, aku ga' pantas untukmu. Dan banyak hal yang membuat kita ga' bisa bersatu. Aku perhatian padamu, karena aku cinta sama kamu. Aku hanya ga' ingin kehilanganmu. Kamu orang yang baik, jika aku denganmu aku takut menyakitimu. Tapi kamu mungkin ga' suka denganku.”
Yasa : “Si, kamu ga' tahu saja perasaanku. Sebenarnya aku lebih suka kita bersahabat. Apakah perhatianku lebay dan membuatmu gerah ?”
Sisi : “Tidak. Aku hanya … aku hanya jatuh cinta kepadamu, Yas.” ( Memeluk Yasa dan menangis tersedu-sedu ).
Yasa : ( Memeluk erat Sisi juga ). “Kau tahu ? Setiap malam aku selalu memimpikanmu, aku juga merindukanmu, tapi maaf ya, Si, aku suka padamu hanya sebatas teman.”
Sisi : ( Pelukannya lebih erat ). “Aku tahu, aku tahu kamu akan bicara seperti ini. Tapi setidaknya aku sudah mengatakan apa yang ada di pikiran dan hatiku.”
Yasa : “Ya. Kita bahkan ga' pernah berpelukan sekuat ini, Si.”
Sisi : “Kalau aku sudah mengatakan seperti ini, aku harap kamu ga' akan pergi meninggalkanku, aku harap kita masih berteman, Yas.”
Yasa : “Kita pasti berteman selama-lamanya. Aku ga' akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu ada buatmu, Si. Aku janji.”
Sisi : ( Melepaskan pelukannya ) “Makasih, ya, Yas. Aku sudah lega rasanya.”


Yasa tercengang melihat airmata Sisi yang telah membasahi wajahnya itu. Dihapuskannya airmata Sisi, tak sengaja matanya menatap ke arah bibir Sisi yang mungil dan merah itu akibat tangisan Sisi. Merah merona, mungil dan yang pasti indah. Dengan pelan-pelan Yasa hendak mencium untuk menghangatkan Sisi. Bibir mereka kian dekat, bahkan semakin dekat. Sisi yang tahu maksud Yasapun memejamkan matanya. Dan akhirnya merekapun berciuman.

Keesokan harinya, pas jam istirahat Sisi dan Yasa duduk di taman .

Sisi : “Mmm, Yasa.”
Yasa : “Ya, Si ? Ada apa ?”
Sisi : “Tadi malam aku memimpikanmu lagi.”
Yasa : “Yang benar ? Aku juga, Si. Mmm, efek di UKS kemarin apa, ya ? Hehhe.”
Sisi : “Ah, kamu ini. Mmm, tapi sejujurnya aku senang, Yas, di UKS kemarin. ( Malu, membalikkan badannya membelakangi Yasa ).
Yasa : ( Membalikkan badan Sisi menghadapkannya ke dirinya ) “Si, maaf ya, aku telah mencuri ciuman itu. Seharusnya ciuman itu kan untuk orang yang benar-benar kamu suka. Maafkan aku”
Sisi : “Ga' apa-apa, Yas. Kan aku juga suka denganmu.”

Tiba-tiba Dio datang bersama dengan Hani. Mereka mencari Sisi. Akhirnya mereka menemukan Sisi dan Yasa berduaan. Dio merasa cemburu.

Hani : “Wach, kalian sudah jadian, ya ?”
Dio : “Kalian jadian ya ??” ( kaget ).
Yasa : “Siapa bilang ? Ga' kok.”
Hani : “Ga' jadian ya, Si ?”
Sisi : “Enggak, kok. Sumpah deh, Han.”
Dio : “Owhh..” ( Lega ) “Tapi kenapa kalian berduaan di sini ?”
Sisi : “Memangnya kenapa, ga' boleh apa ?? Noh, Devi sama Reno juga berduaan.”
Dio : “Si, aku mau ngomong sama kamu berduaan saja, bisa ?”
Yasa : ( Tercengang )
Sisi : “Mmm, ngomong apa ?”
Dio : “Kita berdua saja.”
Sisi : “Ya sudah.”

Sisi dan Dio pergi meninggalkan Yasa dan Hani. Dio ingin mengungkapkan perasaannya kepada Sisi.

Dio : “Kamu benar-benar ga' jadian kan sama Yasa, Si ?”
Sisi : “Enggak, Dio. Aku ga' jadian sama Yasa.”
Dio : “Syukur deh. Aku mau jujur padamu, Si. Kalau sebenarnya aku suka denganmu.”
Sisi : ( Tercengang ) “Hah ??”
Dio : “Aku suka padamu, Si. Mau ga' kamu jadi pacarku ? Aku harap sih kamu mau. Tiap malam aku selalu merindukanmu, Si. Aku mohon terima cintaku.”
Sisi : “Kebetulan, Dio. Sejak kita bertemu aku memang sudah suka denganmu. Tapi karena aku belum tahu lebih dalam tentangmu, aku pendam perasaan ini. Tapi jika aku menerimamu, aku mohon jangan sakiti aku.”
Dio : “Aku janji, Si. Aku sayang padamu. Aku ga' mungkin menyakitimu.”
Yasa : ( Ternyata daritadi nguping ) “Kalau Sisi disakiti, kamu berhadapan denganku, Dio !! Hahhaha !!!”
Hani : “Cieee... Akhirnya Tuhan mengabulkan doamu, Si. Hahah.”
Sisi : “Kalian... Aku jadi malu.”
Yasa : “Kamu kan memang pemalu, Sisi.” ( Mengelus kepala Sisi )
Dio : “Tenang, Yas. Demi apapun, aku ga' akan menyakiti Sisi. Jadi, diterima kan Si ?”
Sisi : ( Dia masih malu, dan akhirnya mengangguk bertanda dia mau menerima Dio ).

Semua senang, tapi ternyata hati Yasa sedikit sakit. Tapi tertutupi oleh candaan mereka. Dan mereka berempat pun akan bersama selamanya.

Selasa, 30 Oktober 2012

# AKU SUKA KAKAKKU #

Yuka, seorang cewek yang sudah 6 tahun ini diam-diam menyukai Kyo, cowok biasa-biasa saja tetapi menurutnya dia tampan. Padahal sebenarnya sudah 1 tahun yang lalu Kyo menikah dengan Megumi, karena memang umur Kyo sudah matang untuk menikah. Yuka menyukai Kyo sejak masih SMP. Umurnya 14 tahun, hingga umur 20 tahun ini, Yuka masih saja menyukai Kyo. Sedangkan umur Kyo sekarang sudah 25 tahun. Kyo menikah dengan Megumi dan memiliki satu anak perempuan yang bernama Yukito.

Pada suatu hari, ketika Yuka hendak berangkat kuliah. Tanpa sengaja dia melihat Kyo sedang buru-buru dengan mengendarai motornya. Karena perasaan suka masih tersimpan di hati Yuka, dengan kecepatan penuh mengendarai motornya, Yuka mengejar Kyo. Entah kemana Kyo, Yuka tak tahu.

“Kyo tadi kemana, ya ? Haduuh, cepat sekali menghilangnya.” kata Yuka sendiri. Lalu kembali ke kampus.

Di kampus pun Yuka masih terheran-heran dan bertanya-tanya. Kemanakah Kyo pergi ? Pikir Yuka mungkin telat kerja atau, apa ? Tiba-tiba saja lamunan Yuka dikagetkan oleh temannya, Misa.

“Hey, jangan ngelamun terus.” Misa mengagetkan.
“Eh, kamu, Misa.” Yuka terperangah.
“Kamu memikirkan apa, Yuka ?” tanya Misa.
“Bukan apa-apa, kok.” Yuka memang merahasiakannnya pada siapapun kalau dia menyukai Kyo. Bahkan orangtuanya pun tak tahu.
“Bohong. Aku tahu, kalau kamu seperti ini kamu pasti sedang jatuh cinta.”
“Lebih tepatnya clbk, Sa. Clbk pada orang yang belum pernah menjadi pacarku sebelumnya.”
“Maksudnya ?” Misa bingung.
“Yaaa, aku clbk. Pokoknya C-L-B-K.”
“Pada Sasori, ya ??” Misa menggoda.
“Bukan. Bukan Sasori. Dia sudah bekerja, dan bahkan memiliki anak.”
“Wach, ayo kita ke rumah sakit, Yuka. Sepertinya kamu sakit.”
“Tidak !! Aku sehat-sehat saja, kok. Ah, susah, ach ! Kamu tidak mengerti,sih. Coba kalau kamu jadi aku. Bingung pasti.” Yuka marah-marah.
“Aku jadi diriku sendiri saja sudah bingung, apalagi jadi kamu.”
“Baiklah. Aku akan ceritakan semua padamu. Dan ini adalah curhatku yang pertama kepadamu tentang orang itu. Misa, aku menyukai seorang cowok yang sudah 6 tahun kusukai. Hanya sebatas suka, tapi belum pernah pacaran dengannya. 6 tahun , sejak aku masih SMP, hingga sekarang perasaan ini masih ada di hatiku. Tapi sayang, dia sudah menikah dan memiliki anak.” Yuka menjelaskan.
“Pasti dulu kamu takut untuk mengungkapkan kalau kamu suka.”
“Jelas saja. Aku takut dia malah jauh denganku. Yaaa... Memang sebelumnya kita jarang berbincang-bincang. Bahkan tidak pernah.” Yuka meneruskan.
“Bagaimana kamu menyukainya kalau bicara dengannya saja tidak pernah ?”
“Entahlah. Perasaan itu muncul begitu saja. Dengan hanya melihat betapa indahnya dia. Dia seperti malaikat, Misa. Aku suka dengannya, mungkin bahkan lebih dari istrinya yang sayang dengannya.” Yuka membayangkan wajah Kyo.
“Kamu memang sudah gila. Kenapa menyukai orang yang sudah menikah.”
“Salah, ya ? Dosa ? Aku sudah yakin, jika aku ceritakan ini kamu hanya mengejekku seperti itu dan tidak membantuku.” Yuka kembali cemberut.
“Aku harus bantu apa, Yuka.”
“Aku tadi melihat cowok itu sedang buru-buru lewat depan toko kue di ujung jalan. Besok pagi sekitar jam 8 aku jemput kamu. Kita buntutin kemana cowok itu pergi.” Yuka semangat.
“Terserah kamu saja. Yang penting ada komisinya.” Misa mata duitan.
“Gampang.”

Akhirnya mereka sepakat untuk membuntuti kemana Kyo pergi. Yuka memang masih menyukai Kyo, bahkan lebih besar dari beberapa tahun yang lalu. Ketika Yuka mengetahui bahwa Kyo menikah, begitu hancurnya hati Yuka. Dia bahkan tidak pulang ke rumah selama 2 hari hanya untuk merenungi semua itu. Sebenarnya Kyo juga tahu, jika Yuka menyukainya. Karena memang setiap cewek yang menyukai Kyo lagak-lagaknya memang seperti Yuka. Memandanginya terus seperti bunga yang indah dan ingin sekali dipetiknya.

Keesokan harinya. Benar saja, ketika Yuka dan Misa menunggu Kyo lewat, Kyo pun lewat. Kali ini dia membawa koper. Mereka membuntutinya perlahan-lahan agar tidak ketahuan Kyo. Tapi karena Yuka terlalu berambisisu, maka semua itu terbongkar. Kyo melihat Yuka salah tingkah.

“Yuka, kok ada di sini ?” tanya Kyo, kalem.
“Iya, kak. Mau muter-muter daerah sini saja.” jawab Yuka gugup.
“Owh, ya silahkan saja, Ka.”
“Ngomong-ngomong, kenapa kakak bawa koper ke sini ?”tanya Yuka.
“Owh, aku mau pindahan rumah. Rumah yang dulu, kan masih rumah orangtuaku, jadi sekarang ini rumahku dan aku haris pindah ke sini.” jelas Kyo.
“Owh, begitu, ya. Ya sudah, kak, aku pergi dulu, ya,”
“Oke. Kapan-kapan mampir saja.” Kyo mempersilahkan.
Dengan gembira Yuka menjawab, “Yang benar !!?”
Misa mencubit Yuka, “Jaim!”
“Ya benar saja. Kalau mau berkunjung silahkan.” Kyo tersenyum.
“Baik, kak. Kapan-kapan aku pasti ke sini. Permisi.”

Yuka dan Misa pergi meninggalkan Kyo yang sebenarnya sedang sibuk membereskan rumah karena baru saja pindah rumah. Kyo tak tahu, apakah tindakannya malah memberikan harapan untuk Yuka atau tidak. Tidak bisa dipungkiri, Kyo sebenarnya senang dengan Yuka. Hanya senang, bukan suka. Karena dia selalu salting, narsis, dan yang pasti lucu. Entah apa yang dipikirkan Kyo, hingga dia melamun membayangkan keceriaan Yuka. Megumi datang mengagetkan.

“Kyo.” kata Megumi.
“Megumi. Maaf, tadi aku membayangkan betapa indahnya hari kita bertiga bersama Yukito di sini. Kamu senang ?” tanya Kyo.
“Di mana pun bersamammu aku senang, Kyo.”

Mereka begitu mesra. Tapi bayangan Yuka masih tersirat di dalam pikiran Kyo.

Keesokan harinya. Benar saja, Yuka berkunjung ke rumah Kyo dengan membawa boneka barbie untuk Yukito. Namun sayang, Kyo sedang tidak di rumah.

“Permisi.”
“Oh, iya. Ada yang bisa saya bantu ?” tanya Megumi dengan sopan. Terlihat cantik dengan pakaian berwarna kuning polkadotnya. Berambut panjang dan badannya begitu indah dipandang.
“Ech, kak Megumi, ya ?” tanya Yuka.
“Iya. Siapa, ya ?”
“Aku Yuka, kak. Adik keponakannya kak Kyo.” jawab Yuka, berbohong.
“Owhhh, ya. Masuk, Yuka.” Megumi mempersilahkan.

Yuka masuk di ruang tamu. Dojo yang indah dan mempesona, membuatnya betah berada di sana. Di tambah lagi jika ada Kyo. Megumi datang membawakan minuman dingin. Dengan menggendong Yukito, Megumi duduk di samping Yuka.

“Yukito, kakak punya sesuatu buatmu.” Yuka memang suka dengan bayi perempuan.
“Apa kakak.” jawab Megumi dengan suara seperti bayi.
“Taraaaa !!!”
“Wach, kenapa repot-repot, Yuka?” tanya Megumi.
“Ga' apa-apa, kak. Tenang saja. Ngomong-ngomong kak Kyo kemana ?” tanya Yuka.
“Baru mengurus surat pindahan. Nanti juga pulang. Ngomong-ngomong, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Kamu keponakan jauhnya Kyo ?” tanya Megumi.
“Emm... Iya, kak. Aku jauh dari sini. Waktu pernikahan kakak akujuga tidak datang karena tugas kuliah banyak sekali.” semakin jauh Yuka berbohong.
“Owh, ya sudah kalau begitu kamu main sama Yukito dulu, ya. Aku mau masak.” kata Megumi.

Beberapa jam kemudian, Kyo datang. Tapi Yuka malah ketiduran bersama dengan Yukito. Kyo tersenyum melihat Yuka tertidur. Begitu polos dan lucu. Hingga Kyo berniat ingin menyentuh pipi mungil Yuka. Tanggannya sudah hampir ke pipi Yuka, tinggal sedikit lagi, dan bahkan setengah sentimeter lagi. JENG JEEENNNGG !!! Jari-jarinya tergeletak manis di pipi Yuka yang lembut. Beberapa menit kemudian, Kyo tersadar, dia sudah berkeluarga, tak sepantasnya Kyo seperti itu. Kyo pergi ke teras depan rumah. Di sana dia malah menggerutu tidak jelas.

“Kenapa ini. Kenapa dengan hatiku. Yuka, Megumi. Kedua orang ini, kenapa di hatiku. Yuka, cewek kecil yang lucu, Megumi, istriku yang berbadan sexy. Tapi kenapa pikiranku melayang kepada Yuka. Jangan sampai aku menyukai Yuka. Dia masih kecil.” Kyo merasa hatinya aneh.
Megumi yang dari belanja kebutuhan datang menghampiri Kyo.

“Kenapa kamu pucat sekali ?” tanya Megumi.
“Mungkin terlalu capai.”
“Lebih baik kamu istirahat dulu.”
“Mungkin itu lebih baik. Aku istirahat dulu, ya.” Kyo masuk ke dalam, dilihatnya Yuka masih tertidur bersama Yukito.

Beberapa jam kemudian, Yuka terbangun karena Yukito menangis.Kyo juga terbangun karena tangisan Yukito. Ternyata Yukito kehausan, lalu Megumi memberinya asi di belakang rumah, sedangkan Yuka dan Kyo berbincang-bincang di teras.

“Kamu ke sini juga, Yuka ?” tanya Kyo.
“Iya, kak. Ingin bermain dengan Yukito.”
“Ingin bermain dengan Yukito atau bertemu aku?”
“Maksud kakak ?” Yuka terperangah.
“Aku tak tahu. Sebelumnya, aku minta maaf, ya, Yuka. Tadi sewaktu kamu tidur tanpa sadar aku menyentuh pipimu.”
Mendengar itu, Yuka malah senyum-senyum, “Mmm.. Ga' apa-apa, kak. Kenapa kita bisa sedekat ini, padahal kita tidak ada ikatan apapun ?” tanya Yuka.
“Hati yang bisa menjawab. Apapun itu, perlu kamu tahu, bahwa aku sesungguhnya............”
“Sesungguhnya apa, kak ?”
“Aku menyukaimu.” jawab Kyo membalikkan badannya membelakangi Yuka.

Yuka terperangah kaget. Apa ini, jantungnya berdegup kencang saat itu. Di tambah lagi Kyo bersandar di punggung Yuka. Kejadian yang seharusnya terjadi 3 tahun yang lalu, kenapa baru sekarang terjadi.

“Tapi aku sudah berkeluarga, aku sudah memiliki anak. Tak mungkin aku menyakiti anak dan istriku. Aku menyukaimu, tapi aku menyayangi Megumi dan Yukito. Jika aku bisa memutar waktu 2 tahun, atau bahkan 10 tahun yang lalu, pasti aku akan menjadikanmu istriku. Tapi aku benar-benar baru tersadar sekarang, Yuka. Aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Hatiku telah bercampur.”
“Kak, aku minta maaf jika sudah membuatmu seperti ini.” kata Yuka.
“Bukan salahmu, bukan salah siapa-siapa. Apakah kamu menyukaiku juga ?”
“Tepatnya 6 tahun yang lalu ketika aku SMP, kak. Aku menyukaimu selama 6 tahun terakhir ini. Aku juga tak tahu harus apa lagi. Pikiranku, hatiku, tubuhku hancur ketika tahu kakak sudah menikah. Aku bahkan gila dibuatnya. Tapi aku belum juga bisa melupakan kakak. Selalu ada dipikiranku.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Yuka ?” tanya Kyo.
“Aku harap, dengan bersama kakak selama-lamanya dan sedikit demi sedikit membuang perasaan ini aku bisa sedikit demi sedikit melupakan kakak. Satu inginku, aku ingin bersamamu, kak.”

Dengan cepat, Kyo memeluk Yuka. Yuka tercengang, baru pertama kali dipeluk, dipeluk oleh orang yang disukainya. Apapun itu, tidak akan pernah ia lupakan.
Hingga beberapa lama kemudian, Yuka hampir 80% melupakan Kyo. Mereka menjadi kakak dan adik yang selalu akur.

Selasa, 28 Agustus 2012

# CINTA RUMIT GINA #


Dia tahu ga' ya kalau aku suka sama dia. Aku ingin bersamanya, sehari saja. Walaupun sebenarnya itu ga' mungkin terjadi. Aku dan dia sudah memiliki jalan hidup masing-masing. Tapi aku menyukainya.

Begitulah tulisan tangan Gina di buku hariannya. Dia baru saja memulai menulis buku harian semenjak melihat Dewa, cowok yang sudah lama dia taksir. Gina naksir Dewa ketika Gina masih SMP. Dan sekarang Gina sudah bekerja di sebuah toko buku ternama di kotanya. Sebenarnya Dewa tahu jika Gina menyukainya. Tapi perbedaan umur yang terlalu jauh membuat Gina pasrah.

Pada suatu ketika. Saat itu Gina sedang jalan-jalan bersama dengan adiknya, Cecilya. Tak tahunya di sana ada juga Dewa, bersama seorang wanita.


Gina : “Cil, kamu tahu siapa cewek yang sama kak Dewa itu ?”
Cecil : “Lho, itu bukannya istrinya kak Dewa, kak ?”
Gina : “Double WHAT !! Istrinya ??” ( Gina kaget bukan main ).
Cecil : “Iya. Kakak, sih ga' tahu. Kak Dewa sudah punya istri, kak. Namanya kak Tami.”

Gina : “Kapan mereka menikah, Cil ?”
Cecil : “Ga' tahu aku, kak. Aku juga cuma di kasih tahu sama Icha.”

Gina : “Icha temenmu itu, ya ?”
Cecil : “Iya. Dia kan tetangga dekatnya kak Dewa, kak.”
Gina : “Jadiii... Jadi semua harapan aku selama ini sia-siaaa ???” ( Tak sadar dengan ucapannya. Pasalnya Gina harus menyembunyikan ketertarikannya pada Dewa ).

Cecil : “Harapan sia-sia, kak ? Kakak suka ya sama kak Dewa, hayooo ??”
Gina : “Sssttt, anak kecil sok tahu. Issshhh... Sudah yok, jalan lagi, Cil. Aku patah hati.”

Mengetahui itu Gina langsung mogok makan, mogok mandi bahkan mogok bekerja. Hingga ibunya masuk kamar Gina yang super berantakan karena patah hati.

Ibu : “Ya ampun, Gina. Kamu itu cewek. Kamar kayak kapal pecah gini.”
Gina : “Titanik juga tetep bagus walaupun pecah, bu.”

Ibu : “Kamu itu kenapa ??”
Gina : “Sakit, bu.”

Tiba-tiba datanglah Cecil mengganggu Gina.

Cecil : “Patah hati, bu !!”
Gina : “Apa, Lo !!”
Cecil : “Kak Gina patah hati, bu. Kemarin aku sama kak Gina ketemu kak Dewa di jalan. Kak Dewa bawa cewek, dan cewek itu istrinya. Kak Gina langsung patah hati. Hahahha !!!

Ibu : “Haduuuh, Gina. Kamu ada-ada saja.”
Gina : “Bukan ada-ada saja, bu. Memang ada. Ada perasaan sakit.”

Ibu : “Sudah sana mandi dulu. Kerja, kan ?”
Gina : “Aku mau mogok kerja, bu.”
Ibu : “Gin, Dewa sudah memiliki istri. Ga' mungkin kamu seperti ini gara-gara Dewa. Dia juga ga' akan memiliki istri 2. Apa kamu mau dijadikan istri keduanya ? Dewa juga tetangga kita. Ga' baik menikah dengan tetangga.”
Gina : “Istri kedua ?”
Cecil : “Istri ketiga dia juga mau, bu. Asal sama-sama sama kak Dewa dia sudah seneng.”
Gina : “Sekali lagi Lo bacot gue tabok.”
Ibu : “Malah berantem !! Cepet sana mandi, Gin. Nanti telat.”

Dengan rasa malas yang masih mengahantui, Gina menuju kamar mandi. Pikirnya tentang istri kedua, rasanya bagus juga.

Setibanya di tempat kerja Gina.

Gina : “Ira, aku mau tanya.”
Ira : “Apa ?”
Gina : “Dosa ga' ya kita menyukai cowok yang sudah punya istri ?”
Ira : “Ngggg.... Pertanyaan apa itu ?”
Gina : “Aku galau !!”
Ira : “Galau kenapa ? Biasanya kamu itu ceria setiap harinya.”
Gina : “Aku kasih tahu tapi jangan bilang sapa-sapa. Aku suka sama cowok yang sudah beristri, Ra. Dosa ga' itu ?”

Ira : “Hahahhahahha !!!”
Gina : “Malah ketawa.”
Ira : “Lucu aja, Gin. Hmmm.... Menurutku ga'. Selagi ga' merusak hubungan mereka saja.”
Gina : “Tapi kalau aku mau jadi istri keduanya, dosa ga' ?”
Ira : “Kamu sudah gila ? Setahuku, sitri kedua itu selalu dibenci istri pertama. Pasalnya kamu lebih muda daripada istri pertama, lebih cute-cute, nah, kalau si suami pergi kerja kamu bisa dibunuh. Mendingan jangan. Kayak ga' ada cowok lain saja.”
Gina : “Kamu ga' tahu, sih. Aku sudah memendam perasaan ini sejak SMP kelas 2. berapa tahun coba, sekarang aku sudah kerja gini.”
Ira : “Tapi, apa kamu memang benar-benar mau jadi istri keduanya ? Ga' takut dibunuh sama istri pertama ?”

Belum sempat menjawab, ada costumer yang datang ke kasir.

Dewa : “Permisi, saya mau mencari buku tentang ibu-ibu hamil di mana, ya ?”

Gina tahu bahwa itu Dewa, cowok beristri yang sudah dia sukai sejak SMP datang ke tempat kerjanya.
Dia kaget bukan main melihat Dewa datang. Lebih kaget lagi ketika Gina mendengar Dewa mencari buku tentang ibu-ibu hamil.

Gina : “Kak Dewa ?”
Dewa : “Eh, Gina. Kerja di sini ?”
Gina : “Iya, kak. Apa kabar ?” ( Mengulurkan tangannya berharap bisa menyentuh tangan Dewa ).
Dewa : “Baik. Wah, kalau tahu aku kerja di sini tadi aku nitip buku.” ( Menjabat tangan ).
Gina : “Ya, kan memang kita jarang ketemu, kak. Lagipula kakak sudah punya istri.”
Dewa : “Ya, itu benar. Oh iya, buku tentang ibu-ibu hamil di mana ?”
Gina : “Ikut aku, kak.”

Sebenarnya Gina patah hati lagi ketika Dewa mencari buku tentang ibu hamil. Berarti sebentar lagi Dewa sudah memiliki anak hasil dari pernikahan Dewa dengan istrinya. Tapi dia juga senang, berdua bersama Dewa mencari buku itu.

Gina : “Sudah berapa bulan kak kandungan istri kakak ?”
Dewa : “Baru 2 minggu, kok.”
Gina : “Semoga anaknya sehat, ya kak.”
Dewa : “Amin. Baru kamu lho yang mendoakan begitu.”
Gina : “Yang benar ?”

Dewa : “Iya. Oh, iya, pacarmu orang mana ??”
Gina : “Ga' punya pacar, kak aku. Ga' punya pacar tapi patah hati terus.”
Dewa : “Kok bisa ?”
Gina : “Memendam perasaan, kak. Sakit juga ternyata.”

Dewa : “Makanya, kalau kamu punya rasa sama orang ungkapin saja.”
Gina : “Maunya sih gitu. Tapi dia sudah memiliki....... .”

Dewa : “Pacar ?”
Gina : “Iya, kak. Kan ga' mungkin aku merebutnya. Padahal aku sudah memendam perasaan itu sejak SMP. Bayangkan, kak, berapa tahun coba.”
Dewa : “Tunggu putus aja. Hehhehhh...”
Gina : “Keburu jenggotan, kak aku. Tapi ga' mungkin juga mereka putus, soalnya sudah memiliki ikatan yang dalam lebih dari pacaran, kak.”
Dewa : “Kok jadi murung kamu ? Hmmm... Besok ikut aku mau ga' ?”
Gina : ( Dengan tanpa pikir panjang ). “Mau !!”

Dewa : “Ha ??”
Gina : “Ech, kemana, kak ?”
Dewa : “Jalan-jalan. Sekalian lihat-lihat baju bayi.”
Gina : “Istri kakak ?”
Dewa : “Ga' apa-apa. Kalau mau nanti aku datang ke rumahmu.”
Gina : “Ya sudah, aku mau.”

Keesokan harinya di rumah Gina. Gina dandan cantik banget.

Cecil : “Mau ke mana, kak kok cantik?”

Gina : “Diajak jalan sama kak Dewa. Wleeekk !!!”
Cecil : ( Heran ). “Hah, kok bisa, kak ?”
Gina : “Bisa, dong. Calon sitri kedua, nich.” ( Bangga ).
Cecil : “Kubilangin ibu baru tahu rasa.”
Gina : “Bialngin aja.”

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Gina. Dengan cepat Gina langsung membukakan pintu, ternyata memang Dewa. Tapi mereka tak langsung pergi. Mereka ngobrol-ngobrol dulu di rumah Gina.


Cecil : “Kak Dewa, kak Dewa mau menjadikan kak Gina istri kedua, ya ?”
Dewa : “Ha ? Maksudnya ?”
Gina : “Berisik amat, Lo, Cil. Udah diem napa.”
Cecil : “Kak Dewa, jawab dulu.”
Dewa : “Istri kedua apaan, Cil ?”
Gina : “Sudah, kak, ga usah digubris. Pergi sekarang saja, yok.”
Dewa : “Ya sudah, ayo.”

Mereka pergi juga. Jalan-jalan ke sana kemari. Padahal hari itu cuaca sangat panas. Apapun cuacanya, jika di dekat Dewa rasanya sejuk, batin Gina. Hingga mereka pada pemberhentian untuk makan di senuah restoutant.


Dewa : “Gin, boleh tanya ?”
Gina : “Boleh banget, kak. Apa ?”
Dewa : “Maksud adikmu tadi bilang istri kedua apa, ya ?”
Gina : “Hahha... Cuma Cecil aja digubris, kak. Sudah, dia memang suka ngawur gitu.”
Dewa : “Ga', Gin. Aku Serius !” ( Dengan nada kasar ).
Gina : ( Tercengang ). “Kakak....?”
Dewa : “Apa maksud perkataan adikmu tadi ?”
Gina : “Mmm...” ( Menundukkan kepala ).

Dewa : “Apa yang kamu ceritakan di toko kemarin adalah aku ? Apa kamu yang suka sama aku sejak SMP ? Apa kamu berharap menjadi istri keduaku ?”
Gina : “Mmmm....”
Dewa : “Jawab Gina. Aku ga' akan marah.”
Gina : “Iya, kak. Cowok yang aku suka sejak SMP ya kamu. Tapi aku tahu, tetanggan ga' boleh menikah. Boleh sih, tapi aneh aja. Terus umur kita juga selisihnya terlalu jauh. Aku juga waktu itu masih sekolah. Dan ga' mungkin juga aku bilang ke kakak kalau aku suka kakak. Aku takut kalau kakak malah menjauhiku. Dan soal istri kedua, aku hanya kepikiran aja, kak. Ga' berharap kok.”

Dewa : “Rumit. Aku ga' tahu harus gimana, Gin. Aku dulu juga tahu, nich anak kenapa ngeliatin aku terus, batinku begitu. Ternyata memang kamu dulu sudah menyukaiku, Gin ?”
Gina : “Iya. Tapi tenang saja, kak. Aku sudah lega kalau sudah bilang. Dan sekarang aku lega, meskipun sakit juga. Dan aku janji, aku ga' akan mengganggu hubungan kakak.”
Dewa : “Aku tahu kamu sakit banget. Lebih baik kita jadi kakak adik saja, gimana ? Aku janji kalau ada apa-apa aku hubungi kamu.”
Gina : “Aku takut istri kakak.”
Dewa : “Tenang aja. Kubilang kamu keponakanku.”
Gina : “Berbohong pada istri dosa, kan , kak ?”
Dewa : “Aku berbohong. Kamu keponakan jauhku. Hehhe....”
Gina : ( Tersenyum ). “Aku mau, kak.”

Begitulah kerumitan cinta Gina. Tapi indah di akhir walaupun Gina masih sedikit sakit hati.

Jumat, 22 Juni 2012

# SAAT KAU PERGI #


Maya, gadis manis nan pintar, namun sayang, dia tergolong siswi yang kurang mampu. Ayahnya bekerja sebagai tukang buah, dan ibunya berjualan gorengan. Tapi, dia memiliki sahabat yang baik padanya, Kiki dan Ira. Mereka bersahabat dari kelas 1 sampai sekarang.

Pada suatu hari, kelasnya kedatangan siswa baru. Cowok keren, kaya, tapi sombong. Cowok itu bernama Aditya. Dia benar-benar sombong, maklum saja, dia anak orang kaya. Namun dia sama sekali tidak memiliki teman, makanya Aditya pindah sekolah.

Suatu hari ketika jam istirahat. Maya, Kiki dan Ira berencana berkenalan dengan Aditya. Sebenarnya Mayalah yang ingin berkenalan, namun karena Maya malu, dia meminta Kiki dan Ira untuk menemaninya.

Maya : “Hai, Aditya.”
Aditya : “Hai.”
Kiki : “Singkat banget, Dit. Oh, iya, Adit, kami boleh duduk sini ?”
Aditya : “Nama guwe Aditya, bukan Adit.”
Kiki : “Biar akrab dan mudah diingat, Dit.”
Aditya : “Tapi nama guwe Aditya.”
Ira : “Ya ampun, cuma kurang ya gitu aja sewot.”
Aditya : “Itu nama. Penuh arti.”

Tapi tiba-tiba Aditya mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah bungkusan kecil berbungkus kertas putih. Aditya menelannya. Maya curiga, apa itu.

Maya : “Kamu makan apa, Dit ?”
Aditya : “Obat.”
Maya : “Kamu sakit ?”
Aditya : “Bukan urusan lo! Sebenarnya, kalian mau apa !”
Ira : “Mau temenan sama kamulah, Dit. Apalagi ?”
Aditya : “Teman ? Ga' salah ? Asal kalian tahu saja, guwe ga' butuh apa itu yang namanya teman. Apakah mereka ada di saat aku butuh ?? Mereka lari meninggalkan guwe yang sakit ini ! Mereka pecundang.”
Maya : “Jadi kamu beneran sakit, Dit ?”
Aditya : “Kalau iya kenapa ? Menyesal memohon-mohon berteman dengan guwe ?!”
Maya : “Asal kamu tahu juga, Dit. Aku ga' pernah menyesal berteman dengan siapa-siapa. Dan aku tahu penderitaanmu. Aku paham! Kamu jangan salah mengartikan teman. Ga' semua teman begitu. Dan aku janji, jika aku bisa berteman denganmu, aku akan selalu ada di saat kamu butuh, Dit. Kamu bisa pegang janjiku.”
Kiki : “Aku juga mau, asal kamu ga' blagu saja, Dit.”
Ira : “Aku juga deh.”
Aditya : “Dengar, lebih baik kalian pergi saja. Kalian hanya mengganggu ketenangan guwe. Peduli apa kalian. Kalian, kan baru kenal guwe.”
Kiki : “Kamu jadi orang keterlaluan banget, ya, Dit. Kami datang ke sini baik-baik, dengan maksud ingin menambah teman. Baru kali ini ada orang blagu kayak kamu.”
Aditya : “Siapa suruh ke sini.”
Maya : “Oke, Dit. Kami akan pergi. Maaf mengganggu.”
Aditya : “Sana jauh-jauh.”

Maya, Kiki dan Ira pergi meninggalkan Aditya. Maklum saja, Aditya trauma memiliki teman. Pasalnya teman-temannya dulu selalu memanfaatkan kekayaan Aditya, tapi ketika Aditya membutuhkan teman-temannya, mereka pergi. Aditya memiliki penyakit jantung yang sewaktu-waktu bisa membunuhnya.

Kiki : “Ah, nyesel aku ngobrol sama dia, May, Ra. Blagu gitu.”
Maya : “Jangan gitu. Itu artinya kita dapat tantangan. Dulu-dulu, kan kita selalu berhasil mendapatkan seorang teman dengan mudahnya. Nah, sekarang kita dapat misi, nih.”
Ira : “Misi dari Tuhan, ya, May ??”
Maya : “Ya bisa dibilang gitu, Ra. Gimana, kalian masih mau, kan menjalankan misi ini? Mau ya... Pleaseee....”
Kiki : “Kayaknya maksa banget, kamu. Suka, ya sama Aditya si blagu itu ?”
Ira : “What !! Kamu suka sama Aditya, May ?? Wach, baru kenal, lho, May. Kamu itu, ah.”
Maya : “Yeee, kalian apa-apaan, sih. Aku cuma mau temenan doang.”
Kiki : “Hmmm, ya, deh. Aku mau, kok, May.”
Ira : “Aku juga, May.”
Maya : “Ship. Gitu, dong.”

Sedangkan Aditya juga malah membayangkan Maya. Baru pertama kali ada cewek yang memaksanya berteman dengannya. Padahal, Maya belum tahu apa-apa tentangnya.

Aditya : “Baru pertama kali, nemu cewek yang maksa banget temenan. Siapa, ya, namanya. Tadi ga' sempat kenalan. Tapi, males juga minta kenalan. Suatu hari nanti, pasti guwe tahu namanya. Tapi apa dia benar-benar iklas berteman dengan guwe? Dia belum tahu kalau guwe sakit.”

Satu bulan telah berlalu. Tapi Aditya belum juga mau berteman dengan Maya. Hingga suatu ketika, guru IPA-nya memberikan tugas kelompok dua orang, terpilihlah Aditya untuk berkelompok dengan Maya.

Aditya : “Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang ?”
Maya : “Kita mencari definisinya. Oh iya, Dit, aku minta maaf sebelumnya, jika aku ingin tahu tentangmu. Kamu sakit, ya ?”
Aditya : “Kita, kan mau nyelesein tugas. Bukannya ingin tahu tentangku.”
Maya : “Tapi, Dit...” ( belum sempat menyelesaikan perkataannya ).
Aditya : “Suatu hari nanti lo juga bakal tahu. Orangtua guwe saja ga' tahu.”
Maya : “Orangtuamu ga' tahu ?”
Aditya : “Iya. Mereka selalu pergi keluar kota. Biasa, bisnis. Makanya, jangan paksa guwe untuk memberitahukannya. Guwe pasti bilang, kok.”
Maya : “Ya, baiklah. Tapi aku kawatir, Dit. Kamu kadang-kadang pucat.”
Aditya : “Kawatir ?”
Maya : “Iya. Tapi, aku ga' tahu, kenapa aku bisa kawatir padamu.”
Aditya : “Lo suka sama guwe, ya, May ?”
Maya : “Yeee, ga' lah. Jangan GR.”
Aditya : “Sebaiknya lo jangan pernah suka sama guwe. Guwe ga' mau lo menyesal di kemudian hari. Guwe tahu, lo bakal menyesal.”
Maya : “Aku, kan pernah bilang, Dit. Aku ga' pernah menyesal. Penyesalan hanya membuang- buang waktu dan sangat merugikan diri sendiri.”
Aditya : “Jangan bijak bicara sama guwe. Tapi intinya, jangan pernah suka sama guwe, ya.”
Maya : “Iya, Dit. Tapi jika kamu butuh aku, hubungi aku saja, ya. Nih, nomor Hpku.”
Aditya : “Lhoh,,, Lo kok perhatian, May ?”
Maya : “Iya, aku kan pengen jadi temanmu.”
Aditya : “Makasih nomor Hpnya, ya. Mmmm... May, aku mau... mau kok jadi temenmu.”
Maya : “Ha ??!! Yang benar ?? Waaa, makasih, ya, Dit.”

Tanpa sadar dan saking senangnya, Maya langsung memeluk Aditya erat. Beberapa menit kemudian, Maya tersadar, dan segera melepas pelukannya. Sedangkan Aditya kaget. Maya benar-benar berbeda dengan cewek lain yang pernah dia temui. Dari situlah, ada benih-benih cinta dalam hati Aditya. Mungkinkah dia jatuh cinta kepada Maya, pikirnya begitu.

Bebrapa bulan kemudian, sudah 3 hari Aditya tidak masuk sekolah. Maya mencaritahu, apa yang terjadi pada Aditya. Di hubunginya nomor telvon Aditya tapi tidak aktif. Hingga pada suatu hari, di bangku Maya ada sebuah kotak. Dibukanya, dan bilihatnya ada boneka yang bisa berbicara jika dipencet tombolnya, dan ada pula sepucuk surat. Ternyata itu dari Aditya. Maya membaca surat itu, seakan-akan Aditya yang membacanya.

Aditya : “Maya, kini aku tahu, apa arti teman itu. Makasih atas semuanya, ya, May. Aku belum pernah bertemu cewek sepertimu, aku juga belum pernah merasa senang setelah kamu peluk. Rasanya hangat dan nyaman. Jika aku masih bisa bertemu denganmu lagi, aku yang akan memelukmu. Sejujurnya, aku mulai suka padamu, May setelah kejadian itu. Tapi, aku juga ga' mau kamu menyesal. Aku sakit, dan ga' akan bisa membahagiakanmu. Oh iya, itu ada kenang-kenangan dariku. Karena aku tahu, aku ga' akan bisa memberikan lebih dari itu. Ga' seberapa berharganya mungkin, dibandingkan semua pengorbananmu kepadaku. Ingatlah aku selalu, May. Sekali lagi makasih, ya.”
Maya : ( menangis ) “Aditya... Aditya !!!!”

Seisi kelas kaget mendengar teriakan Maya yang memanggil Aditya. Kiki yang sedang asik facebookan pun bertanya-tanya.

Kiki : “Maya, kamu kenapa ??”
Maya : “Aditya, Ki. Aditya...”
Kiki : “Dia kenapa, May ??
Maya : “Ki, ayo ke rumah sakit.”
Kiki : “Hey, bel masuk sudah mau bunyi.”
Maya : “Aku mau ijin, Ki.”

Maya pergi ke ruang BP untuk ijin. Dan akhirnya guru BP mengijinkannya. Kiki juga mengikuti Maya, sedangkan Ira dia tidak ikut.
Tiba di rumah sakit. Dicarinya ruangan Aditya, tapi tak ketemu juga. Hingga Kiki melihat kedua orangtuanya, lalu Maya dan Kiki menghampirinya. Di sana juga ada orangtua Aditnya.

Kiki : “Siapa yang sakit, Ma, Pa ?”
Mama : “Aditya, Ki. Teman sekelasmu yang baru pindah itu.”
Maya : “Aditya, Tante ??”
Mama : “Iya, May. Daritadi dia memanggil-manggil namamu.”
Dokter : “Lebih baik yang bernama Maya masuk ke dalam.”
Maya : “Baik, Dok.” ( Maya masuk ke dalam ) “Aditya....”
Aditya : “Maya ? Kamu sudah baca suratku ?”
Maya : “Iya. Aku sudah baca semuanya, Dit. Dan perlu kamu tahu, aku sama sekali ga' pernah menyesal telah mengenalmu. Percayalah padaku, Dit. Aku suka sama kamu. Aku ingin kamu bertahan melawan sakitmu. Aku ingin kamu sembuh. Aku ingin kamu tetap hidup dan menikmati hari-hari yang indah ini bersamaku.” ( menangis ).
Aditya : “Tapi aku harus segera pergi, May. Hari-hari yang indah telah aku alami selama aku berkenalan denganmu. Terimakasih, May. Aku harus pergi. Maya, aku... aku.... suka padamu.”

Ketika itu pula, Aditya meninggal. Semua orang yang ada di situ pun menangis.

Maya : “Aku ga' pernah menyesal telah mengenalmu, Dit !!!!!”

Satu bulan telah berlalu. Boneka pemberian Aditya pun diberi nama sesuai dengan nama si pemberi. Karena dia ingat satu kata yang pernah diucap Aditya, “nama itu penuh arti.”