Gaara Transforms Into Tree Stump - Naruto

Selasa, 26 Maret 2013

# GIA KE GIO #

Sebut saja namanya Gia, perempuan ini sedang mengalami kesulitan ekonomi di keluarganya. Karena itu, Gia merubah penampilannya menjadi laki-laki. Walaupun dari luar dia tampak laki-laki, namun perasaan cintanya sama seperti perempuan, karena dia memang perempuan. Tubuhnya yang mungil dan kecil seringkali membuat orang lain heran, apakah dia perempuan atau laki-laki. Dia memotong rambutnya pendek sekali menyerupai laki-laki pada umumnya. Memakai pakaian yang ala kadarnya dan terkadang bersikap benar-benar seperti laki-laki.

Pada suatu hari ketika dia sedang mencari pekerjaan. Tiba-tiba saja dari kejauhan ada suara klakson mobil keras sekali mengagetkan Gia. Dia hampir saja tertabrak. Keluarlah Sang Pangeran dari dalam mobilnya.

Deka : “Mas, kalau mau menyebrang lihat-lihat, dong. Kalau tidak bisa menyeberang, minta bantuan orang lain !”
Gia : “Oh, maaf. Maaf.”
Deka : “Tapi tidak ada yang luka, kan ?”
Gia : “Tidak, kok. Tenang saja. Hanya kaget saja.”
Deka : “Untung Anda laki-laki, kalau perempuan pasti kuantarkan ke rumah sakit.”
Gia : “Saya perempuan mas.”
Deka : “Hey, saya tidak buta. Anda itu laki-laki.”
Gia : ( tersadar jika dirinya berpenampilan laki-laki ) “Hehhe.. Maksudnya biar mas nya tidak marah dan kita bisa jadi akrab begitu.”
Deka : “Oh.. Oh iya, kita belum berkenalan. Anda siapa ?”
Gia : “Saya Gi.....” . “Gio.”
Deka : “Saya Deka. Kamu sedang apa, Gio, kok sepertinya kamu sedang mencari pekerjaan ?”
Gia : “Iya. Aku sedang mencari pekerjaan, nih. Susah. Sudah 2 hari ini belum dapat pekerjaan.”
Deka : “Kebetulan, tokoku sedang membutuhkan karyawan laki-laki. Jika kamu mau, ayo ikut aku.”
Gia : “Pekerjaan apapun akan aku lakukan yang penting halal.”
Deka : “Oke. Ayo ikut aku.”

Tanpa ragu Gia ikut dengan Deka. Selain karena sedang mencari pekerjaan, diam-diam Gia suka dengan Deka karena Deka tampan, dan yang pasti kaya.
Sesampainya di toko milik Deka, Gia terperangah. Toko alat-alat bengkel. Apa-apaan ini, apakah dia bisa bekerja di sini. Dia bukan anak laki-laki yang mengerti alat-alat bengkel.

Gia : “Deka, ini tokomu ?”
Deka : “Iya. Memangnya kenapa ? Kamu tidak mau bekerja di sini, ya ?”
Gia : “Apa aku bisa bekerja di sini, Ka ? Aku tidak mengerti apa-apa tentang ini semua.”
Deka : “Apa maksudmu ? Sebagai lelaki, masa' kamu tidak tahu.”
Gia : “Iya juga sih. Tapi....”
Deka : “Jika kamu tidak tahu, tanyakan padaku. Aku selalu di sini, kok.”
Gia : “Iya sudah, jadi hari ini aku langsung bekerja ?”
Deka : “Yap.”

Saking senangnya mendapatkan pekerjaan, tak sadar Gia memeluk Deka. Beberapa menit kemudian, Gia sadar dan malu telah memeluk Deka.

Jam 12 siang waktunya makan siang. Gia lupa bawa bekal makannya, dan akhirnya Deka mengajaknya makan di restoran. Karena kelaparan, Gia makan dengan cepat dan banyak sekali hingga mulutnya penuh makanan.

Deka : “Kamu kelaparan, Gio ?”
Gia : “Hehhe, habisnya belum pernah aku makan enak seperti ini. Ini enak sekali, Deka. Sering-sering saja seperti ini, ya. Hehehhe.”
Deka : “Hehhe.. Tenang saja. Jika kamu rajin bekerja pasti akan aku traktir kamu.”
Gia : “Yes. Makan dulu yok. Lapar nih.”

Esok harinya Gia lupa arah toko Deka, sedangkan kali ini dia mengendarai sepeda motor butut milik ayahnya. Tiba-tiba dia melihat mobil Deka, di sana ada perempuan yang sedang bediri di dekat mobil Deka.

Gia : “Itu kan mobilnya Deka. Jangan-jangan Deka sudah punya pacar ? Wach, kalau begini caranya pupus sudah harapanku. Aku berdandan laki-laki seperti ini hanya semata-mata ingin mendapatkan pekerjaan, tapi jika sudah lihat yang bening-bening seperti Deka ya aku tidak bisa nolak. Tapi siapa ya wanita itu.”

Tiba-tiba Deka datang dan mencium pipi wanita itu. Pikir Gia mungkin memang dia pacar Deka. Dia mengikuti dari belakang, dan sampailah ke toko Deka.

Deka : “Hey, Gio. Kamu hafal jalan, ya ?”
Gia : “Lupa-lupa sedikit, hehheheh.”
Deka : “Hahha. Oh iya, kenalkan ini Masya, dia baru saja pulang dari Belanda.”
Masya : “Masya. Kamu ini laki-laki atau perempuan ? Kok tubuhmu mungil sekali.”
Gia : “Aku laki-laki. Mana mungkin aku bekerja di sini jika aku perempuan.”
Deka : “Iya, Sya. Dulu aku juga pernah berfikir jika dia ini perempyan, tapi ternyata memang laki-laki. Lihat, dandanannya saja laki-laki sekali.”
Gia : “Apa yang dikatakan Deka benar. Mungkin karena aku kurang gizi jadi mungil.”
Deka : “Gio ini memang suka melucu. Ayo masuk.”

Mereka masuk dan mulai bekerja. Ketika Gia ke belakang untuk membuang sampah, tak diduga Masya mengikuti, dia merasa curiga dengan Gia. Wajahnya perempuan sekali, kulitnya mulus, tapi pakaian dan cara berjalannya laki-laki sekali.

Gia : “Jangan-jangan Masya curiga denganku. Aduh, jika seperti ini aku harus jaga jarak dengan Masya. Kalau tidak bisa-bisa aku ketahuan. Lalu, apakah Masya itu kekasihnya Deka?”

Masya : “Oh, jadi kamu ini memang perempuan ?”
Gia : “Hah ? Masya ?”
Masya : “Kenapa ? Kok kaget seperti itu ? Takut ya jika kulaporkan pada Deka ? Kamu akan dipecat, dan harus mencari pekerjaan lagi. Iya kan ?”
Gia : “Masya, aku mohon. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jangan bilang pada Deka.”
Masya : “So ?”

Masya meninggalkan Gia yang takut dan was-was jika Deka memecatnya. Selain itu juga pasti Deka sangat membenci Gia. Akhirnya Gia menyusul ke ruang Deka. Di sana Masya sudah menceritakan semuanya. Wajah Deka wajah marah.

Masya : “Tak punya malu.”
Gia : “Deka, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku benar-benar menyesal. Aku mohon jangan pecat aku. Aku berpenampilan laki-laki juga agar mudah mendapatkan pekerjaan. Aku sangat butuh pekerjaan ini. Aku buka Gio, tapi Gia. Aku dulu juga sudah bilang, kan, jika aku perempuan, tapi kamu tidak percaya.”
Deka : “Sudah selesai pidatonya ? Sekarang kemasi barangmu, dan jangan pernah menginjakkan kaki di tokoku ini.”
Gia : “Deka ??” ( airmatanya mulai keluar )
Masya : “Rasakan itu !!”
Deka : “Ayo cepat !!!” ( menggebrak meja )

Dengan sedih, Gia meninggalkan toko itu. Dia benar-benar dipecat. Sedangkan Masya malah genit menggoda Deka.

Masya : “Kamu memang tegas sekali, Deka. Berani memecat karyawanmu. Siapa dia hingga dia bisa bekerja di sini. Kamu juga jangan sembarangan menerima karyawan.”
Deka : “Kamu ini crewet sekali, Sya. Diam !!”

Ternyata Deka juga sedih memecat Gia. Baru kali ini dia bertemu dengan Gia yang berjuang demi hidupnya. Tapi Deka malah memecat Gia yang memang membutuhkan pekerjaan itu. Hari demi hari Deka tidak bisa melupakan kelucuan, kekonyolan, kekuatan, dan keceriaan Gia. Dia rindu kepada Gia. Akhirnya Deka memutuskan untuk mencari Gia dan menyatakan cinta pada Gia. Tapi dicarinya kesana kesini tak ketemu juga. Deka putus asa. Tiba-tiba ada yang usil melempari Deka dengan kerikil kecil. Ternyata Gia. Kali ini Gia berpenampilan perempuan. Rambutnya sedikit mulai panjang.

Deka : “Gia !!!”
Gia : “Hehhe.. kenapa sendirian di situ ?”
Deka : “Aku mencarimu.”
Gia : “Mencariku ?”
Deka : “Iya. Aku rindu padamu.”
Gia : “Aku ini laki-laki. Masa' jeruk makan jeruk.”
Deka : “Tidak, kamu ini perempuan yang manis dan cantik. Gia, kamu mau tidak menjadi kekasihku ? Aku tidka bisa tidur jika tak melihat senyummu.”
Gia : “Hyperbola, kamu.”
Deka : “Apa kamu tidak suka denganku, Gia ?”
Gia : “Deka Deka, mana ada sih perempuan yang mau menolakmu.”
Deka : “Jadi kamu menerima cintaku ?”

Gia mengangguk. Deka memeluk Gia karena saking senangnya. Jadi kali ini mereka benar-benar pacaran. Gia mendapatkan pekerjaan yang semestinya untuk perempuan, dan Deka membuka cabang baru. Sedangkan Masya kembali ke Belanda.

Tidak ada komentar: